Saat cahaya matahari masih setia untuk bersinar, saat sayupan angin
senantiasa berhembus,saat itu pula aku merasa bahwa aku tak pernah menjadi
sosok yang pantas untuk diperhatikan. Pandangan itu selalu aku temui sejak aku
duduk kelas 6 SD. Tatapan yang mengisyaratkan ketidaksukaan mereka terhadap
diriku. Seperti ada penilaian yang negatif dari diriku dalam benak mereka.
Bukan maksud untuk suudzon namun inilah kenyataannya inilah fakta yang aku
terima. Namun aku hanya mampu menganggap itu semua sebagai motivasiku agar bisa
lebih baik dan membuktikan bahwa pandangan itu salah jika dilontarkan untuk
diriku. Aku senantiasa berusaha untuk menjadi seorang teman sahabat yang baik
untuk para teman dan sahabatku. Namun aku selalu merasa bahwa mereka hanya
memerlukanku disaat mereka butuh saja. Mereka mau berbagi cerita disaat mereka
benar-benar kesepian. Aku seperti patung yang hanya mampu diam tanpa sepatah
katapun disaat mereka berkumpul dengan yang kawan yang mereka akrabi. Sebenarnya
bukan niat aku untuk mengeluh atau tidak mau mensyukuri yang ada, hanya saja
aku tidak pernah abis fikir dengan apa yang mereka lakukan. Akupun mencoba
mengambil sisi positifnya agar aku tak merasa bahwa aku tersakiti. Aku masih
punya Allah yang selalu setia dengan aku dimanapun kapanpun dan dalam keadaan
apapun Dia selalu membantu aku. Aku hanya mampu berserah diri kepadanya untuk
semua apa yang aku alami. Aku mencoba menerima dan menjadikan itu semua sebagai
pelajaran hidupku untuk bisa lebih dewasa dalam menghadapi permasalahan apapun.
Aku bersyukur sekarangpun aku memiliki banyak teman meski tak seperti
yang aku harapakan. Aku bangga menjadi seorang pendengar meski aku tak pernah
untuk didengar. Aku bangga menjadi penasehat pemecah masalah meski terkadang
nasehat yang aku inginkan tak pernah ada. Aku bangga bisa meringankan beban
mereka meski mereka selalu memberatkan bebanku dan akupun bangga bisa membuat
seseorang tertawa lepas karena bahagia meski sebenarnya hatiku tengah menangis
karena luka yang senantiasa aku pendam sehingga membuatku terbiasa menyimpan
segala permasalahan itu sendiri. Aku enjoy dengan hidupku saat ini aku mencoba
menerima dan mengikhlaskan semua. Selayaknya kakak seniorku bilang bahwa apapun
yang terjadi telah diatur oleh yang di Atas. Walau kita berbeda keyakinan namun
ketaatan dia memotivasiku untuk tidak pernah melupakan Allah diamanapun
kapanpun apapun yang terjadi.
Jujur memang aku mengharapkan dia untuk hadir dalam sepinya hati ini.
Namun pengharapanku terlalu tinggi, keinginanku terlalu berlebihan. Akupun
mencoba untuk mencintai ataupun cukup untuk mengidolakannya saja tanpa harus
berniat untuk memilikinya. Akupun bersadar diri aku hanyalah selayaknya seekor
itik kecil yang sangatlah tak ada keistimewaannya sama sekali. Bukan maksud
untuk merendah ataupu tak mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah, namun
mencintai atau bahkan mengharapkan dia mampu menjadi pendampingkupun suatu hal
yang mustahil. Dia ganteng,tinggi,putih,sangat perfectcionis dihadapan para
perempuan pada umumnya. Tak mungkin juga jika dia mencintaiku karena diluar
sana masih sangat banyak wanita yang cantik dan mampu mengimbangi
ketampanannya. Akupun yakin ini perasaan hanyalah untuk sementara setelah ia
lulus nanti ku rasa perasaan ini akan dengan sendirinya hilang. Sebuah
keajaiiban meski ia hanya mengirim dindingku untuk mengucapkan selamat ulang
tahun kelak. Tetapi aku berusaha mengubur serpihan-serpihan harapan itu yang
takakan pernah menjadi kenyataan. Kinipun meski hanya mampu melihatnya dari
kejauhan dan memandangi fotonyapun aku sangat merasa bahagia tanpa harus bisa
kenal akrab dengan dirinya.
Terkadang aku sangat iri dengan teman-temanku yang lainnya bisa akrab
dengan seseorang yang mereka idolakan. Malahan ada temanku yang bisa jadian
dengan sang idola itu. Tetapi akupun berfikir ulang, “pantas tidak aku sama mas
drajat” seperti namanya dia sangat memiliki drajat yang tinggi yang tak pernah
aku bisa menjangkaunya. Kini aku harus terima jika memang akan ada gadis yang
akan memilikinya tapi bukan AKU J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar