TUGAS
APLIKASI PSIKOLOGI KLINIS
PENYESUAIAN
DIRI LANSIA YANG MENGALAMI DEPRESI DI GRIYA SEHAT BAHAGIA KARANGANYAR DENGAN
MENGGUNAKAN METODE OBSERVASI DAN INTERVIEW
Dosen
Pengampu : Dr. Eny Purwandari M.Si
Disusun Guna
Memenuhi Tugas Awal mata Kuliah Aplikasi Psikologi Klinis Semester 6
DISUSUN OLEH :
PRAPTI MADYO
RATRI
F100124021
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
A. ORIENTASI KANCAH
Masalah
kesehatan jiwa akan muncul bila lansia tidak dapat menyesuaikan diri dengan
baik terhadap perubahan-perubahan yang terjadi seiring dengan proses penuaan,
salah satunya timbul dalam bentuk depresi. Kemampuan lansia dalam beradaptasi
tersebut dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang mereka miliki. Tipe kepribadian
akan menentukan kerentanan lansia terhadap terjadinya depresi. Orang yang
berusia lanjut akan menjadi sangat rentan terhadap gangguan kesehatan, termasuk
depresi yang disebabkan oleh stres dalam menghadapi perubahan-perubahan
kehidupan yang berhubungan dengan apa yang disebut sebagai tahun emas.
Perubahan kehidupan yang dimaksud antara lain adalah pensiun, penyakit atau
ketidakmampuan fisik, penempatan dalam panti wreda, kematian pasangan, dan kebutuhan
untuk merawat pasangan yang kesehatannya menurun. Kematian keluarga dan
teman-teman menimbulkan duka cita dan mengingatkan pada orang yang berusia
lanjut akan usia mereka yang semakin bertambah serta semakin berkurangnya
ketersediaan dukungan sosial (Nevid, Rathus & Greene, 2005, h.189).
Fakta
yang didapatkan di Griya Sehat Bahagia Karanganyar yang merupakan panti yang
dikhususkan untuk lansia dan berkelainan khusus bahwa para lansia penghuni
panti tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang sengaja di
masukkan ke dalam panti karena dari keluarga tidak sanggup untuk merawat,
adapula yang dimasukkan dari pihak gereja karena tidak adanya kesiapan dari
diri lansia tersebut dalam menghadapi permasalaha. Latar belakang kehidupan
seperti ini dapat memungkinkan terjadinya depresi pada lansia.
Kecenderungan
mengalami depresi meningkat sejalan bertambahnya usia. Kaum lansia merupakan
salah satu kelompok orang yang rentan mengalami depresi sepanjang hidupnya.
Pada lansia yang mengalami gangguan medis dan harus mendapatkan perawatan di
rawat inap.
Kondisi
depresi pada pasien lansia banyak dihubungkan dengan kebugaran fisiknya. Orang
lansia yang mengalami kondisi medis umum terkait dengan penyakit degeneratif
(hipertensi,kencing manis,rematik) lebih rentan mengalami depresi dibandingkan
yang tidak. Selain itu sindrom “sarang burung kosong” atau Empty Nest
Syndrome (Seringkali ditulis dengan pendekatan bahasa dan bunyi kata menjadi
Emptiness Syndrome atau sindrom kesepian) akibat kehilangan anak atau keluarga
yang biasanya mendampingi. Ini biasanya terjadi pada lansia yang ditinggalkan
anaknya menikah atau pisah dari rumahnya selama ini.Gangguan depresi pada
lansia bisa terjadi dengan berbagai gejala, paling banyak dilaporkan adalah
adanya gejala-gejala fisik . Insomnia atau sulit tidur, nyeri otot dan sendi,
gangguan cemas dan kurang nafsu makan adalah gejala-gejala depresi yang sering
timbul pada lansia. Gejala-gejala fisik ini akan menjadi sulit dibedakan dengan
gejala fisik pada kondisi medis umum karena sering kali mirip dan merupakan
bagian yang saling mempengaruhi. Untuk itulah dokter yang merawat pasien lansia
harus memahami betul konsep biopsikososial dan psikosomatik medis ketika
menangani pasien lansia karena gejala-gejala gangguan kejiwaan tersering pada
lansia seperti depresi bisa bermanifestasi dalam bentuk keluhan fisik.
Oleh
karena itu para lansia perlu mendapat perhatian dan dukungan dari lingkungan
dan keluarga agar dapat mengatasi perubahan yang terjadi, selain perubahan
keadaan fisik dan keadaan mental yang makin rentan. Sehingga dengan ini
peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian “Penyesuaian Diri Lansia Yang Mengalami Depresi Di Griya Sehat Bahagia
Karanganyar”
B.
HASIL
Griya Sehat Bahagia merupakan
panti sosial yang didirikan oleh seorang dokter dengan inisial nama M.A yang
merupakan mantan dokter di Rumah Sakit
Jiwa dengan latar belakang adanya permintaan dari beberapa keluarga pasien yang
menginginkan agar dokter M.A saja yang merawat pasien. Hal itu dikarenakan
banyak dari beberapa pasien Rumah Sakit Jiwa tersebut memiliki kedekatan dengan
dokter M.A. Pada tahun 2002 Griya Sehat Bahagia menerima pasien 13 orang dengan
memiliki berbagai latar belakang yaitu 3 orang mengalami stroke, 5 mengalami
gangguan karena adanya pengalaman yang tidak baik di masa lalu dan 5 orang
merupakan pasien yang di dapatkan dari gereja. Mayoritas pasien yang berada di
Griya Sehat Bahagia adalah wanita. Dari tahun ke tahun, Pasien yang ada di Griya
Sehat Bahagia mengalami peningkatan hingga pada tahun 2015 sekarang ini pasien
yang ada di Griya Sehat Bahagia mencapai 42 Pasien dengan latar belakang
gangguan stroke dan gangguan psikis yaitu depresi. Selain pasien, di Griya
Sehat bahagia juga terdapat 15 petugas yang berkewajiban mempersiapkan makanan,
mencuci pakaian, membersihkan tempat mereka tinggal, mengendalikan perilaku
pasien dan memberikan beberapa pelatihan untuk meningkatkan kesibukan lansia
dalam mengalihakan perhatian dengan pengalaman yang lalu. Sedangkan untuk
perawat hanya bertugas memberikan obat kepada pasien dan melakukan suntik
injeksi ketika hal itu di butuhkan. Untuk dokternya sendiri, datang hanya
ketika hari selasa dan kamis guna mengontrol perkembangan pasien.
Fasilitas yang disediakan Griya
Sehat Bahagia berupa kamar individu ataupun yang bersama-sama. Ada kamar yang
satu kamar isi 1 orang, 2 orang, 3 orang, ataupun 6 orang. Semua kamar
disesuaikan dengan keinginan dari keluarga ataupun dari pasien itu sendiri.
Aktivitas yang dilakukan oleh
para pasien untuk setiap harinya tidak ada perbedaan. Dimana pasien bangun
setiap pukul 05.00 WIB dengan melakukan ibadah sesuai dengan agamanya
masing-masing dimana untuk yang kristiani melakukan renungan dengan dibimbing
salah seorang petugas Griya Sehat Bahagia yang berisi membaca firman, ayat-ayat
kristiani dan untuk yang umat muslim ada yang hanya mendengarkan ada pula yang
melakukan ibadah sendiri di kamarnya maisng-masing. Renungan dilakukan ketika
pagi dan menjelang tidur. Pada hari-hari biasa, renungan dipimpin oleh seorang
yang bertugas di Griya Sehat Bahagia namun, ketika hari Minggu renungan di
pimpin oleh seorang pendeta yang di datangkan dari gereja dengan di bagi
menjadi dua bagian. Renungan untuk pasien di lantai atas yang mengalami sakit
stroke dan renungan untuk pasien di lantai bawah yang mengalami gangguan
kejiwaan. Sedangkan untuk yang muslim, dibebaskan untuk membaca surat-surat
pendek, membaca Al Quran ataupun beribadah karena, pasien yang muslim mendapat
bimbingan langsung dari ibu ustadzah setiap sebulan sekali sehingga untuk
setiap harinya pasien yang muslim hanya bisa berdiam diri di kamar kemudian
mempelajari sendiri tuntunan Al Qurannya. Setalah melakukan renungan, pasien
dituntun untuk membiasakan diri minum teh lalu berjemur sembari menggerakkan
tangan sebagai kegiatan senam kecil agar otot-otot dan tulang-tulang pasien
tidak kaku. Setelah melakukan senam kecil, pasien dibebaskan melakukan
aktiviatas mulai nonton tv, membaca kitab ataupun sekedar santai-santai di
ruangan sembari menantikan snack yang akan dibagikan oleh petugas Griya Sehat
Bahagia. Setelah snack dibagikan, tepat pukul 11.30 WIB mulai menantikan untuk
makan siang, setelah makan siang pasien di bebaskan untuk tidur siang. Namun,
pasien selalu diberikan pelatihan dalam membuat rajutan taplak meja, rajutan
keset ataupun menggunting kapas. Hal itu dilakukan dan diberikan dalam usaha
untuk mengalihkan perhatian pasien dalam memikirkan berbagai pengalaman yang
membuat dirinya sedih dan terpuruk. Terbukti, dengan adanya kesibukan yang
demikian pasien mampu melupakan sedikit pengalaman yang di masa lalu. Selain
itu pula, pasien menjadi lebih aktif dan produktif. Dalam melakukan kegiatan
yang demikian, pasien tidak serta merta hanya membuat namun, dari pihak
pantipun memberikan sedikit reward berupa uang tunai sebagai usaha untuk
menghargai usaha pasien dalam menciptakan sesuatu. Selain mengalihkan perhatian
akan pengalaman masa lalu, kegiatan yang demikian ditujukan agar pasien ngerasa
di anggap dalam keluarga barunya yang sekarang dan tidak merasa terasingkan
meski tinggal di dalam sebuah panti yang dihuni oleh beberapa lansia yang
memiliki keterbelakangan dan gangguan. Ketika kegiatan merajut ataupun
menggunting kapas tidak ada, biasanya pasien hanya tidur siang sampai pukul
15.30 WIB kemudian mandi dan menunggu makan malam. Pasien dianjurkan ketika
waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB karena dalam pengaruh obat.
Ketika melakukan wawancara
dengan petugas yang ada di Griya Sehat Bahagia, iapun mengakui bahwa kegiatan
ataupun rutinitas keseharian yang ada di Griya Sehat Bahagia ini tidak memiliki
variasi. Hal itu disebabkan karena ketika dulu awal berdirinya Griya Sehat
Bahagia saat pertama kali memiliki pasien, sempat disediakan sebuah mobil untuk
mengantarkan pasien sekedar jalan-jalan. Namun, suatu ketika sedang diajak
jalan-jalan ada seorang pasien yang nekat turun dan jalan-jalan sampai jalan
raya di jalan yang notabennya belum ia kenali sehingga ada kejadian pasien
tersebut tertabrak mobil dan meninggal. Sejak saat itupulalah pihak Griya Sehat
Bahagia tidak menyediakan fasilitas untuk jalan-jalan atau sekedar refreshing.
Sehingga ketika pasien ingin berlibur ataupun refreshing hanya menunggu dari
pihak keluarga yang menjenguk dan mengajak pasien untuk liburan.
Petugas menjelaskan bahwa
pasien yang ada di Griya Sehat Bahagia merupakan keturunan cina. Dan untuk
pasien yang keturunan jawa masih minim karena pada dasarnya orang jawa masih
memegang teguh adat istiadat yang menyatakan bahwa ketika memasukkan orang tua
di panti adalah hal yang sangat durhaka. Namun, petugas Griya Sehat Bahagia
memaparkan bahwa seiring jalannya waktu nanti, orang tua yang dimasukkan ke
dalam panti akan menjadi suatu gaya hidup masa kini. Karena, petugas
berpendapat ketika di rumah dengan anak dan cucunya seorang yang lanjut usia
akan sulit untuk sepaham dengan mereka yang masih muda namun ketika mereka di
satukan dalam sebuah rumah seperti yang ada di Griya Sehat Bahagia ini maka
merekapun akan merasa bahwa mereka memiliki teman yang sepaham dengan mereka
dan seumuran dengan mereka. Sehingga tidak heran jika banyak dari pasien yang
lebih memilih kembali ke Griya Sehat Bahagia dibanding dengan di rumah karena
di Griya Sehat Bahagia memiliki teman dan tidak sendiri karena ditinggal keluarganya
yang sibuk bekerja atau sibuk dengan urusannya masing-masing.
Dalam Griya Sehat Bahagia,
mayoritas dihuni oleh pasien yang mengalami gangguan depresi, halusinasi dengan
latar belakang yang berbeda diantaranya : ayahnya meninggal, ditinggal
selingkuh atau pergi oleh suaminya, cinta yang tidak mendapat restu dari orang
tua, skripsi yang tidak terselesaikan dan obsesi dalam mencintai. Meskipun
terdapat perbedaan untuk gangguan yang dialami oleh pasien Griya Sehat Bahagia,
namun mereka senantiasa membantu satu dengan yang lainnya. Misalnya saling
menyuapi ataupun saling membantu mengangkat pasien yang mengalami stroke.
Namun, pada penelitian ini peneliti memfokuskan pada subjek yang mengalami
gangguan depresi akibat ditinggal pergi oleh suaminya. Subjek berinisial M yang
berumur 45 tahun memiliki seorang anak laki-laki yang saat ini bekerja di
Jakarta sebagai DJ. Subjek adalah anak ke empat dari enam saudara. Namun,
keenam saudaranya tinggal di tempat yang berbeda-beda adapula saudara yang
tinggal di RRC karena subjek adalah warga keturunan cina yang sejak kecil
tinggal di pasuruan. Subjek dan saudaranya hanya bisa berkumpul ketika hari
besar cina atau imlek saja. Dan subjek pindah ke solo ketika tahun 2009 dan
tinggal bersama adik yang nomor 5 di daerah Pajang Laweyan dengan tujuan agar
bisa menenangkan pikirannya. Namun, bukannya sembuh malah tambah parah. Di
rumah subjek sering berdiam diri dan asik dengan dunianya sendiri, sehingga
pihak keluarga memutuskan untuk membawa subjek ke Griya Sehat Bahagia dengan
maksud agar subjek tidak merasa sendiri karena di Griya Sehat Bahagia mayoritas
penghuninya adalah lanjut usia.Subjek adalah lulusan Sarjana Bahasa Inggris di
Universitas ternama di Jawa Timur. Subjek lulus kuliah tepat waktu dengan nilai
yang cukup membanggakan. Subjek bercerita bahwa subjek bertemu dengan suaminya
ketika subjek masih duduk di SMA sampai berlanjut ke pernikahan namun, ketika
subjek di diagnosa mengidap penyakit kanker payudara dan harus diangkat, suami
subjek memilih untuk pergi meninggalkan subjek beserta anaknya. Subjek mengaku
bahwa ia sering pulang ke rumah adiknya setiap 2 bulan sekali dan di rumah
selama 10 hari. Subjek berfikiran bahwa ketika ia harus tetap di Griya Sehat
Bahagia ini karena faktor subjek mengalami sakit kanker payudara. Namun, pada
realitanya subjek juga sempat mengalami depresi karena ditinggal suaminya yang
tidak bisa menerima keadaan subjek yang menderita sakit payudara tersebut. Pada
awalnya sebelum subjek datang ke Griya Sehat Bahagia, subjek mengaku memiliki
sebuah rumah di pajang dan memiliki sebuah salon. Namun, saat ini subjek
menceritakan bahwa subjek sedang menyewakan sebuah ruko yang ada di pajang
untuk pendapatan keseharian. Subjek juga bercerita bahwa subjek memiliki calon
menantu yang telah di kenalkan sang anaknya ketika pulang ke Solo.
Pada tahun 2013 subjek masuk di
Griya Sehat Bahagia dengan di antarkan oleh adik kandung subjek. Awalnya,
subjek hanya dibujuk untuk menginap di Griya Sehat Bahagia karena harus
menjalani pengobatan untuk kesembuhan kanker payudaranya. Subjek merasa senang
ketika pertama kalinya masuk di Griya Sehat Bahagia karena, penghuni Griya
Sehat Bahagiapun menyambutnya dengan tangan terbuka sehingga subjek tidak
merasa curiga ketika pertama kali masuk di Griya Sehat Bahagia ini. Subjek
tergolong suka menyendiri karena subjek memilih untuk tidur di kamar yang satu
kamar hanya untuk satu orang dibanding harus bergabung dengan kamar yang
ditempati oleh 4-6 orang. Namun, meskipun begitu subjek tidak merasa mengalami
kesulitan dalam urusan untuk menyesuaikan diri dengan penghuni yang lain.
Subjek memiliki cara tersendiri dalam penyesuaian kebiasaan disana, misal
subjek mengikuti kegiatan nonton tv bersama dan subjekpun ikut berperan dalam
pembuatan beberapa kerajinan seperti taplak meja, keset ataupun keset. Subjek
merasa senang ketika subjek berhasil membuat kerajinan tangan, subjek
mendapatkan reward berupa uang Rp 20.000 dan subjek gunakan uang tersebut untuk
membelikan oleh-oleh bagi penghuni yang lain ketika subjek pulang ke rumah sang
adik.Untuk keseharian, subjek mengaku bahwa subjek tidak bisa untuk mencuci dan
memasak sehingga untuk kegiatan mencuci dan memasak subjek tidak bisa membantu.
Namun, untuk membersihkan rumah dan menata beberapa tempat tidur subjekpun ikut
serta dalam membantu hal tersebut.
Subjek memiliki kebiasaan untuk
tidur siang ketika pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB. Setelah
bangun subjek memilih untuk makan dan dilanjutkan tidur lagi kemudian bangun
pukul 16.20 WIB lalu mandi dan menonton tv. Subjek menyukai tontonan yang
berada di salah satu stasiun tv swasta. Subjekpun mampu menceritakan alur
cerita dari awal sampai akhir. Subjek mengakui bahwa subjek tidak pernah
mengalami konflik dengan pasien yang lain meskipun ada perbedaan antar pasien. Subjek
mengakui bahwa selama berada di Griya Sehat Bahagia tidak mengalami
perselisihan yang kompleks antar pasien karena dalam rumah Griya Sehat Bahagia
ini mampu saling memahami dan lebih kepada tidak mudah tersinggungan.
C.
Teori
Depresi
merupakan salah satu masalah kese-hatan mental utama saat ini, yang mendapatkan
perhatian serius. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang
meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsio-nal, dan tingkah laku serta kognisi
bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997;
Nevid, Rathus, & Greene, 2005; Lubis, 2009). Depresi dapat terjadi pada
anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Orang yang mengalami depresi akan
memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa,
kecemasan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai
dengan berba-gai gejala fisik (Korff & Simon, 1996; National Academy on an
Aging Society, 2000; Dooley, Prause, & Ham-rowbottom, 2000; Sharp &
Lipsky, 2002; Eby & Eby, 2006; Arcache, & Tordjman, 2012).
Gangguan depresi pada
umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Namun, setiap orang
mempunyai perbedaan yang mendasar yang memungkinkan suatu peristiwa yang
dihadapi secara berbeda, dapat memunculkan reaksi yang berbeda antara satu
orang dengan yang lain. Depresi memiliki beberapa penyebab, dan salah satu yang
terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data
yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk mengalami
kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami kesulitan dalam
fungsi sosial, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari (Stice, Ragan &
Randall, 2004; Bitsika, Sharpley, & Melhem, 2010; Callahan, Liu, Hetrick,
Purcell, & Parker, 2012). Depresi merupakan kondisi emosional
seseorang yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan
tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur,
kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam
aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, Neale&Kring, 2010).
Menurut Kaplan (2010)
bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor
biologi, faktor genetik, faktor kognitif, faktor lingkungan,kepribadian dan
faktor psikososial.
1. Faktor
biologi
Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA
(5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi
phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien
gangguan suasana hati. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi
depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat
mencetuskan depresi, dan pada Utarapasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin
yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan
dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2010). Selain itu aktivitas dopamin pada
depresi adalah menurun. Hal tersebut
tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana
konsentrasi dopamin menurun seperti parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat
yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine,
dan bupropion, menurunkan gejala
depresi (Kaplan, 2010). Disregulasi neuroendokrin dan Hipotalamus merupakan pusat
pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin
biogenik. Pada pasien depresi ditemukan adanya
disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan
fungsi neuron yang mengandung
amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA)
dapat menimbulkan perubahan pada amin biogenik
sentral. Aksis neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis hormon
pertumbuhan. Sekresi CRH dipengaruhi
oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang
merupakan organ utama pada sistem endokrin
dan fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan
peningkatan sekresi CRH (Landefeld, 2004). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi hormon estrogen.
Estrogen berfungsi melindungi
sistem dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti
MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin.
Estrogen bersama dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase (Unutzer dkk, 2002).
2.
Faktor Genetik
Faktor
genetik. Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Resiko untuk terjadinya
depresi meningkat antara 20 – 40 % untuk keluarga keturunan pertama. Dapat
dikatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi psikotik dan depresi
nonpsikotik terdapat insiden yang tinggi dari gejala depresi ini. Memiliki satu
orangtua yang mengalami depresi, meningkatkan resiko dua kali pada
keturunannya. Resiko itu meningkat menjadi empat kali bila kedua orangtuanya
sama-sama mengalami depresi.
3.
Lingkungan
Lingkungan
juga memainkan peran yang kuat dalam menyebabkan depresi. Faktorfaktor
lingkungan, seperti stress, kehilangan, atau mengubah sering memicu episode depresi
(Harun, 2010). Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi yaitu mulai faktor
genetik sampai dengan faktor nongenetik. Faktor genetik, ketidakseimbangan
biogenik, gangguan neuroendokrin dan perubahan neurofisiologi, serta faktor
psikologik seperti kehilangan objek yang dicintai, hilangnya harga diri,
distorsi kognitif, ketidakberdayaan yang dipelajari dan faktor-faktor lain yang
diduga berperan dalam terjadinya depresi (Nurmiati, 2005).
4.
Faktor psikososial
Peristiwa
kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang
berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Peristiwa
kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres,
lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya.
Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam
depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki
peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling
berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan
(Kaplan, 2010).]
5.
Faktor kepribadian
Beberapa
ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian
dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk
terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian
yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah
(Kaplan, 2010).
6.
Faktor psikodinamika.
Berdasarkan
teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai
dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk mengerti depresi,
Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan
antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang
dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan
objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara
satusatunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia
atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan
penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan
mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
7.
Faktor kognitif
Adanya
interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi
negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan
keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi
(Kaplan, 2010)
Karakteristik utama individu
yang depresi adalah adanya distorsi negatif. Kondisi tersebut akan dapat
membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku dan
kognitif serta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri
individu (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997). Faktor lain penyebab terjadinya
deprsi adalah :
1. Gangguan
emosi: Perasaan sedih atau murung, iritabilitas, ansietas, ikatan emosi
berkurang, menarik diri dari hubungan interpersonal, preokupasi dengan
kematian.
2. Gangguan
kognitif: Distorsi kognitif seperti mengeritik diri sendiri, rasa bersalah,
persaan tak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis, dan putus asa.
3. Penurunan
fungsi kognitif seperti bingung, konsentrasi buruk, perhatian kurang, daya
ingat menurun, dan sering ragu-ragu.
4. Keluhan
somatik: Sakit kepala, keluhan saluran pencernaan, keluhan haid, dan lain-lain.
5. Gangguan
psikomotor: Retardasi psikomotor, gerakan lambat, pembicaraan lambat, malas,
dan merasa tidak bertenaga atau lesu.
6. Gangguan
vegetatif: Tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, tidak ada nafsu makan
atau terlalu banyak makan, penurunan berat badan atau penambahan berat badan,
gangguan fungsi seksual
Untuk
mengatasi-nya diperlukan terapi yang dapat mengatasi tekanan yang dihadapi
individu yang depresi yang dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat
menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya.
Positive
Psychotherapy merupakan suatu strategi
terapi terstruktur dan sistematis yang menggabungkan pendekatan transkultural,
psikodinamika dan cognitive-behavioural untuk memahami dinamika konflik
yang diala-mi subyek serta terfokus pada upaya membangun potential human
strengths diri subyek (Peseschkian, 1997). Positive Psychotherapy sebagai
suatu intervensi untuk menangani berbagai gangguan klinis dengan tujuan
memba-ngun emosi positif, kekuatan karakter, dan kebermaknaan sehingga dapat
meniadakan atau mencegah munculnya kembali gangguan tersebut di masa mendatang
(Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Seligman, Rashid, & Parks,
2006).
Depresi
pada prinsipnya dapat dipulihkan secara efektif tidak hanya dengan mengurangi
gejala negatif dan menurunkan tingkatan depresi, tetapi juga dengan membangun
emosi positif, kekuatan karakter, dan makna. Positive Psychotherapy kemungkinan
akan dapat menetralkan gejala negatif dan dapat memperkuat karakter individu
(Seligman, Steen, Park, & Peterson, 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006;
Snyder, & Lopez, 2007).
D. PEMBAHASAN
Penelitian
ini menggunakan metode Observasi dan interview. Dimana, interview dilakukan
dengan 3 subjek dan 2 petugas Griya Sehat Bahagia. Dan observasi dilakukan
dengan melakukan pengamatan kegiatan yang dilakukan sejak pagi sampai siang
hari selama 2 hari. Alasan dipilihnya metode observasi dan interview ini karena
peneliti hanya ingin sekedar menegtahui cara peneysuaian diri pasien yang
mengalami depresi di griya sehat bahagia yang notabennya bukan hanya sebagai tempat
untuk menampung penderita sakit gangguan jiwa namun juga sebagai tempat untuk
lansia yang tidak memiliki sanak keluarga ataupun tunawisma.
Penelitian
ini memberikan hasil bahwa, di Griya Sehat Bahagia memiliki penghuni yang
mayoritas adalah yang mengalami gangguan jiwa dengan perbandingan 2 banding 1.
Dimana, berdasarkan
teori, individu yang mengalami depresi umumnya me-ngalami gangguan yang
meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan tingkah laku serta kognisi
bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock & Grebb, 1997;
Lubis, 2009). Akibat dari gangguan depresi adalah adanya gangguan kesehatan
yang dialami termasuk ketidaknyamanan, rasa sakit atau penderitaan, atau
kesulitan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti
hilang-nya produktivitas sehingga dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Selain itu, individu yang terdepresi akan nampak keadaan ketidakberdayaan dan
adanya distorsi negatif. Menurut teori, kondisi ketidakberdayaan dan distorsi
negatif akibat depresi akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang
menggunakan teknik perilaku dan kognitif serta adanya teknik yang membangun
dorongan positif dalam diri individu (Kaplan, Sadock & Grebb, 1997). Dengan
melihat kondisi tersebut, maka diperlukannya suatu intervensi yang dapat
mengatasi tekanan yang dihadapi sese-orang individu yang bermasalah atau
depresi dengan menggunakan beberapa pendekatan yang dapat menurunkan gejala
depresi sekali-gus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya.
Perbandingan tersebut di dapat dengan melakukan interview dengan petugas yang
menjelaskan bahwa pasien yang mengalami depresi ataupun halusinasi sebanyak 20
pasien dengan yang mengalami stroke sebanyak 10 mengalami stroke dan 12
mengalami pikun.
Dengan
melakukan wawancara terhadap beberapa pasien yang ada di Griya Sehat Bahagia
dan memfokuskan satu subjek sehingga memperoleh sebuah data yang membuktikan
bahwa penyesuaian di Griya Sehat Bahagia mampu berjalan dengan keterbukaan
penghuni lama dengan penghuni baru di Griya Sehat Bahagia tersebut. Dan hal
tersebut dibuktikan kembali dengan observasi yang telah dilakukan peneliti
selama 5 hari sering mengunjungi Griya Sehat Bahagia. Dimana pada awal peneliti
datang, pasien menyambut dengan memberi salam dan menggulurkan tangan tanda
meminta jabat tangan dan memperkenalkan diri. Dan ketika dilakukan observasi
terkait usaha yang dilakukan oleh pihak petugas dalam menyesuaika sikap pasien
dengan petugas, mereka hanya cukup dengan mendekati pasien dengan palan-pelan
lalu mengajak berinteraksi maka dengan sendirinya pasien akan menceritakan
segala sesuatunya kepada petugas.
Dengan
observasi yang dilakukan dengan cara mendekati pasien lalu mengajak mereka
untuk berbicara dan kita harus mampu mengikuti alur mereka dalam berkomunikasi
agar tidak salah dalam mengungkapkan beberapa pertanyaan ataupun pernyataan
dalam usaha mencapai informasi yang kompleks dari subjek yang ditargetkan.
Daftar Pustaka
Hayuningtyas, D. O., Supriyono, Y.,
& Lestari, S. (n.d.). Upaya Bunuh Diri Sebagai Bentuk Depresi Pada Remaja
Putri Korban Trafficking. Jurnal Publikasi, 1-10.
Nilasari, S. (2013). Positive
Psychoteraphy untuk menurunkan tingkat depresi. Jurnal Sains Dan Praktik
Psikologi, 179-189.
Putri, A. K. (2012). Hubungan
Antara Penerimaan Diri dengan Depresi pada wanita Perimenopause. Jurnal
Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 1-3.
Radityo, W. E. (n.d.). Depresi dan
gangguan tidur. Jurnal Publikasi, 1-4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar