Senin, 15 Juni 2015

Tugas Psikologi Klinis



TUGAS MAKALAH PSIKOLOGI KLINIS
FASE PERKEMBANGAN DEWASA
PENDERITA SKIZOFRENIA “DEPRESI



 




DISUSUN OLEH :
Deni Kurniawan                      F100120010
Prapti Madyo Ratri                 F100124021
Ovyn Sylvia H                        F100130061
Maharani Panulu Estu             F100130185


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fase perkembangan dewasa madya. Dimana, pada fase ini biasanya terjadi pada usia 40-80 tahun. Penelitian ini ditujukan kepada usia lanjut yang mengalami gangguan depresi di Griya Sehat Bahagia Karanganyar. Tidak jarang setiap orang merasa akan mengalami suatu kejadian, dan uniknya seringkali firasat itu, atau prekognisi dalam ranah psikologi, mengenai sesuatu yang buruk. Pengalaman yang dialami akhirnya tidak jarang menjadi dilema bagi yang mengalaminya, untuk mengatakan atau tidak kepada yang bersangkutan. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap cara pandang seseorang khususnya pada individu yang berusia lanjut. Ketika pengalaman tersebut mampu diterima secara kognisi maka akan melahirkan suatu hal yang mampu mendongkrak semangatnya namun apabila pengalaman tersebut terkait hal yang tidak menyenangkan maka akan berakibat pada gangguan jiwa atau sering terjadi adalah depresi.  Depresi sampai saat ini depresi menjadi salah satu masalah kesehatan mental utama yang mendapatkan perhatian serius. Melalui penelitian terhadap individu yang mengalami gangguan depresi, peneliti menemukan gambaran secara realita terkait tentang penyebab, bagaimana penyesuaian individu yang mengalami depresi dengan lingkungannya dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri individu.
















BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kecenderungan mengalami depresi meningkat sejalan bertambahnya usia. Kaum lansia merupakan salah satu kelompok orang yang rentan mengalami depresi sepanjang hidupnya. Pada lansia yang mengalami gangguan medis dan harus mendapatkan perawatan di rawat inap.
Kondisi depresi pada pasien lansia banyak dihubungkan dengan kebugaran fisiknya. Orang lansia yang mengalami kondisi medis umum terkait dengan penyakit degeneratif (hipertensi,kencing manis,rematik) lebih rentan mengalami depresi dibandingkan yang tidak. Selain itu sindrom “sarang burung kosong” atau Empty Nest Syndrome (Seringkali ditulis dengan pendekatan bahasa dan bunyi kata menjadi Emptiness Syndrome atau sindrom kesepian) akibat kehilangan anak atau keluarga yang biasanya mendampingi. Ini biasanya terjadi pada lansia yang ditinggalkan anaknya menikah atau pisah dari rumahnya selama ini.Gangguan depresi pada lansia bisa terjadi dengan berbagai gejala, paling banyak dilaporkan adalah adanya gejala-gejala fisik . Insomnia atau sulit tidur, nyeri otot dan sendi, gangguan cemas dan kurang nafsu makan adalah gejala-gejala depresi yang sering timbul pada lansia. Gejala-gejala fisik ini akan menjadi sulit dibedakan dengan gejala fisik pada kondisi medis umum karena sering kali mirip dan merupakan bagian yang saling mempengaruhi. Untuk itulah dokter yang merawat pasien lansia harus memahami betul konsep biopsikososial dan psikosomatik medis ketika menangani pasien lansia karena gejala-gejala gangguan kejiwaan tersering pada lansia seperti depresi bisa bermanifestasi dalam bentuk keluhan fisik.
Sehingga, dalam hal ini peneliti tertarik untuk mengambil fase perkembangan dewasa madya yang mengalami gangguan skizofrenia jenis depresi.

B.  Konteks
Penelitian dilakukan di sebuah Griya Sehat Bahagia yang merupakan tempat yang disediakan khusus usia lanjut dan berkebutuhan khusus. Tempat ini terdapat di daerah Karanganyar. Griya Sehat Bahagia pertama kali menerima pasien pada tahun 2002 dengan jumlah pasien 15 pasien pengidap gangguan depresi juga. Griya Sehat Bahagia berdiri atas rokemendasi keluarga pasien dari ibu dokter pemiliki Griya Sehat Bahagia. Dimana, sebelum mendirikan Griya Sehat Bahagia ini, dokter adalah salah satu dokter dari Rumah Sakit Jiwa dan sekarang sudah pensiun.
Di Griya Sehat Bahagia ini terdapat 15 petugas yang bertugas dalam menyediakan makanan pasien, mencuci pakaian, membersihkan rumah tempat para pasien tinggal dan mengawasi perilaku setiap pasien. Selain petugas adapula 5 perawat yang datang sesuai dengan shiftnya yang bertugas dalam pemberian obat setiap pagi siang dan malam kepada pasien. Selain, petugas dan perawat adapula seorang dokter yang merupakan pemilik Griya Sehat Bahagia ini mengembang tugas untuk melakukan kontrol pada kesehatan pasien. Mengingat pasien di Griya Sehat Bahagia terdapat 42 Pasien dengan gangguan berbeda-beda. Dengan yang mengalami gangguan depresi 24 pasien, pikun 10 pasien, dan yang mengalami stroke 8 pasien.
Di dalam Griya Sehat Bahagia ini, antara petugas, pasien dan perawat memiliki keakraban yang baik. Dimana, meskipun mayoritas yang tinggal di dalam rumah tersebut adalah seorang individu dengan kelainan ataupun gangguan khusus namun, mereka senantiasa saling membantu satu dengan lainnya.
Dalam mengalihkan perhatian pasien untuk melupakan pengalaman yang lalu, dari pihak Griya Sehat Bahagia melakukan pelatihan gunting kapas ataupun merajut sapu tangan, telapak meja dan lain-lain. Setelah hasil rajutan ataupun menggunting tissu selesai, dari pihak dokternya memberikan reward. Hal itu dimaksudkan agar pasien merasa dibutuhkan di tempat itu.
C.    Issue (Kejadian Di Lapangan)
Penelitian yang dilakukan pada hari Jumat, 3 April 2015 memfokuskan pada fase perkembangan dewasa madya yang memiliki gangguan Skizofrenia jenis Depresi. Depresi yang dialami oleh pasien yang tinggal di Griya Sehat Bahagia sangatlah beraneka ragam dimulai dari faktor cinta yang tidak direstui, adanya perceraian, perasaan kehilangan pasca ditinggal orang tua ataupun saudara-saudaranya dan adanya keinginan untuk bertemu dengan Allah. Selain sebagai tempat untuk kelainan khusus ataupun berekebutuhan khusus, Griya Sehat Bahagia ini juga sebagai tempat usia lanjut yang keluarganya tidak mampu untuk merawatnya. Namun, dari pihak keluarga masih sering menjenguk. Ada salah satu pasien yang setiap 2 minggu sekali di jemput untuk pulang ke rumah dan ketika di rumah sudah 10 hari ia kembali lagi ke Griya Sehat Bahagia tersebut. Namun adapula yang selama masuk tidak pernah dijenguk oleh pihak keluarganya. Setiap harinya, pasien melakukan senam pagi dengan dilanjutkan renungan pagi. Meskipun mengalami gangguan jiwa, pasien tetap masih mengingat akan adanya Tuhan. Setiap hari Kamis dan Minggu pasien beserta petugaspun melaksanakan puji-pujian dengan di dampingi oleh seorang pendeta.  Sedangkan untuk yang muslim setiap sebulan sekali mendatangkan ustadzah dan ketika pasien yang beragama kristiani melakukan renungan pagi, biasanya pasien yang muslim membaca ayat suci al quran. Meskipun mengalami gangguan pasien selalu dituntun untuk menjalankan kewajibannya sebagai makhluk Allah.
Dari beberapa faktor tersebut kamipun memfokuskan pada satu subjek dengan nama inisial S yang merupakan pasien yang mengalami gangguan pasca ditinggal oleh ayahnya saat beliau melanjutkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi dan sudah hampir skripsi. Namun, skripsinyapun terbengkelai akibat depresi yang dialaminya karena belum mampu percaya bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya. S adalah warga karangpandan yang pada awalnya berasal dari Gereja dan dipindahkan ke Griya Sehat Bahagia guna mendapatkan perawatan yang semestinya. S mulai masuk di Griya Sehat Bahagia pada tahun 2011 ketika beliau berusia 50 tahun. Mayoritas pasien yang berada di Griya Sehat bahagia masih perawan atau belum menikah termasuk S ini. Pada awal masuk Griya Sehat Bahagia, beliau mengalami depresi berat yang hanya berdiam diri mengurung dalam kamar dan tidak mau melakukan kontak sosial dengan rekan satu rumahnya. Namun, dengan pendekatan yang selalu dilakukan oleh pihak petugas Griya Sehat Bahagia saat ini S mulai berinteraksi dengan teman-teman satu rumah serta sering bercerita dengan petugas terkait masalah yang subjek alami. Petugas juga mengakui bahwa S mengalami peningkatan yang signifikasn ketika S baru beberapa minggu tinggal di Griya Sehat Bahagia. Ketika, S kami ajak bicara S hanya mampu menjawab seperlunya saja dengan pandangan membelakangi pandangan pewawancara.  S masih mengalami kesulitan untuk bisa beriteraksi dengan orang baru. S hanya mampu bercerita secara luas ketika S sudah mulai merasa ada kedekatan dengan orang itu. S selalu ingin meninggal dan S selalu menganggap bahwa dirinya telah berkomunikasi secara langsung dengan Allah. S selalu memiliki keinginan untuk meninggal namun S tidak sampai memutuskan untuk bunuh diri.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Depresi merupakan salah satu masalah kese-hatan mental utama saat ini, yang mendapat­kan perhatian serius. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsio-nal, dan tingkah laku serta kognisi bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997; Nevid, Rathus, & Greene, 2005; Lubis, 2009). Depresi dapat terjadi pada anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Orang yang mengalami depresi akan memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kece­masan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai dengan berba-gai gejala fisik (Korff & Simon, 1996; National Academy on an Aging Society, 2000; Dooley, Prause, & Ham-rowbottom, 2000; Sharp & Lipsky, 2002; Eby & Eby, 2006; Arcache, & Tordjman, 2012).
Gangguan depresi pada umumnya dice­tuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Namun, setiap orang mempunyai perbedaan yang men­dasar yang memungkinkan suatu peristiwa yang dihadapi secara berbeda, dapat memun­culkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Depresi memiliki beberapa penyebab, dan salah satu yang terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk mengalami kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami kesulitan dalam fungsi sosial, peker­jaan dan kehidupan sehari-hari (Stice, Ragan & Randall, 2004; Bitsika, Sharpley, & Melhem, 2010; Callahan, Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012). Depresi merupakan kondisi emosional seseorang yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, Neale&Kring, 2010).
B.     Etiologi Depresi
Menurut Kaplan (2010) bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, faktor kognitif, faktor lingkungan,kepribadian dan faktor psikososial.


1.    Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan suasana hati. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada Utarapasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2010). Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun. Hal tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi dopamin menurun seperti parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala depresi (Kaplan, 2010). Disregulasi neuroendokrin dan Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan perubahan pada amin biogenik sentral. Aksis neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis hormon pertumbuhan. Sekresi CRH dipengaruhi oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang merupakan organ utama pada sistem endokrin dan fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan peningkatan sekresi CRH (Landefeld, 2004). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase (Unutzer dkk, 2002).
2.    Faktor Genetik
Faktor genetik. Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Resiko untuk terjadinya depresi meningkat antara 20 – 40 % untuk keluarga keturunan pertama. Dapat dikatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi psikotik dan depresi nonpsikotik terdapat insiden yang tinggi dari gejala depresi ini. Memiliki satu orangtua yang mengalami depresi, meningkatkan resiko dua kali pada keturunannya. Resiko itu meningkat menjadi empat kali bila kedua orangtuanya sama-sama mengalami depresi.
3.     Lingkungan
Lingkungan juga memainkan peran yang kuat dalam menyebabkan depresi. Faktorfaktor lingkungan, seperti stress, kehilangan, atau mengubah sering memicu episode depresi (Harun, 2010). Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi yaitu mulai faktor genetik sampai dengan faktor nongenetik. Faktor genetik, ketidakseimbangan biogenik, gangguan neuroendokrin dan perubahan neurofisiologi, serta faktor psikologik seperti kehilangan objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi kognitif, ketidakberdayaan yang dipelajari dan faktor-faktor lain yang diduga berperan dalam terjadinya depresi (Nurmiati, 2005).
4.    Faktor psikososial
Peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010).]
5.    Faktor kepribadian
Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan, 2010).
6.    Faktor psikodinamika.
Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satusatunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
7.     Faktor kognitif
Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010)
Karakteristik utama individu yang depresi adalah adanya distorsi negatif. Kondisi terse­but akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku dan kognitif serta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri individu (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997). Faktor lain penyebab terjadinya deprsi adalah :
                                          1.     Gangguan emosi: Perasaan sedih atau murung, iritabilitas, ansietas, ikatan emosi berkurang, menarik diri dari hubungan interpersonal, preokupasi dengan kematian.
                                          2.     Gangguan kognitif: Distorsi kognitif seperti mengeritik diri sendiri, rasa bersalah, persaan tak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis, dan putus asa.
                                          3.     Penurunan fungsi kognitif seperti bingung, konsentrasi buruk, perhatian kurang, daya ingat menurun, dan sering ragu-ragu.
                                          4.     Keluhan somatik: Sakit kepala, keluhan saluran pencernaan, keluhan haid, dan lain-lain.
                                          5.     Gangguan psikomotor: Retardasi psikomotor, gerakan lambat, pembicaraan lambat, malas, dan merasa tidak bertenaga atau lesu.
                                          6.     Gangguan vegetatif: Tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, tidak ada nafsu makan atau terlalu banyak makan, penurunan berat badan atau penambahan berat badan, gangguan fungsi seksual
C.    Cara Penanganan
Untuk mengatasi-nya diperlukan terapi yang dapat mengatasi tekanan yang dihadapi individu yang depresi yang dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya.
Penelitian terdahulu dalam mengatasi depresi menggunakan pendekatan agama, pendekatan farmakologi, menggunakan psi-koterapi; seperti CBT, konseling, dan rawatan primer. Depresi peringkat sedang sampai depresi berat mungkin memerlukan obat dan menggabungkan pendekatan psikotera­pi. (Byrd, 1988; DeRubeis, Gelfand, Tang, & Simons, 1999; Berto, D’Ilario, Ruffo, Virgilio, & Rizzo, 2000; Schwenk & Terrell, 2005; Eby & Eby, 2006; Tackett, & Kendall, 2007; BC Partners, 2009; Rautiainen, 2010; Ponton, 2011; Sussman, Yaffe, McCusker, Parry, Sewitch, Bussel, & Ferrer, 2011; Mukhtar, & Oei, 2011; Schimmel, & Jacobs, 2011; Peteet, 2012). Pendekatan-pendekatan tersebut mem­berikan hasil yang cukup efektif akan tetapi terbatas pada beberapa aspek di diri individu dan kemungkinan adanya resiko terjadinya bias (Callahan, Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012).
Pada awal tahun 2005, mulai dikembang­kan Positive Psychotherapy untuk mengatasi. Positive Psychotherapy pernah dilakukan me­lalui website berbayar dengan memberikan tugas-tugas latihan selama satu minggu secara acak kepada pengguna web yang mengalami depresi. Hasil dari terapi tersebut dapat menu­runkan gejala depresi sekaligus dapat menum­buhkan hal-hal yang positif dalam kehidupan (Seligman, Rashid, & Parks, 2006).
Jika individu yang depresi dapat mengu-bah pemikirannya ke arah positif maka ke­hidupan akan menuju arah yang positif pula. Seligman (Elkify, 2010) menjelaskan bahwa kebahagian mengacu pada emosi yang positif yang dirasakan setiap individu, Seligman juga menyatakan gambaran yang mendapatkan ke­bahagian yang autentik (sejati) yaitu individu yang telah dapat mengidentifikasi atau menge­lola atau melatih kekuatan dasar yang dimili-kinya dan mengaplikasikannya dalam kehidu­pan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, cinta, permainan dan pengasuhan.
Positive Psychotherapy merupakan suatu strategi terapi terstruktur dan sistematis yang menggabungkan pendekatan transkultural, psikodinamika dan cognitive-behavioural un­tuk memahami dinamika konflik yang diala-mi subyek serta terfokus pada upaya mem­bangun potential human strengths diri subyek (Peseschkian, 1997). Positive Psychotherapy sebagai suatu intervensi untuk menangani ber­bagai gangguan klinis dengan tujuan memba-ngun emosi positif, kekuatan karakter, dan ke­bermaknaan sehingga dapat meniadakan atau mencegah munculnya kembali gangguan terse­but di masa mendatang (Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006).
Depresi pada prinsipnya dapat dipulihkan secara efektif tidak hanya dengan menguran­gi gejala negatif dan menurunkan tingkatan depresi, tetapi juga dengan membangun emosi positif, kekuatan karakter, dan makna. Positive Psychotherapy kemungkinan akan dapat men­etralkan gejala negatif dan dapat memperkuat karakter individu (Seligman, Steen, Park, & Peterson, 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006; Snyder, & Lopez, 2007).

























BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan di setarakan dengan teori menurut para ahli maka dapat disimpulkan bahwa :
Depresi bukan hanya terjadi pada masa anak-anak dan remaja, namun depresi mampu terjadi pada fase perkembangan dewasa madya yang memiliki beberapa pengalaman di masa lalu dan tidak mampu menghadapinya dengan cara yang positif dan cenderung ke hal yang negatif. Depresi pada usia dewasa madya memiliki cara penanganan yang cukup mudah yaitu dengan melakukan pendekatan secara individual sehingga si penderita mampu merasakan bahwa dirinya dianggap di dalam suatu kelompok tersebut. Adapun faktor penyebab lain yang mampu meningkatkan atau menimbulkan depresi menurut ahli adalah :
1.      Faktor biologi
2.      Faktor Genetik
3.      Lingkungan
4.      Faktor psikososial
5.      Faktor kepribadian
6.      Faktor psikodinamika.
7.      Faktor kognitif
B.  Saran
Dari kasus yang telah di jelaskan di atas maka dapat diberikan beberapa saran :
1.       Perawat dan petugas panti seharusnya menyesuaikan diri dengan kepribadian lansia dengan tujuan agar dengan mudah melakukan pendekatan dengan lansia untuk mencegah ataupun menurunkan tingkat depresi pada lansia.
2.       Perawat ataupun petugas panti dapat memberikan beberapa kegiatan bagi lansia untuk menambah kesempatan lansia dalam berinteraksi ataupun menciptakan sesuatu.Dengan adanya berbagai kegiatan bersama tersebut maka akan menambah kesempatan bagi para lansia untuk dapat berinteraksi sosial, tetap aktif dan produktif, dapat mempertahankan kemandirian, dan meningkatkan kepercayaan diri sehingga akan dapat mendorong lansia ke arah kepribadian yang konstruktif;
3.       Petugas ataupun perawat panti diharapkan mampu melakukan pembinaan atau bimbingan kepada lansia secara khusus agar dapat lebih produktif dan konstruktif.

Daftar Pustaka

Hayuningtyas, D. O., Supriyono, Y., & Lestari, S. (n.d.). Upaya Bunuh Diri Sebagai Bentuk Depresi Pada Remaja Putri Korban Trafficking. Jurnal Publikasi, 1-10.

Nilasari, S. (2013). Positive Psychoteraphy untuk menurunkan tingkat depresi. Jurnal Sains Dan Praktik Psikologi, 179-189.
Radityo, W. E. (n.d.). Depresi dan gangguan tidur. Jurnal Publikasi, 1-4.