Minggu, 09 Oktober 2016

Lanjut Usia (LANSIA)

Tinjauan tentang Lanjut Usia (lansia) akan dijelaskan tentang pengertian, karakteristik, fase-fase lanjut usia, perubahan-perubahan pada lansia, dan permasalahan lansia dan kebutuhan lansia.

1.   Pengertian Lanjut Usia

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).
Menurut (Notoadmojo, 2010) Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Sedangkan menurut Prawitasari (dalam Hidayat,2010), lanjut usia adalah mereka yang mengalami perubahan fisik secara wajar, antara lain: kulit sudah tidak kencang lagi, otot-otot sudah mengendor, dan organ-organ tubuh kurang berfungsi dengan baik. Istilah “keuzuran” (senility) digunakan untuk mengacu pada periode waktu selama usia lanjut apabila kemunduran fisik dan disorganisasi mental sudah terjadi.
Menurut Suardiman (2011) menyebutkan batasan lansia untuk negara Asia termasuk didalamnya Indonesia, menggunakan batasan 60 tahun keatas. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Depkes RI (2013) yang menyebutkan penduduk lansia adalah kelompok yang berusia lebih dari 60 tahun.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Lanjut Usia adalah kelompok indidvidu yang berusia lebih dari 60 tahun dan merupakan tahap akhir perkembangan yang diikuti oleh beberapa perubahan secara bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade.

2.   Fase-Fase Lanjut Usia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (dalam Wijayanti, 2008) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu :
a.    Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun,
b.   Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun,
c.    lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun, dan
d.   usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Berdasarkan tingkat keaktifannya, lansia dibagi menjadi tiga kategori yaitu: go go's yang bersifat aktif bergerak tanpa bantuan orang lain, slow go's yang bersifat semi aktif, dan no go's yang memiliki cacat fisik dan sangat tergantung pada pada orang lain. Cooper dan Francis (dalam Najjah, 2009) juga mengelompokan lansia menjadi tiga bagian berdasarkan usia dengan penjelasan sebagai berikut:

Tabel 1

Pengelompokan Lansia Menurut Cooper dan Francis


Young Old
Old
Old-Old
Usia
55– 70 tahun
70–80 tahun
80 tahun ke atas
Kemampuan
Mandiri dalam bergerak
Cukup mandiri dalam bergerak
Kurang mandiri, memiliki keterbatasan gerak dan membutuhkan perawatan lebih
Aktivitas
Inisiatif sendiri, santai, rekreasi, bersosialisasi dan berhubungan
Inisiatif sendiri dan kelompok, mulai jarang berpindah (duduk
Inisiatif terbatas (biasanya dari orang yang mengurus),
Tabel 1
Lanjutan

Young old
Old
Old-old
Aktivitas

terus)
jarang berpindah dan bersosialisasi
Kondisi Umum
Relatif sehat, makmur, bebas dari tanggungjawab tradisional akan pekerjaan dan keluarga, berpendidikan, aktif dalam semua hal
Membutuhkan pelayanan social yang mendukung, fitur-fitur spesial pada lingkungan fisik seiring dengan masalah-masalah kesehatan yang berkembang
Membutuhkan pelayanan social yang mendukung, fitur-fitur spesial pada lingkungan fisik seiring dengan masalah-masalah kesehatan yang berkembang pada diri mereka
Kebutuhan Tempat Tinggal
Komunitas pensiunan , komunitas orang dewasa
Perawatan untuk sekumpulan orang, pusat perawatan bekelanjutan, perawatan di area kediaman
Rumah perawatan, perawatan residen, dan perawatan pribadi

3.   Perubahan Pada Lanjut Usia

Menurut Suardiman (2011) diantaranya adalah terjadinya perubahan fisik, kemunduran kognitif, kearifan pada lansia.
a.    Perubahan Fisik
Perubahan fisik pada lanjut usia antara lain, kulit mulai mengendur dan pada wajah timbul keriput serta garis-garis yang menetap. Kemudian rambut mulai beruban dan menjadi putih, gigi mulai tanggal, penurunan fungsi inderawi, seperti berkuangnya penglihatan dan pendengaran, berkurangnya sensitifitas kulit dan perasa, mudah lelah, terjadi penurunan kondisi kesehatan, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah, kerampingan tubuh menghilang, dan terjadi timbunan lemak terutama dibagian perut dan pinggul.
b.   Perubahan Kognitif
Perubahan kognitif yang terjadi pada lanjut usia antara lain, mudah lupa, ingatan kepada hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru terjadi, yang pertama dilupakan adalah nama-nama, orientasi umum dan persepsi terhadap waktu dan ruang atau tempat mundur, karena daya ingat sudah mundur dan juga karena penglihatan biasanya sudah mundur, meskipun telah mempunyai banyak pengalaman namun skor yang dicapai dalam tes inteligensi menjadi lebih rendah, dan tidak mudah menerima hal-hal atau ide-ide baru.
c.    Perubahan psikologis
Semakin bertambahnya usia, akan mempengaruhi perubahan dalam sisi psikologis. Berikut perubahan psikologis yang dialami oleh lansia meliputi :
1)  Demensia. Demensia adalah suatu gangguan intelektual/daya ingat yang sering terjadi pada orang yang berusia > 65 tahun.
2)  Depresi. Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam problem lansia. Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi tetapi suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Gejala depresi pada lansia adalah kehilangan minat, berkurangnya energi (mudah lelah), konsentrasi dan perhatian berkurang, kurang percaya diri, sering merasa bersalah, pesimis, gangguan pada tidur dan gangguan nafsu makan.
3)  Delusi. Delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu atau lebih delusi. Delusi diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti.
4)  Gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan merupakan gangguan psikologis berupa ketakutan yang tidak wajar/phobia. Kecemasan yang tersering pada lansia adalah tentang kematiannya.
5)  Gangguan tidur. Usia lanjut adalah faktor tunggal yang paling sering berhubungan dengan peningkatan kejadian gangguan tidur yang berupa gangguan tidur di malam hari (sering terbangun di dini hari) dan sering merasa ngantuk terutama di siang hari.
d.   Perubahan Sosial
Masa pensiun menyebabkan sebagian lansia sering merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Beberapa perasaan yang dirasakan adalah  kehilangan status atau kedudukan sosial sebelumnya, baik di dalam masyarakat, tempat kerja atau lingkungan, kehilangan pertemanan baik di lingkungan masyarakat, dan kehilangan gaya hidup yang biasa dijalaninya. Banyak lansia yang merasa kesepian atau merasa terisolasi dari lingkungan di sekitarnya, antara lain karena jarang tersedia pelayanan kendaraan umum khusus bagi lansia, tingginya tingkat kejahatan di sekitar lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.

4.   Kebutuhan Lanjut Usia dan Permasalahan pada Lanjut Usia

Lansia juga mempunyai kebutuhan hidup seperti orang lain agar kesejahteraan hidup dapat dipertahankan. Kebutuhan hidup seperti kebutuhan makanan yang mengandung gizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin dan sebagainya diperlukan oleh lansia agar dapat mandiri. Menurut pendapat Maslow dalam teori Hierarki Kebutuhan, kebutuhan manusia meliputi:
a.    Kebutuhan fisik (physiological needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang, papan, seks dan sebagainya.
b.   Kebutuhan ketentraman (safety needs) adalah kebutuhan akan rasa keamanan dan ketentraman, baik lahiriah maupun batiniah seperti kebutuhan akan jaminan hari tua, kebebasan kemandirian dan sebagainya
c.    Kebutuhan sosial (social needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melalui paguyuban,organisasi profesi, kesenian, olah raga, kesamaan hobi dan sebagainya.
d.   Kebutuhan harga diri (esteem needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk diakui akan keberadaannya.
e.    Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs) adalah kebutuhan untuk mengungkapkan kemampuan fisik, rohani maupun daya pikir berdasar pengalamannya masing-masing, bersemangat untuk hidup, dan berperan dalam kehidupan.
Maslow (dalam Mikhriani, 2008) yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia meliputi: kebutuhan fisik (physiologica needs), kebutuhan ketentrman (safety needs), kebutuhan sosial (social needs), kebutuhan harga diri (esteem needs), kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).


a.    Kebutuhan fisiologis (physiologica needs)
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang memiliki pengaruh paling besar dari semua kebutuhan. Kebutuhan ini meliputi, makanan, air, oksigen, mempertahankan suhu tubuh dan sebagainya. Kebutuhan ini berbeda dengan kebutuhan yang lainnya dalam dua hal penting. Pertama, kebutuhan fisiologis adalah satu-satunya kebutuhan kebutuhan yang dapat terpenuhi atau bahkan selalu terpenuhi. Kedua, adalah memiliki kemampuan untuk muncul kembali.
b.   Kebutuhan akan keamanan (safety needs)
Kebutuhan akan rasa aman meliputi, keamanan fisik, stabilitas, ketergantunga, perlindungan, dan kebebasan dari ketakutan-ketakutan yang mengancam. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan kecemasan.
c.    Kebutuhan cinta dan keberadaan (the belongingness and love needs).
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melalui perkumpulan, organisasi profesi, kesenian, olah raga, kesamaan hobi, dan sebagainya.
d.   Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs).
Suardiman (2011) juga menyebutkan bahwa dengan bekerja seseorang dapat memenuhi kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, dan papan. Bekerja juga akan memenuhi kebutuhan akan rasa aman, tentram, dan kepastian tentang hari-hari yang akan datang. Dalam aktivitasnya bekerja juga memungkinkan berinteraksi dengan orang lain yang dapat menimbulkan rasa senang dan tidak  kesepian. Keinginan untuk lebih dekat dengan Tuhan juga merupakan kebutuhan dari lanjut usia.
Dalam pemenuhan setiap kebutuhannya, lansia juga mengalami permsalahan-permasalahan yang mempengaruhi aspek kehidupannya. Permasalahan lansia terjadi karena secara fisik mengalami proses penuaan yang disertai dengan kemunduran fungsi pada sistem tubuh sehingga secara otomatis akan menurunkan keadaan psikologis dan sosial dari puncak pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Setiono (dalam Suryantoro, 2012) permasalahan-permasalahan yang dialami oleh lansia, diantaranya:
a.    Kondisi mental
Kesehatan mental secara langsung maupun tidak langsung  dipengaruhi juga oleh faktor biologis yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental diantaranya otak, system endokrin, genetik, sensorik. Kesehatan mental merupakan suatu komponen mayor dari keberhasilan proses menua bersama dengan kesehatan fisik pendapatan yang adekuat dan support system yang adekuat (keluarga, teman, kegiatan agama dan tetangga) (Anette G.L., 1996). Menurut wahyudi nugroho, dalam keperawatan gerontology, gangguan mental pada lansia meliputi: agresi, kemarahan, kecemasan, kekacauan mental, penolakan, ketergantungan, depresi, manipulasi, mengalami rasa sakit, dan kehilangan rasa sedih dan kecewa.
b.   Keterasingan (loneliness), terjadi penurunan kemampuan pada individu dalam mendengar, melihat, dan aktivitas lainnya sehingga merasa tersisih dari masyarakat.
c.    Masalah kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia. Keadaan fisik merupakan faktor utama dari kegelisahan manusia. Menurut Prasetyo (dalam Wijayanti, 2008) mengungkapkan bahwa kekuatan fisik, pancaindera, potensi dan kapasitas intelektual mulai menurun pada tahap-tahap tertentu. Dengan demikian orang lanjut usia harus menyesuaikan diri kembali dengan ketidak berdayaannya. Kemunduran fisik ditandai dengan beberapa serangan penyakit seperti gangguan pada sirkulasi darah, persendian, sistem pernafasan, neurologik, metabolik, neoplasma dan mental. Sehingga keluhan yang sering terjadi adalah mudah letih, mudah lupa, gangguan saluran pencernaan, saluran kencing, fungsi indra dan menurunnya konsentrasi.
d.   Masalah pada fungsi kognitif dan psikomotorik. Menurut Zainudin (2002) fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain yang menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi semakin lambat. Fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lanjut usia kurang cekatan.
e.    Post power syndrome: Kondisi ini terjadi pada seseorang yang semula mempunyai jabatan pada masa aktif bekerja. Setelah berhenti bekerja, orang tersebut merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
f.    Masalah penyakit: Selain karena proses fisiologis yang menuju ke arah degeneratif, juga banyak ditemukan gangguan pada usia lanjut, antara lain: infeksi, jantung dan pembulu darah, penyakit metabolik, osteoporosis, kurang gizi, penggunaan obat dan alkohol, penyakit syaraf (stroke), serta gangguan jiwa terutama depresi dan kecemasan.
Dari uraian di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa memasuki usia lanjut akan mempengaruhi kebutuhan hidup lansia itu sendiri, diantaranya kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan dimiliki, serta akan rasa kasih sayang, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi permasalahan fungsi fisik, psikologis, kognitif, dan psikomotorik pada lansia.

C. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar