Selasa, 18 Juni 2013


Gadis kecil berkulit sawo matang mata sipit wajah yang mulus rambut yang panjang menambah keanggunannya dalam melangkah. Suara yang halus sikap sopan menambah kesan positif dalam dirinya. Dia hanyalah seorang pendiam yang dari SD SMP menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Hanya mampu terdiam menerima segala cacian yang dilontarkan kepadanya. Terdiam sendiri di sudut sempit meratapi kisah hidupnya yang selalu menjadi bahan ejekan. Namun segalanya berubah sangatlah drastis disaat dia duduk di SMA mulai mengenal arti cinta mulai mempunyai teman dari berbagai latar belakang yang berbeda mulai mengerti akibatnya yang hanya menerima segala ejekan. Kini dirinya telah menjadi seorang gadis yang liar dan gadis yang hidup tanpa adanya aturan. Dirinya kini telah terbebaskan dari jeratan orang tua, kini dia telah diberi kebebasan untuk bergaul dan kini semuanya tidak terkontrol.
            Gadis kecil yang polos, sopan dan pendiam kini menjadi seorang gadis yang garang. Kini dia telah terjerumus pada pergaulan yang salah. Kini dia menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Kini dia benar-benar menjadi cacian banyak orang. Sakit hati memang sangat nampak pada diri gadis itu namun apa daya dirinya, dia terlanjur masuk dalam lembah yang tak pernah dikira oleh banyak orang sebelumnya. Kini dia benar-benar hanya sendiri, sekarangpun orang tuanya tak lagi perduli pada kehidupan dia. Kini masa depan yang telah tertata rapi berubah menjadi berantak seiring dengan masuknya sang gadis kecil dalam jurang yang menyesatkan.
            Sangat disayangkan banyak orang, gadis anggun nan sopan kini tak lagi dikenal gadis yang sopan. Semua pujian kini berubah menjadi cacian. Tak mampu ia menghindar lagi dari masalah ini. Dia terlanjur terjun dalam permasalahan ini dan iapun harus menanggung risikonya. Kebahagiaan yang didapatkan hanyalah bersifat sementara. Hanya berada dalam pertengahan kehidupannya saja ia merasakan kebahagiaan dimana ia mampu mengenal namanya cinta persahabatnan pergaulan. Akan tetapi ia salah memilih cinta persahabatan dan pergaulan. Kini sang gadis bermula dengan cacian iapun diakhiri dengan cacian pula. Tak ada rencana dalam hidup dirinya akan menjadi seorang yang selalu dicaci dalam hidupnya. Masa depannya kini telah pupus. Penyesalan yang ada dalam diri sang gadispun tiada gunanya karena semua telah terjadi. Penyesalan air mata keluh kesah tak mampu mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Kini sang gadis menjalani hidup tanpa hadirnya orang tua disisinya. Kini ia hanya bertopang hidup pada sebuah rumah nan sempit bak gubuk yang reot. Dia tinggal bersama lelaki yang sangat ia cintai. Mereka berdua menjalani hidup penuh dengan penyesalan meski sebenarnya mereka senang karena mampu bersama untuk selamanya. Kini segala sesuatunya mereka tanggung bersama. Meski kehidupan dulu dan sekarang sangat berbeda, merekapun mencoba untuk tabah dalam menghadapi semuanya tak peduli dengan ocehan ataupun cacian yang dilontarkan pada mereka. Meraka hanya ingin hidup lebih baik lagi bersama kekasih tercinta dan anak dari hasil buah cinta mereka. Senyuman selalu terlukis dalam wajah mereka berdua menutupi kesedihan yang mereka alami. Merekapun mencoba menatap masa depan sang anak untuk lebih gemilang dibandingkan dengan kisah orang tuanya yang sangatlah ironis.
            Meski mereka salah, namun merekapun masih memiliki harapan nan indah demi perbaiakan dirinya di masa lampau. Kenangan yang buruk memang sepatutnya untuk dikubur dalam-dalam dan dijadikan suatu pelajaran untuk masa depan yang lebih baik lagi. Penyesalan memang perlu karena dengan adanya penyesalan kitapun mampu untuk menjadi insan yang lebih baik. Setidaknya dengan adanya penyesalan itu akan muncul sikap kehati-hatian dalam bertindak. Memandang ke belakang sebagai pelajaran dan memandang ke depan untuk semangat demi pencapaian masa depan. Mereka kini mampu tersenyum lega dan merekapun saling membantu untuk pemenuhan hidup yang serba kekurangan demi membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu mencapai kesuksesan yang telah tertunda. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar