Senin, 15 Juni 2015

Tugas Aplikasi Psikologi Klinis



TUGAS APLIKASI PSIKOLOGI KLINIS
PENYESUAIAN DIRI LANSIA YANG MENGALAMI DEPRESI DI GRIYA SEHAT BAHAGIA KARANGANYAR DENGAN MENGGUNAKAN METODE OBSERVASI DAN INTERVIEW
Dosen Pengampu : Dr. Eny Purwandari M.Si
Disusun Guna Memenuhi Tugas Awal mata Kuliah Aplikasi Psikologi Klinis Semester 6





DISUSUN OLEH :
PRAPTI MADYO RATRI
F100124021




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
A.    ORIENTASI KANCAH
Masalah kesehatan jiwa akan muncul bila lansia tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan-perubahan yang terjadi seiring dengan proses penuaan, salah satunya timbul dalam bentuk depresi. Kemampuan lansia dalam beradaptasi tersebut dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang mereka miliki. Tipe kepribadian akan menentukan kerentanan lansia terhadap terjadinya depresi. Orang yang berusia lanjut akan menjadi sangat rentan terhadap gangguan kesehatan, termasuk depresi yang disebabkan oleh stres dalam menghadapi perubahan-perubahan kehidupan yang berhubungan dengan apa yang disebut sebagai tahun emas. Perubahan kehidupan yang dimaksud antara lain adalah pensiun, penyakit atau ketidakmampuan fisik, penempatan dalam panti wreda, kematian pasangan, dan kebutuhan untuk merawat pasangan yang kesehatannya menurun. Kematian keluarga dan teman-teman menimbulkan duka cita dan mengingatkan pada orang yang berusia lanjut akan usia mereka yang semakin bertambah serta semakin berkurangnya ketersediaan dukungan sosial (Nevid, Rathus & Greene, 2005, h.189).
Fakta yang didapatkan di Griya Sehat Bahagia Karanganyar yang merupakan panti yang dikhususkan untuk lansia dan berkelainan khusus bahwa para lansia penghuni panti tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang sengaja di masukkan ke dalam panti karena dari keluarga tidak sanggup untuk merawat, adapula yang dimasukkan dari pihak gereja karena tidak adanya kesiapan dari diri lansia tersebut dalam menghadapi permasalaha. Latar belakang kehidupan seperti ini dapat memungkinkan terjadinya depresi pada lansia.
Kecenderungan mengalami depresi meningkat sejalan bertambahnya usia. Kaum lansia merupakan salah satu kelompok orang yang rentan mengalami depresi sepanjang hidupnya. Pada lansia yang mengalami gangguan medis dan harus mendapatkan perawatan di rawat inap.
Kondisi depresi pada pasien lansia banyak dihubungkan dengan kebugaran fisiknya. Orang lansia yang mengalami kondisi medis umum terkait dengan penyakit degeneratif (hipertensi,kencing manis,rematik) lebih rentan mengalami depresi dibandingkan yang tidak. Selain itu sindrom “sarang burung kosong” atau Empty Nest Syndrome (Seringkali ditulis dengan pendekatan bahasa dan bunyi kata menjadi Emptiness Syndrome atau sindrom kesepian) akibat kehilangan anak atau keluarga yang biasanya mendampingi. Ini biasanya terjadi pada lansia yang ditinggalkan anaknya menikah atau pisah dari rumahnya selama ini.Gangguan depresi pada lansia bisa terjadi dengan berbagai gejala, paling banyak dilaporkan adalah adanya gejala-gejala fisik . Insomnia atau sulit tidur, nyeri otot dan sendi, gangguan cemas dan kurang nafsu makan adalah gejala-gejala depresi yang sering timbul pada lansia. Gejala-gejala fisik ini akan menjadi sulit dibedakan dengan gejala fisik pada kondisi medis umum karena sering kali mirip dan merupakan bagian yang saling mempengaruhi. Untuk itulah dokter yang merawat pasien lansia harus memahami betul konsep biopsikososial dan psikosomatik medis ketika menangani pasien lansia karena gejala-gejala gangguan kejiwaan tersering pada lansia seperti depresi bisa bermanifestasi dalam bentuk keluhan fisik.
Oleh karena itu para lansia perlu mendapat perhatian dan dukungan dari lingkungan dan keluarga agar dapat mengatasi perubahan yang terjadi, selain perubahan keadaan fisik dan keadaan mental yang makin rentan. Sehingga dengan ini peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian “Penyesuaian Diri Lansia Yang Mengalami Depresi Di Griya Sehat Bahagia Karanganyar”
B.     HASIL
Griya Sehat Bahagia merupakan panti sosial yang didirikan oleh seorang dokter dengan inisial nama M.A yang merupakan mantan dokter  di Rumah Sakit Jiwa dengan latar belakang adanya permintaan dari beberapa keluarga pasien yang menginginkan agar dokter M.A saja yang merawat pasien. Hal itu dikarenakan banyak dari beberapa pasien Rumah Sakit Jiwa tersebut memiliki kedekatan dengan dokter M.A. Pada tahun 2002 Griya Sehat Bahagia menerima pasien 13 orang dengan memiliki berbagai latar belakang yaitu 3 orang mengalami stroke, 5 mengalami gangguan karena adanya pengalaman yang tidak baik di masa lalu dan 5 orang merupakan pasien yang di dapatkan dari gereja. Mayoritas pasien yang berada di Griya Sehat Bahagia adalah wanita. Dari tahun ke tahun, Pasien yang ada di Griya Sehat Bahagia mengalami peningkatan hingga pada tahun 2015 sekarang ini pasien yang ada di Griya Sehat Bahagia mencapai 42 Pasien dengan latar belakang gangguan stroke dan gangguan psikis yaitu depresi. Selain pasien, di Griya Sehat bahagia juga terdapat 15 petugas yang berkewajiban mempersiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan tempat mereka tinggal, mengendalikan perilaku pasien dan memberikan beberapa pelatihan untuk meningkatkan kesibukan lansia dalam mengalihakan perhatian dengan pengalaman yang lalu. Sedangkan untuk perawat hanya bertugas memberikan obat kepada pasien dan melakukan suntik injeksi ketika hal itu di butuhkan. Untuk dokternya sendiri, datang hanya ketika hari selasa dan kamis guna mengontrol perkembangan pasien.
Fasilitas yang disediakan Griya Sehat Bahagia berupa kamar individu ataupun yang bersama-sama. Ada kamar yang satu kamar isi 1 orang, 2 orang, 3 orang, ataupun 6 orang. Semua kamar disesuaikan dengan keinginan dari keluarga ataupun dari pasien itu sendiri.
Aktivitas yang dilakukan oleh para pasien untuk setiap harinya tidak ada perbedaan. Dimana pasien bangun setiap pukul 05.00 WIB dengan melakukan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing dimana untuk yang kristiani melakukan renungan dengan dibimbing salah seorang petugas Griya Sehat Bahagia yang berisi membaca firman, ayat-ayat kristiani dan untuk yang umat muslim ada yang hanya mendengarkan ada pula yang melakukan ibadah sendiri di kamarnya maisng-masing. Renungan dilakukan ketika pagi dan menjelang tidur. Pada hari-hari biasa, renungan dipimpin oleh seorang yang bertugas di Griya Sehat Bahagia namun, ketika hari Minggu renungan di pimpin oleh seorang pendeta yang di datangkan dari gereja dengan di bagi menjadi dua bagian. Renungan untuk pasien di lantai atas yang mengalami sakit stroke dan renungan untuk pasien di lantai bawah yang mengalami gangguan kejiwaan. Sedangkan untuk yang muslim, dibebaskan untuk membaca surat-surat pendek, membaca Al Quran ataupun beribadah karena, pasien yang muslim mendapat bimbingan langsung dari ibu ustadzah setiap sebulan sekali sehingga untuk setiap harinya pasien yang muslim hanya bisa berdiam diri di kamar kemudian mempelajari sendiri tuntunan Al Qurannya. Setalah melakukan renungan, pasien dituntun untuk membiasakan diri minum teh lalu berjemur sembari menggerakkan tangan sebagai kegiatan senam kecil agar otot-otot dan tulang-tulang pasien tidak kaku. Setelah melakukan senam kecil, pasien dibebaskan melakukan aktiviatas mulai nonton tv, membaca kitab ataupun sekedar santai-santai di ruangan sembari menantikan snack yang akan dibagikan oleh petugas Griya Sehat Bahagia. Setelah snack dibagikan, tepat pukul 11.30 WIB mulai menantikan untuk makan siang, setelah makan siang pasien di bebaskan untuk tidur siang. Namun, pasien selalu diberikan pelatihan dalam membuat rajutan taplak meja, rajutan keset ataupun menggunting kapas. Hal itu dilakukan dan diberikan dalam usaha untuk mengalihkan perhatian pasien dalam memikirkan berbagai pengalaman yang membuat dirinya sedih dan terpuruk. Terbukti, dengan adanya kesibukan yang demikian pasien mampu melupakan sedikit pengalaman yang di masa lalu. Selain itu pula, pasien menjadi lebih aktif dan produktif. Dalam melakukan kegiatan yang demikian, pasien tidak serta merta hanya membuat namun, dari pihak pantipun memberikan sedikit reward berupa uang tunai sebagai usaha untuk menghargai usaha pasien dalam menciptakan sesuatu. Selain mengalihkan perhatian akan pengalaman masa lalu, kegiatan yang demikian ditujukan agar pasien ngerasa di anggap dalam keluarga barunya yang sekarang dan tidak merasa terasingkan meski tinggal di dalam sebuah panti yang dihuni oleh beberapa lansia yang memiliki keterbelakangan dan gangguan. Ketika kegiatan merajut ataupun menggunting kapas tidak ada, biasanya pasien hanya tidur siang sampai pukul 15.30 WIB kemudian mandi dan menunggu makan malam. Pasien dianjurkan ketika waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB karena dalam pengaruh obat.
Ketika melakukan wawancara dengan petugas yang ada di Griya Sehat Bahagia, iapun mengakui bahwa kegiatan ataupun rutinitas keseharian yang ada di Griya Sehat Bahagia ini tidak memiliki variasi. Hal itu disebabkan karena ketika dulu awal berdirinya Griya Sehat Bahagia saat pertama kali memiliki pasien, sempat disediakan sebuah mobil untuk mengantarkan pasien sekedar jalan-jalan. Namun, suatu ketika sedang diajak jalan-jalan ada seorang pasien yang nekat turun dan jalan-jalan sampai jalan raya di jalan yang notabennya belum ia kenali sehingga ada kejadian pasien tersebut tertabrak mobil dan meninggal. Sejak saat itupulalah pihak Griya Sehat Bahagia tidak menyediakan fasilitas untuk jalan-jalan atau sekedar refreshing. Sehingga ketika pasien ingin berlibur ataupun refreshing hanya menunggu dari pihak keluarga yang menjenguk dan mengajak pasien untuk liburan.
Petugas menjelaskan bahwa pasien yang ada di Griya Sehat Bahagia merupakan keturunan cina. Dan untuk pasien yang keturunan jawa masih minim karena pada dasarnya orang jawa masih memegang teguh adat istiadat yang menyatakan bahwa ketika memasukkan orang tua di panti adalah hal yang sangat durhaka. Namun, petugas Griya Sehat Bahagia memaparkan bahwa seiring jalannya waktu nanti, orang tua yang dimasukkan ke dalam panti akan menjadi suatu gaya hidup masa kini. Karena, petugas berpendapat ketika di rumah dengan anak dan cucunya seorang yang lanjut usia akan sulit untuk sepaham dengan mereka yang masih muda namun ketika mereka di satukan dalam sebuah rumah seperti yang ada di Griya Sehat Bahagia ini maka merekapun akan merasa bahwa mereka memiliki teman yang sepaham dengan mereka dan seumuran dengan mereka. Sehingga tidak heran jika banyak dari pasien yang lebih memilih kembali ke Griya Sehat Bahagia dibanding dengan di rumah karena di Griya Sehat Bahagia memiliki teman dan tidak sendiri karena ditinggal keluarganya yang sibuk bekerja atau sibuk dengan urusannya masing-masing.
Dalam Griya Sehat Bahagia, mayoritas dihuni oleh pasien yang mengalami gangguan depresi, halusinasi dengan latar belakang yang berbeda diantaranya : ayahnya meninggal, ditinggal selingkuh atau pergi oleh suaminya, cinta yang tidak mendapat restu dari orang tua, skripsi yang tidak terselesaikan dan obsesi dalam mencintai. Meskipun terdapat perbedaan untuk gangguan yang dialami oleh pasien Griya Sehat Bahagia, namun mereka senantiasa membantu satu dengan yang lainnya. Misalnya saling menyuapi ataupun saling membantu mengangkat pasien yang mengalami stroke. Namun, pada penelitian ini peneliti memfokuskan pada subjek yang mengalami gangguan depresi akibat ditinggal pergi oleh suaminya. Subjek berinisial M yang berumur 45 tahun memiliki seorang anak laki-laki yang saat ini bekerja di Jakarta sebagai DJ. Subjek adalah anak ke empat dari enam saudara. Namun, keenam saudaranya tinggal di tempat yang berbeda-beda adapula saudara yang tinggal di RRC karena subjek adalah warga keturunan cina yang sejak kecil tinggal di pasuruan. Subjek dan saudaranya hanya bisa berkumpul ketika hari besar cina atau imlek saja. Dan subjek pindah ke solo ketika tahun 2009 dan tinggal bersama adik yang nomor 5 di daerah Pajang Laweyan dengan tujuan agar bisa menenangkan pikirannya. Namun, bukannya sembuh malah tambah parah. Di rumah subjek sering berdiam diri dan asik dengan dunianya sendiri, sehingga pihak keluarga memutuskan untuk membawa subjek ke Griya Sehat Bahagia dengan maksud agar subjek tidak merasa sendiri karena di Griya Sehat Bahagia mayoritas penghuninya adalah lanjut usia.Subjek adalah lulusan Sarjana Bahasa Inggris di Universitas ternama di Jawa Timur. Subjek lulus kuliah tepat waktu dengan nilai yang cukup membanggakan. Subjek bercerita bahwa subjek bertemu dengan suaminya ketika subjek masih duduk di SMA sampai berlanjut ke pernikahan namun, ketika subjek di diagnosa mengidap penyakit kanker payudara dan harus diangkat, suami subjek memilih untuk pergi meninggalkan subjek beserta anaknya. Subjek mengaku bahwa ia sering pulang ke rumah adiknya setiap 2 bulan sekali dan di rumah selama 10 hari. Subjek berfikiran bahwa ketika ia harus tetap di Griya Sehat Bahagia ini karena faktor subjek mengalami sakit kanker payudara. Namun, pada realitanya subjek juga sempat mengalami depresi karena ditinggal suaminya yang tidak bisa menerima keadaan subjek yang menderita sakit payudara tersebut. Pada awalnya sebelum subjek datang ke Griya Sehat Bahagia, subjek mengaku memiliki sebuah rumah di pajang dan memiliki sebuah salon. Namun, saat ini subjek menceritakan bahwa subjek sedang menyewakan sebuah ruko yang ada di pajang untuk pendapatan keseharian. Subjek juga bercerita bahwa subjek memiliki calon menantu yang telah di kenalkan sang anaknya ketika pulang ke Solo.
Pada tahun 2013 subjek masuk di Griya Sehat Bahagia dengan di antarkan oleh adik kandung subjek. Awalnya, subjek hanya dibujuk untuk menginap di Griya Sehat Bahagia karena harus menjalani pengobatan untuk kesembuhan kanker payudaranya. Subjek merasa senang ketika pertama kalinya masuk di Griya Sehat Bahagia karena, penghuni Griya Sehat Bahagiapun menyambutnya dengan tangan terbuka sehingga subjek tidak merasa curiga ketika pertama kali masuk di Griya Sehat Bahagia ini. Subjek tergolong suka menyendiri karena subjek memilih untuk tidur di kamar yang satu kamar hanya untuk satu orang dibanding harus bergabung dengan kamar yang ditempati oleh 4-6 orang. Namun, meskipun begitu subjek tidak merasa mengalami kesulitan dalam urusan untuk menyesuaikan diri dengan penghuni yang lain. Subjek memiliki cara tersendiri dalam penyesuaian kebiasaan disana, misal subjek mengikuti kegiatan nonton tv bersama dan subjekpun ikut berperan dalam pembuatan beberapa kerajinan seperti taplak meja, keset ataupun keset. Subjek merasa senang ketika subjek berhasil membuat kerajinan tangan, subjek mendapatkan reward berupa uang Rp 20.000 dan subjek gunakan uang tersebut untuk membelikan oleh-oleh bagi penghuni yang lain ketika subjek pulang ke rumah sang adik.Untuk keseharian, subjek mengaku bahwa subjek tidak bisa untuk mencuci dan memasak sehingga untuk kegiatan mencuci dan memasak subjek tidak bisa membantu. Namun, untuk membersihkan rumah dan menata beberapa tempat tidur subjekpun ikut serta dalam membantu hal tersebut.
Subjek memiliki kebiasaan untuk tidur siang ketika pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Setelah bangun subjek memilih untuk makan dan dilanjutkan tidur lagi kemudian bangun pukul 16.20 WIB lalu mandi dan menonton tv. Subjek menyukai tontonan yang berada di salah satu stasiun tv swasta. Subjekpun mampu menceritakan alur cerita dari awal sampai akhir. Subjek mengakui bahwa subjek tidak pernah mengalami konflik dengan pasien yang lain meskipun ada perbedaan antar pasien. Subjek mengakui bahwa selama berada di Griya Sehat Bahagia tidak mengalami perselisihan yang kompleks antar pasien karena dalam rumah Griya Sehat Bahagia ini mampu saling memahami dan lebih kepada tidak mudah tersinggungan.
C.    Teori
Depresi merupakan salah satu masalah kese-hatan mental utama saat ini, yang mendapat­kan perhatian serius. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsio-nal, dan tingkah laku serta kognisi bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997; Nevid, Rathus, & Greene, 2005; Lubis, 2009). Depresi dapat terjadi pada anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Orang yang mengalami depresi akan memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kece­masan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai dengan berba-gai gejala fisik (Korff & Simon, 1996; National Academy on an Aging Society, 2000; Dooley, Prause, & Ham-rowbottom, 2000; Sharp & Lipsky, 2002; Eby & Eby, 2006; Arcache, & Tordjman, 2012).
Gangguan depresi pada umumnya dice­tuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Namun, setiap orang mempunyai perbedaan yang men­dasar yang memungkinkan suatu peristiwa yang dihadapi secara berbeda, dapat memun­culkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Depresi memiliki beberapa penyebab, dan salah satu yang terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk mengalami kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami kesulitan dalam fungsi sosial, peker­jaan dan kehidupan sehari-hari (Stice, Ragan & Randall, 2004; Bitsika, Sharpley, & Melhem, 2010; Callahan, Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012). Depresi merupakan kondisi emosional seseorang yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, Neale&Kring, 2010).
      Menurut Kaplan (2010) bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, faktor kognitif, faktor lingkungan,kepribadian dan faktor psikososial.
1.    Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan suasana hati. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada Utarapasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2010). Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun. Hal tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi dopamin menurun seperti parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala depresi (Kaplan, 2010). Disregulasi neuroendokrin dan Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan perubahan pada amin biogenik sentral. Aksis neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis hormon pertumbuhan. Sekresi CRH dipengaruhi oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang merupakan organ utama pada sistem endokrin dan fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan peningkatan sekresi CRH (Landefeld, 2004). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase (Unutzer dkk, 2002).
2.    Faktor Genetik
Faktor genetik. Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Resiko untuk terjadinya depresi meningkat antara 20 – 40 % untuk keluarga keturunan pertama. Dapat dikatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi psikotik dan depresi nonpsikotik terdapat insiden yang tinggi dari gejala depresi ini. Memiliki satu orangtua yang mengalami depresi, meningkatkan resiko dua kali pada keturunannya. Resiko itu meningkat menjadi empat kali bila kedua orangtuanya sama-sama mengalami depresi.
3.     Lingkungan
Lingkungan juga memainkan peran yang kuat dalam menyebabkan depresi. Faktorfaktor lingkungan, seperti stress, kehilangan, atau mengubah sering memicu episode depresi (Harun, 2010). Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi yaitu mulai faktor genetik sampai dengan faktor nongenetik. Faktor genetik, ketidakseimbangan biogenik, gangguan neuroendokrin dan perubahan neurofisiologi, serta faktor psikologik seperti kehilangan objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi kognitif, ketidakberdayaan yang dipelajari dan faktor-faktor lain yang diduga berperan dalam terjadinya depresi (Nurmiati, 2005).
4.    Faktor psikososial
Peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010).]
5.    Faktor kepribadian
Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan, 2010).
6.    Faktor psikodinamika.
Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satusatunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
7.     Faktor kognitif
Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010)
Karakteristik utama individu yang depresi adalah adanya distorsi negatif. Kondisi terse­but akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku dan kognitif serta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri individu (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997). Faktor lain penyebab terjadinya deprsi adalah :
                                          1.     Gangguan emosi: Perasaan sedih atau murung, iritabilitas, ansietas, ikatan emosi berkurang, menarik diri dari hubungan interpersonal, preokupasi dengan kematian.
                                          2.     Gangguan kognitif: Distorsi kognitif seperti mengeritik diri sendiri, rasa bersalah, persaan tak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis, dan putus asa.
                                          3.     Penurunan fungsi kognitif seperti bingung, konsentrasi buruk, perhatian kurang, daya ingat menurun, dan sering ragu-ragu.
                                          4.     Keluhan somatik: Sakit kepala, keluhan saluran pencernaan, keluhan haid, dan lain-lain.
                                          5.     Gangguan psikomotor: Retardasi psikomotor, gerakan lambat, pembicaraan lambat, malas, dan merasa tidak bertenaga atau lesu.
                                          6.     Gangguan vegetatif: Tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, tidak ada nafsu makan atau terlalu banyak makan, penurunan berat badan atau penambahan berat badan, gangguan fungsi seksual
Untuk mengatasi-nya diperlukan terapi yang dapat mengatasi tekanan yang dihadapi individu yang depresi yang dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya.
Positive Psychotherapy merupakan suatu strategi terapi terstruktur dan sistematis yang menggabungkan pendekatan transkultural, psikodinamika dan cognitive-behavioural un­tuk memahami dinamika konflik yang diala-mi subyek serta terfokus pada upaya mem­bangun potential human strengths diri subyek (Peseschkian, 1997). Positive Psychotherapy sebagai suatu intervensi untuk menangani ber­bagai gangguan klinis dengan tujuan memba-ngun emosi positif, kekuatan karakter, dan ke­bermaknaan sehingga dapat meniadakan atau mencegah munculnya kembali gangguan terse­but di masa mendatang (Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006).
Depresi pada prinsipnya dapat dipulihkan secara efektif tidak hanya dengan menguran­gi gejala negatif dan menurunkan tingkatan depresi, tetapi juga dengan membangun emosi positif, kekuatan karakter, dan makna. Positive Psychotherapy kemungkinan akan dapat men­etralkan gejala negatif dan dapat memperkuat karakter individu (Seligman, Steen, Park, & Peterson, 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006; Snyder, & Lopez, 2007).
D.    PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan metode Observasi dan interview. Dimana, interview dilakukan dengan 3 subjek dan 2 petugas Griya Sehat Bahagia. Dan observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan kegiatan yang dilakukan sejak pagi sampai siang hari selama 2 hari. Alasan dipilihnya metode observasi dan interview ini karena peneliti hanya ingin sekedar menegtahui cara peneysuaian diri pasien yang mengalami depresi di griya sehat bahagia yang notabennya bukan hanya sebagai tempat untuk menampung penderita sakit gangguan jiwa namun juga sebagai tempat untuk lansia yang tidak memiliki sanak keluarga ataupun tunawisma.
Penelitian ini memberikan hasil bahwa, di Griya Sehat Bahagia memiliki penghuni yang mayoritas adalah yang mengalami gangguan jiwa dengan perbandingan 2 banding 1. Dimana, berdasarkan teori, in­dividu yang mengalami depresi umumnya me-ngalami gangguan yang meliputi keadaan emo­si, motivasi, fungsional, dan tingkah laku serta kognisi bercirikan ketidakberdayaan yang ber­lebihan (Kaplan, Sadock & Grebb, 1997; Lubis, 2009). Akibat dari gangguan depresi adalah adanya gangguan kesehatan yang dialami ter­masuk ketidaknyamanan, rasa sakit atau pen­deritaan, atau kesulitan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti hilang-nya produktivitas sehingga dapat mempenga­ruhi berbagai aspek kehidupan. Selain itu, in­dividu yang terdepresi akan nampak keadaan ketidakberdayaan dan adanya distorsi nega­tif. Menurut teori, kondisi ketidakberdayaan dan distorsi negatif akibat depresi akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku dan kognitif ser­ta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri individu (Kaplan, Sadock & Grebb, 1997). Dengan melihat kondisi terse­but, maka diperlukannya suatu intervensi yang dapat mengatasi tekanan yang dihadapi sese-orang individu yang bermasalah atau depresi dengan menggunakan beberapa pendekatan yang dapat menurunkan gejala depresi sekali-gus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya. Perbandingan tersebut di dapat dengan melakukan interview dengan petugas yang menjelaskan bahwa pasien yang mengalami depresi ataupun halusinasi sebanyak 20 pasien dengan yang mengalami stroke sebanyak 10 mengalami stroke dan 12 mengalami pikun.
Dengan melakukan wawancara terhadap beberapa pasien yang ada di Griya Sehat Bahagia dan memfokuskan satu subjek sehingga memperoleh sebuah data yang membuktikan bahwa penyesuaian di Griya Sehat Bahagia mampu berjalan dengan keterbukaan penghuni lama dengan penghuni baru di Griya Sehat Bahagia tersebut. Dan hal tersebut dibuktikan kembali dengan observasi yang telah dilakukan peneliti selama 5 hari sering mengunjungi Griya Sehat Bahagia. Dimana pada awal peneliti datang, pasien menyambut dengan memberi salam dan menggulurkan tangan tanda meminta jabat tangan dan memperkenalkan diri. Dan ketika dilakukan observasi terkait usaha yang dilakukan oleh pihak petugas dalam menyesuaika sikap pasien dengan petugas, mereka hanya cukup dengan mendekati pasien dengan palan-pelan lalu mengajak berinteraksi maka dengan sendirinya pasien akan menceritakan segala sesuatunya kepada petugas.
Dengan observasi yang dilakukan dengan cara mendekati pasien lalu mengajak mereka untuk berbicara dan kita harus mampu mengikuti alur mereka dalam berkomunikasi agar tidak salah dalam mengungkapkan beberapa pertanyaan ataupun pernyataan dalam usaha mencapai informasi yang kompleks dari subjek yang ditargetkan.







Daftar Pustaka

 

Hayuningtyas, D. O., Supriyono, Y., & Lestari, S. (n.d.). Upaya Bunuh Diri Sebagai Bentuk Depresi Pada Remaja Putri Korban Trafficking. Jurnal Publikasi, 1-10.
Nilasari, S. (2013). Positive Psychoteraphy untuk menurunkan tingkat depresi. Jurnal Sains Dan Praktik Psikologi, 179-189.
Putri, A. K. (2012). Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Depresi pada wanita Perimenopause. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 1-3.
Radityo, W. E. (n.d.). Depresi dan gangguan tidur. Jurnal Publikasi, 1-4.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar