Gadis kecil berkulit sawo matang mata sipit wajah yang mulus rambut yang
panjang menambah keanggunannya dalam melangkah. Suara yang halus sikap sopan
menambah kesan positif dalam dirinya. Dia hanyalah seorang pendiam yang dari SD
SMP menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Hanya mampu terdiam menerima segala
cacian yang dilontarkan kepadanya. Terdiam sendiri di sudut sempit meratapi
kisah hidupnya yang selalu menjadi bahan ejekan. Namun segalanya berubah
sangatlah drastis disaat dia duduk di SMA mulai mengenal arti cinta mulai
mempunyai teman dari berbagai latar belakang yang berbeda mulai mengerti
akibatnya yang hanya menerima segala ejekan. Kini dirinya telah menjadi seorang
gadis yang liar dan gadis yang hidup tanpa adanya aturan. Dirinya kini telah
terbebaskan dari jeratan orang tua, kini dia telah diberi kebebasan untuk
bergaul dan kini semuanya tidak terkontrol.
Gadis kecil yang polos,
sopan dan pendiam kini menjadi seorang gadis yang garang. Kini dia telah
terjerumus pada pergaulan yang salah. Kini dia menjadi bahan pembicaraan banyak
orang. Kini dia benar-benar menjadi cacian banyak orang. Sakit hati memang
sangat nampak pada diri gadis itu namun apa daya dirinya, dia terlanjur masuk
dalam lembah yang tak pernah dikira oleh banyak orang sebelumnya. Kini dia
benar-benar hanya sendiri, sekarangpun orang tuanya tak lagi perduli pada
kehidupan dia. Kini masa depan yang telah tertata rapi berubah menjadi berantak
seiring dengan masuknya sang gadis kecil dalam jurang yang menyesatkan.
Sangat disayangkan
banyak orang, gadis anggun nan sopan kini tak lagi dikenal gadis yang sopan.
Semua pujian kini berubah menjadi cacian. Tak mampu ia menghindar lagi dari
masalah ini. Dia terlanjur terjun dalam permasalahan ini dan iapun harus
menanggung risikonya. Kebahagiaan yang didapatkan hanyalah bersifat sementara.
Hanya berada dalam pertengahan kehidupannya saja ia merasakan kebahagiaan
dimana ia mampu mengenal namanya cinta persahabatnan pergaulan. Akan tetapi ia
salah memilih cinta persahabatan dan pergaulan. Kini sang gadis bermula dengan
cacian iapun diakhiri dengan cacian pula. Tak ada rencana dalam hidup dirinya
akan menjadi seorang yang selalu dicaci dalam hidupnya. Masa depannya kini
telah pupus. Penyesalan yang ada dalam diri sang gadispun tiada gunanya karena
semua telah terjadi. Penyesalan air mata keluh kesah tak mampu mengembalikan
semuanya seperti sedia kala. Kini sang gadis menjalani hidup tanpa hadirnya
orang tua disisinya. Kini ia hanya bertopang hidup pada sebuah rumah nan sempit
bak gubuk yang reot. Dia tinggal bersama lelaki yang sangat ia cintai. Mereka
berdua menjalani hidup penuh dengan penyesalan meski sebenarnya mereka senang
karena mampu bersama untuk selamanya. Kini segala sesuatunya mereka tanggung
bersama. Meski kehidupan dulu dan sekarang sangat berbeda, merekapun mencoba
untuk tabah dalam menghadapi semuanya tak peduli dengan ocehan ataupun cacian
yang dilontarkan pada mereka. Meraka hanya ingin hidup lebih baik lagi bersama
kekasih tercinta dan anak dari hasil buah cinta mereka. Senyuman selalu
terlukis dalam wajah mereka berdua menutupi kesedihan yang mereka alami.
Merekapun mencoba menatap masa depan sang anak untuk lebih gemilang
dibandingkan dengan kisah orang tuanya yang sangatlah ironis.
Meski mereka salah,
namun merekapun masih memiliki harapan nan indah demi perbaiakan dirinya di
masa lampau. Kenangan yang buruk memang sepatutnya untuk dikubur dalam-dalam
dan dijadikan suatu pelajaran untuk masa depan yang lebih baik lagi. Penyesalan
memang perlu karena dengan adanya penyesalan kitapun mampu untuk menjadi insan
yang lebih baik. Setidaknya dengan adanya penyesalan itu akan muncul sikap
kehati-hatian dalam bertindak. Memandang ke belakang sebagai pelajaran dan
memandang ke depan untuk semangat demi pencapaian masa depan. Mereka kini mampu
tersenyum lega dan merekapun saling membantu untuk pemenuhan hidup yang serba
kekurangan demi membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu mencapai kesuksesan
yang telah tertunda. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar