TUGAS MAKALAH PSIKOLOGI KLINIS
FASE PERKEMBANGAN DEWASA
PENDERITA SKIZOFRENIA “DEPRESI
DISUSUN
OLEH :
Deni
Kurniawan F100120010
Prapti
Madyo Ratri F100124021
Ovyn
Sylvia H F100130061
Maharani
Panulu Estu F100130185
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fase
perkembangan dewasa madya. Dimana, pada fase ini biasanya terjadi pada usia
40-80 tahun. Penelitian ini ditujukan kepada usia lanjut yang mengalami
gangguan depresi di Griya Sehat Bahagia Karanganyar. Tidak jarang setiap orang
merasa akan mengalami suatu kejadian, dan uniknya seringkali firasat itu, atau
prekognisi dalam ranah psikologi, mengenai sesuatu yang buruk. Pengalaman yang
dialami akhirnya tidak jarang menjadi dilema bagi yang mengalaminya, untuk
mengatakan atau tidak kepada yang bersangkutan. Keadaan ini akan berpengaruh
terhadap cara pandang seseorang khususnya pada individu yang berusia lanjut.
Ketika pengalaman tersebut mampu diterima secara kognisi maka akan melahirkan
suatu hal yang mampu mendongkrak semangatnya namun apabila pengalaman tersebut
terkait hal yang tidak menyenangkan maka akan berakibat pada gangguan jiwa atau
sering terjadi adalah depresi. Depresi sampai saat ini depresi
menjadi salah satu masalah kesehatan mental utama yang mendapatkan perhatian
serius. Melalui penelitian terhadap individu yang mengalami
gangguan depresi, peneliti menemukan gambaran secara realita terkait tentang
penyebab, bagaimana penyesuaian individu yang mengalami depresi dengan
lingkungannya dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri individu.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kecenderungan
mengalami depresi meningkat sejalan bertambahnya usia. Kaum lansia merupakan
salah satu kelompok orang yang rentan mengalami depresi sepanjang hidupnya. Pada
lansia yang mengalami gangguan medis dan harus mendapatkan perawatan di rawat
inap.
Kondisi
depresi pada pasien lansia banyak dihubungkan dengan kebugaran fisiknya. Orang
lansia yang mengalami kondisi medis umum terkait dengan penyakit degeneratif
(hipertensi,kencing manis,rematik) lebih rentan mengalami depresi dibandingkan
yang tidak. Selain itu sindrom “sarang burung kosong” atau Empty Nest
Syndrome (Seringkali ditulis dengan pendekatan bahasa dan bunyi kata menjadi
Emptiness Syndrome atau sindrom kesepian) akibat kehilangan anak atau keluarga
yang biasanya mendampingi. Ini biasanya terjadi pada lansia yang ditinggalkan
anaknya menikah atau pisah dari rumahnya selama ini.Gangguan depresi pada
lansia bisa terjadi dengan berbagai gejala, paling banyak dilaporkan adalah
adanya gejala-gejala fisik . Insomnia atau sulit tidur, nyeri otot dan sendi,
gangguan cemas dan kurang nafsu makan adalah gejala-gejala depresi yang sering
timbul pada lansia. Gejala-gejala fisik ini akan menjadi sulit dibedakan dengan
gejala fisik pada kondisi medis umum karena sering kali mirip dan merupakan
bagian yang saling mempengaruhi. Untuk itulah dokter yang merawat pasien lansia
harus memahami betul konsep biopsikososial dan psikosomatik medis ketika
menangani pasien lansia karena gejala-gejala gangguan kejiwaan tersering pada
lansia seperti depresi bisa bermanifestasi dalam bentuk keluhan fisik.
Sehingga,
dalam hal ini peneliti tertarik untuk mengambil fase perkembangan dewasa madya
yang mengalami gangguan skizofrenia jenis depresi.
B. Konteks
Penelitian
dilakukan di sebuah Griya Sehat Bahagia yang merupakan tempat yang disediakan
khusus usia lanjut dan berkebutuhan khusus. Tempat ini terdapat di daerah
Karanganyar. Griya Sehat Bahagia pertama kali menerima pasien pada tahun 2002
dengan jumlah pasien 15 pasien pengidap gangguan depresi juga. Griya Sehat
Bahagia berdiri atas rokemendasi keluarga pasien dari ibu dokter pemiliki Griya
Sehat Bahagia. Dimana, sebelum mendirikan Griya Sehat Bahagia ini, dokter
adalah salah satu dokter dari Rumah Sakit Jiwa dan sekarang sudah pensiun.
Di
Griya Sehat Bahagia ini terdapat 15 petugas yang bertugas dalam menyediakan
makanan pasien, mencuci pakaian, membersihkan rumah tempat para pasien tinggal
dan mengawasi perilaku setiap pasien. Selain petugas adapula 5 perawat yang
datang sesuai dengan shiftnya yang bertugas dalam pemberian obat setiap pagi
siang dan malam kepada pasien. Selain, petugas dan perawat adapula seorang
dokter yang merupakan pemilik Griya Sehat Bahagia ini mengembang tugas untuk
melakukan kontrol pada kesehatan pasien. Mengingat pasien di Griya Sehat
Bahagia terdapat 42 Pasien dengan gangguan berbeda-beda. Dengan yang mengalami
gangguan depresi 24 pasien, pikun 10 pasien, dan yang mengalami stroke 8
pasien.
Di
dalam Griya Sehat Bahagia ini, antara petugas, pasien dan perawat memiliki
keakraban yang baik. Dimana, meskipun mayoritas yang tinggal di dalam rumah
tersebut adalah seorang individu dengan kelainan ataupun gangguan khusus namun,
mereka senantiasa saling membantu satu dengan lainnya.
Dalam
mengalihkan perhatian pasien untuk melupakan pengalaman yang lalu, dari pihak
Griya Sehat Bahagia melakukan pelatihan gunting kapas ataupun merajut sapu
tangan, telapak meja dan lain-lain. Setelah hasil rajutan ataupun menggunting
tissu selesai, dari pihak dokternya memberikan reward. Hal itu dimaksudkan agar
pasien merasa dibutuhkan di tempat itu.
C.
Issue
(Kejadian Di Lapangan)
Penelitian
yang dilakukan pada hari Jumat, 3 April 2015 memfokuskan pada fase perkembangan
dewasa madya yang memiliki gangguan Skizofrenia jenis Depresi. Depresi yang
dialami oleh pasien yang tinggal di Griya Sehat Bahagia sangatlah beraneka
ragam dimulai dari faktor cinta yang tidak direstui, adanya perceraian,
perasaan kehilangan pasca ditinggal orang tua ataupun saudara-saudaranya dan
adanya keinginan untuk bertemu dengan Allah. Selain sebagai tempat untuk
kelainan khusus ataupun berekebutuhan khusus, Griya Sehat Bahagia ini juga
sebagai tempat usia lanjut yang keluarganya tidak mampu untuk merawatnya.
Namun, dari pihak keluarga masih sering menjenguk. Ada salah satu pasien yang
setiap 2 minggu sekali di jemput untuk pulang ke rumah dan ketika di rumah sudah
10 hari ia kembali lagi ke Griya Sehat Bahagia tersebut. Namun adapula yang
selama masuk tidak pernah dijenguk oleh pihak keluarganya. Setiap harinya,
pasien melakukan senam pagi dengan dilanjutkan renungan pagi. Meskipun
mengalami gangguan jiwa, pasien tetap masih mengingat akan adanya Tuhan. Setiap
hari Kamis dan Minggu pasien beserta petugaspun melaksanakan puji-pujian dengan
di dampingi oleh seorang pendeta. Sedangkan untuk yang muslim setiap sebulan
sekali mendatangkan ustadzah dan ketika pasien yang beragama kristiani
melakukan renungan pagi, biasanya pasien yang muslim membaca ayat suci al
quran. Meskipun mengalami gangguan pasien selalu dituntun untuk menjalankan
kewajibannya sebagai makhluk Allah.
Dari
beberapa faktor tersebut kamipun memfokuskan pada satu subjek dengan nama
inisial S yang merupakan pasien yang mengalami gangguan pasca ditinggal oleh
ayahnya saat beliau melanjutkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi dan
sudah hampir skripsi. Namun, skripsinyapun terbengkelai akibat depresi yang
dialaminya karena belum mampu percaya bahwa ayahnya telah pergi untuk
selamanya. S adalah warga karangpandan yang pada awalnya berasal dari Gereja
dan dipindahkan ke Griya Sehat Bahagia guna mendapatkan perawatan yang
semestinya. S mulai masuk di Griya Sehat Bahagia pada tahun 2011 ketika beliau
berusia 50 tahun. Mayoritas pasien yang berada di Griya Sehat bahagia masih
perawan atau belum menikah termasuk S ini. Pada awal masuk Griya Sehat Bahagia,
beliau mengalami depresi berat yang hanya berdiam diri mengurung dalam kamar
dan tidak mau melakukan kontak sosial dengan rekan satu rumahnya. Namun, dengan
pendekatan yang selalu dilakukan oleh pihak petugas Griya Sehat Bahagia saat
ini S mulai berinteraksi dengan teman-teman satu rumah serta sering bercerita
dengan petugas terkait masalah yang subjek alami. Petugas juga mengakui bahwa S
mengalami peningkatan yang signifikasn ketika S baru beberapa minggu tinggal di
Griya Sehat Bahagia. Ketika, S kami ajak bicara S hanya mampu menjawab
seperlunya saja dengan pandangan membelakangi pandangan pewawancara. S masih mengalami kesulitan untuk bisa
beriteraksi dengan orang baru. S hanya mampu bercerita secara luas ketika S
sudah mulai merasa ada kedekatan dengan orang itu. S selalu ingin meninggal dan
S selalu menganggap bahwa dirinya telah berkomunikasi secara langsung dengan
Allah. S selalu memiliki keinginan untuk meninggal namun S tidak sampai
memutuskan untuk bunuh diri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Depresi
merupakan salah satu masalah kese-hatan mental utama saat ini, yang mendapatkan
perhatian serius. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang
meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsio-nal, dan tingkah laku serta kognisi
bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997;
Nevid, Rathus, & Greene, 2005; Lubis, 2009). Depresi dapat terjadi pada
anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Orang yang mengalami depresi akan
memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa,
kecemasan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai
dengan berba-gai gejala fisik (Korff & Simon, 1996; National Academy on an
Aging Society, 2000; Dooley, Prause, & Ham-rowbottom, 2000; Sharp &
Lipsky, 2002; Eby & Eby, 2006; Arcache, & Tordjman, 2012).
Gangguan
depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Namun, setiap
orang mempunyai perbedaan yang mendasar yang memungkinkan suatu peristiwa yang
dihadapi secara berbeda, dapat memunculkan reaksi yang berbeda antara satu
orang dengan yang lain. Depresi memiliki beberapa penyebab, dan salah satu yang
terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data
yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk
mengalami kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami
kesulitan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari (Stice,
Ragan & Randall, 2004; Bitsika, Sharpley, & Melhem, 2010; Callahan,
Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012). Depresi merupakan
kondisi emosional seseorang yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat
sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain,
tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta
kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, Neale&Kring,
2010).
B.
Etiologi
Depresi
Menurut Kaplan
(2010) bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor
biologi, faktor genetik, faktor kognitif, faktor lingkungan,kepribadian dan
faktor psikososial.
1.
Faktor biologi
Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik,
seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid),
MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan
cairan serebrospinal pada pasien gangguan suasana hati. Neurotransmiter yang
terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin.
Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada Utarapasien
bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi
despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi
depresi (Kaplan, 2010). Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah
menurun. Hal tersebut tampak pada
pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi dopamin menurun seperti
parkinson, adalah disertai gejala
depresi. Obat yang meningkatkan
konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala depresi
(Kaplan, 2010). Disregulasi neuroendokrin dan Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin,
menerima input neuron yang
mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin.
Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung amin biogenik.
Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan
perubahan pada amin biogenik
sentral. Aksis neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis hormon
pertumbuhan. Sekresi CRH dipengaruhi
oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang
merupakan organ utama pada sistem endokrin
dan fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan
peningkatan sekresi CRH (Landefeld, 2004). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi hormon estrogen.
Estrogen berfungsi melindungi
sistem dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti
MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin.
Estrogen bersama dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase (Unutzer dkk, 2002).
2. Faktor
Genetik
Faktor
genetik. Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Resiko untuk terjadinya
depresi meningkat antara 20 – 40 % untuk keluarga keturunan pertama. Dapat
dikatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi psikotik dan depresi
nonpsikotik terdapat insiden yang tinggi dari gejala depresi ini. Memiliki satu
orangtua yang mengalami depresi, meningkatkan resiko dua kali pada
keturunannya. Resiko itu meningkat menjadi empat kali bila kedua orangtuanya
sama-sama mengalami depresi.
3. Lingkungan
Lingkungan
juga memainkan peran yang kuat dalam menyebabkan depresi. Faktorfaktor lingkungan,
seperti stress, kehilangan, atau mengubah sering memicu episode depresi (Harun,
2010). Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi yaitu mulai faktor genetik
sampai dengan faktor nongenetik. Faktor genetik, ketidakseimbangan biogenik,
gangguan neuroendokrin dan perubahan neurofisiologi, serta faktor psikologik
seperti kehilangan objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi kognitif,
ketidakberdayaan yang dipelajari dan faktor-faktor lain yang diduga berperan dalam
terjadinya depresi (Nurmiati, 2005).
4. Faktor
psikososial
Peristiwa
kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang
berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Peristiwa
kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres,
lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya.
Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam
depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki
peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling
berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan
(Kaplan, 2010).]
5. Faktor
kepribadian
Beberapa
ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen,
anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi.
Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi
sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan, 2010).
6. Faktor
psikodinamika.
Berdasarkan
teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai
dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk mengerti depresi,
Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan
antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang
dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek
yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satusatunya bagi
ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari
duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri
yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan
orang yang berkabung tidak demikian.
7. Faktor kognitif
Adanya
interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi
negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan.
Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010)
Karakteristik
utama individu yang depresi adalah adanya distorsi negatif. Kondisi tersebut
akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku
dan kognitif serta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri
individu (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997). Faktor lain penyebab terjadinya
deprsi adalah :
1. Gangguan
emosi: Perasaan sedih atau murung, iritabilitas, ansietas, ikatan emosi
berkurang, menarik diri dari hubungan interpersonal, preokupasi dengan kematian.
2. Gangguan
kognitif: Distorsi kognitif seperti mengeritik diri sendiri, rasa bersalah,
persaan tak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis, dan putus asa.
3. Penurunan
fungsi kognitif seperti bingung, konsentrasi buruk, perhatian kurang, daya
ingat menurun, dan sering ragu-ragu.
4. Keluhan
somatik: Sakit kepala, keluhan saluran pencernaan, keluhan haid, dan lain-lain.
5. Gangguan
psikomotor: Retardasi psikomotor, gerakan lambat, pembicaraan lambat, malas,
dan merasa tidak bertenaga atau lesu.
6. Gangguan
vegetatif: Tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, tidak ada nafsu makan
atau terlalu banyak makan, penurunan berat badan atau penambahan berat badan,
gangguan fungsi seksual
C.
Cara
Penanganan
Untuk
mengatasi-nya diperlukan terapi yang dapat mengatasi tekanan yang dihadapi
individu yang depresi yang dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat
menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya.
Penelitian
terdahulu dalam mengatasi depresi menggunakan pendekatan agama, pendekatan
farmakologi, menggunakan psi-koterapi; seperti CBT, konseling, dan rawatan
primer. Depresi peringkat sedang sampai depresi berat mungkin memerlukan obat
dan menggabungkan pendekatan psikoterapi. (Byrd, 1988; DeRubeis, Gelfand,
Tang, & Simons, 1999; Berto, D’Ilario, Ruffo, Virgilio, & Rizzo, 2000;
Schwenk & Terrell, 2005; Eby & Eby, 2006; Tackett, & Kendall, 2007;
BC Partners, 2009; Rautiainen, 2010; Ponton, 2011; Sussman, Yaffe, McCusker,
Parry, Sewitch, Bussel, & Ferrer, 2011; Mukhtar, & Oei, 2011; Schimmel,
& Jacobs, 2011; Peteet, 2012). Pendekatan-pendekatan tersebut memberikan
hasil yang cukup efektif akan tetapi terbatas pada beberapa aspek di diri
individu dan kemungkinan adanya resiko terjadinya bias (Callahan, Liu, Hetrick,
Purcell, & Parker, 2012).
Pada
awal tahun 2005, mulai dikembangkan Positive Psychotherapy untuk
mengatasi. Positive Psychotherapy pernah dilakukan melalui website
berbayar dengan memberikan tugas-tugas latihan selama satu minggu secara acak
kepada pengguna web yang mengalami depresi. Hasil dari terapi tersebut dapat
menurunkan gejala depresi sekaligus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif
dalam kehidupan (Seligman, Rashid, & Parks, 2006).
Jika
individu yang depresi dapat mengu-bah pemikirannya ke arah positif maka kehidupan
akan menuju arah yang positif pula. Seligman (Elkify, 2010) menjelaskan bahwa
kebahagian mengacu pada emosi yang positif yang dirasakan setiap individu,
Seligman juga menyatakan gambaran yang mendapatkan kebahagian yang autentik
(sejati) yaitu individu yang telah dapat mengidentifikasi atau mengelola atau
melatih kekuatan dasar yang dimili-kinya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari, baik dalam pekerjaan, cinta, permainan dan pengasuhan.
Positive
Psychotherapy merupakan suatu strategi
terapi terstruktur dan sistematis yang menggabungkan pendekatan transkultural,
psikodinamika dan cognitive-behavioural untuk memahami dinamika konflik
yang diala-mi subyek serta terfokus pada upaya membangun potential human
strengths diri subyek (Peseschkian, 1997). Positive Psychotherapy sebagai
suatu intervensi untuk menangani berbagai gangguan klinis dengan tujuan
memba-ngun emosi positif, kekuatan karakter, dan kebermaknaan sehingga dapat
meniadakan atau mencegah munculnya kembali gangguan tersebut di masa mendatang
(Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Seligman, Rashid, & Parks,
2006).
Depresi
pada prinsipnya dapat dipulihkan secara efektif tidak hanya dengan mengurangi
gejala negatif dan menurunkan tingkatan depresi, tetapi juga dengan membangun
emosi positif, kekuatan karakter, dan makna. Positive Psychotherapy kemungkinan
akan dapat menetralkan gejala negatif dan dapat memperkuat karakter individu
(Seligman, Steen, Park, & Peterson, 2005; Seligman, Rashid, & Parks,
2006; Snyder, & Lopez, 2007).
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan dan di setarakan dengan teori menurut para ahli maka dapat
disimpulkan bahwa :
Depresi bukan hanya terjadi pada masa
anak-anak dan remaja, namun depresi mampu terjadi pada fase perkembangan dewasa
madya yang memiliki beberapa pengalaman di masa lalu dan tidak mampu menghadapinya
dengan cara yang positif dan cenderung ke hal yang negatif. Depresi pada usia
dewasa madya memiliki cara penanganan yang cukup mudah yaitu dengan melakukan
pendekatan secara individual sehingga si penderita mampu merasakan bahwa
dirinya dianggap di dalam suatu kelompok tersebut. Adapun faktor penyebab lain
yang mampu meningkatkan atau menimbulkan depresi menurut ahli adalah :
1.
Faktor biologi
2.
Faktor Genetik
3.
Lingkungan
4.
Faktor psikososial
5.
Faktor kepribadian
6.
Faktor psikodinamika.
7.
Faktor kognitif
B. Saran
Dari
kasus yang telah di jelaskan di atas maka dapat diberikan beberapa saran :
1. Perawat
dan petugas panti seharusnya menyesuaikan diri dengan kepribadian lansia dengan
tujuan agar dengan mudah melakukan pendekatan dengan lansia untuk mencegah
ataupun menurunkan tingkat depresi pada lansia.
2. Perawat
ataupun petugas panti dapat memberikan beberapa kegiatan bagi lansia untuk
menambah kesempatan lansia dalam berinteraksi ataupun menciptakan sesuatu.Dengan
adanya berbagai kegiatan bersama tersebut maka akan menambah kesempatan bagi
para lansia untuk dapat berinteraksi sosial, tetap aktif dan produktif, dapat
mempertahankan kemandirian, dan meningkatkan kepercayaan diri sehingga akan
dapat mendorong lansia ke arah kepribadian yang konstruktif;
3. Petugas
ataupun perawat panti diharapkan mampu melakukan pembinaan atau bimbingan
kepada lansia secara khusus agar dapat lebih produktif dan konstruktif.
Daftar Pustaka
Hayuningtyas, D. O., Supriyono, Y., & Lestari, S. (n.d.). Upaya Bunuh Diri Sebagai Bentuk Depresi Pada Remaja Putri Korban Trafficking. Jurnal Publikasi, 1-10.
Nilasari, S. (2013). Positive Psychoteraphy untuk menurunkan tingkat
depresi. Jurnal Sains Dan Praktik Psikologi, 179-189.
Radityo, W. E. (n.d.). Depresi dan gangguan tidur. Jurnal Publikasi,
1-4.