Tinjauan tentang Lanjut Usia (lansia) akan dijelaskan tentang
pengertian, karakteristik, fase-fase lanjut usia, perubahan-perubahan pada
lansia, dan permasalahan lansia dan kebutuhan lansia.
1.
Pengertian Lanjut Usia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 tahun
1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah
mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).
Menurut (Notoadmojo, 2010) Usia lanjut adalah kelompok orang yang
sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu
beberapa dekade.
Sedangkan menurut Prawitasari (dalam Hidayat,2010),
lanjut usia adalah mereka yang mengalami perubahan fisik secara wajar, antara
lain: kulit sudah tidak kencang lagi, otot-otot sudah mengendor, dan
organ-organ tubuh kurang berfungsi dengan baik. Istilah “keuzuran” (senility)
digunakan untuk mengacu pada periode waktu selama usia lanjut apabila
kemunduran fisik dan disorganisasi mental sudah terjadi.
Menurut Suardiman (2011) menyebutkan batasan lansia untuk negara
Asia termasuk didalamnya Indonesia, menggunakan batasan 60 tahun keatas. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Depkes RI (2013) yang menyebutkan penduduk lansia adalah
kelompok yang berusia lebih dari 60 tahun.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Lanjut Usia
adalah kelompok indidvidu yang berusia lebih dari 60 tahun dan merupakan tahap
akhir perkembangan yang diikuti oleh beberapa perubahan secara bertahap dalam
jangka waktu beberapa dekade.
2.
Fase-Fase Lanjut Usia
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (dalam
Wijayanti, 2008) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu :
a.
Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun,
b.
Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun,
c.
lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun, dan
d. usia sangat tua (very old) diatas
90 tahun.
Berdasarkan tingkat keaktifannya, lansia
dibagi menjadi tiga kategori yaitu: go go's yang bersifat aktif bergerak
tanpa bantuan orang lain, slow go's yang bersifat semi aktif, dan no
go's yang memiliki cacat fisik dan sangat tergantung pada pada orang lain.
Cooper dan Francis
(dalam Najjah, 2009) juga mengelompokan lansia
menjadi tiga bagian berdasarkan usia dengan penjelasan sebagai berikut:
Tabel 1
Pengelompokan
Lansia
Menurut Cooper dan Francis
|
|
Young Old
|
Old
|
Old-Old
|
|
Usia
|
55– 70 tahun
|
70–80 tahun
|
80 tahun ke atas
|
|
Kemampuan
|
Mandiri dalam bergerak
|
Cukup
mandiri dalam bergerak
|
Kurang
mandiri, memiliki keterbatasan gerak dan membutuhkan
perawatan lebih
|
|
Aktivitas
|
Inisiatif
sendiri, santai, rekreasi, bersosialisasi dan berhubungan
|
Inisiatif
sendiri dan kelompok, mulai jarang berpindah (duduk
|
Inisiatif
terbatas (biasanya dari orang yang mengurus),
|
Tabel 1
Lanjutan
|
|
Young old
|
Old
|
Old-old
|
|
Aktivitas
|
|
terus)
|
jarang
berpindah dan bersosialisasi
|
|
Kondisi Umum
|
Relatif
sehat, makmur, bebas dari tanggungjawab tradisional akan pekerjaan dan
keluarga, berpendidikan, aktif dalam semua hal
|
Membutuhkan
pelayanan social yang mendukung, fitur-fitur spesial pada lingkungan fisik
seiring dengan masalah-masalah kesehatan yang berkembang
|
Membutuhkan
pelayanan social yang mendukung, fitur-fitur spesial pada lingkungan fisik
seiring dengan masalah-masalah kesehatan yang berkembang pada diri mereka
|
|
Kebutuhan Tempat Tinggal
|
Komunitas
pensiunan , komunitas orang dewasa
|
Perawatan
untuk sekumpulan orang, pusat perawatan bekelanjutan, perawatan di area
kediaman
|
Rumah
perawatan, perawatan residen, dan perawatan pribadi
|
3.
Perubahan Pada Lanjut Usia
Menurut
Suardiman (2011) diantaranya adalah terjadinya perubahan fisik, kemunduran
kognitif, kearifan pada lansia.
a. Perubahan Fisik
Perubahan
fisik pada lanjut usia antara lain, kulit mulai mengendur dan pada wajah timbul
keriput serta garis-garis yang menetap. Kemudian rambut mulai beruban dan
menjadi putih, gigi mulai tanggal, penurunan fungsi inderawi, seperti
berkuangnya penglihatan dan pendengaran, berkurangnya sensitifitas kulit dan
perasa, mudah lelah, terjadi penurunan kondisi kesehatan, gerakan menjadi
lamban dan kurang lincah, kerampingan tubuh menghilang, dan terjadi timbunan
lemak terutama dibagian perut dan pinggul.
b. Perubahan Kognitif
Perubahan
kognitif yang terjadi pada lanjut usia antara lain, mudah lupa, ingatan kepada
hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru terjadi, yang
pertama dilupakan adalah nama-nama, orientasi umum dan persepsi terhadap waktu
dan ruang atau tempat mundur, karena daya ingat sudah mundur dan juga karena
penglihatan biasanya sudah mundur, meskipun telah mempunyai banyak pengalaman
namun skor yang dicapai dalam tes inteligensi menjadi lebih rendah, dan tidak
mudah menerima hal-hal atau ide-ide baru.
c. Perubahan psikologis
Semakin bertambahnya usia, akan
mempengaruhi perubahan dalam sisi psikologis. Berikut perubahan psikologis yang dialami oleh lansia meliputi :
1) Demensia. Demensia adalah suatu gangguan intelektual/daya
ingat yang sering terjadi pada orang yang berusia > 65 tahun.
2) Depresi.
Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam problem
lansia. Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi tetapi suatu keadaan
penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang membuat
mereka depresi. Gejala depresi pada lansia adalah kehilangan minat,
berkurangnya energi (mudah lelah), konsentrasi dan perhatian berkurang, kurang
percaya diri, sering merasa bersalah, pesimis, gangguan pada tidur dan gangguan
nafsu makan.
3) Delusi.
Delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu
atau lebih delusi. Delusi diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang
dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang
lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti.
4) Gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan merupakan gangguan
psikologis berupa ketakutan yang tidak wajar/phobia. Kecemasan yang tersering
pada lansia adalah tentang kematiannya.
5) Gangguan tidur. Usia lanjut adalah faktor tunggal yang
paling sering berhubungan dengan peningkatan kejadian gangguan tidur yang
berupa gangguan tidur di malam hari (sering terbangun di dini hari) dan sering
merasa ngantuk terutama di siang hari.
d. Perubahan Sosial
Masa
pensiun menyebabkan sebagian lansia sering merasa ada sesuatu yang hilang dari
hidupnya. Beberapa perasaan yang dirasakan adalah kehilangan status atau kedudukan sosial
sebelumnya, baik di dalam masyarakat, tempat kerja atau lingkungan, kehilangan
pertemanan baik di lingkungan masyarakat, dan kehilangan gaya hidup yang biasa
dijalaninya. Banyak lansia yang merasa kesepian atau merasa terisolasi dari
lingkungan di sekitarnya, antara lain karena jarang tersedia pelayanan
kendaraan umum khusus bagi lansia, tingginya tingkat kejahatan di sekitar
lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.
4.
Kebutuhan Lanjut Usia dan Permasalahan pada
Lanjut Usia
Lansia juga mempunyai kebutuhan hidup
seperti orang lain agar kesejahteraan hidup dapat dipertahankan. Kebutuhan
hidup seperti kebutuhan makanan yang mengandung gizi seimbang, pemeriksaan
kesehatan secara rutin dan sebagainya diperlukan oleh lansia agar dapat
mandiri. Menurut pendapat Maslow dalam teori Hierarki Kebutuhan, kebutuhan
manusia meliputi:
a.
Kebutuhan fisik (physiological
needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang, papan,
seks dan sebagainya.
b.
Kebutuhan ketentraman (safety
needs) adalah kebutuhan akan rasa keamanan dan ketentraman, baik lahiriah
maupun batiniah seperti kebutuhan akan jaminan hari tua, kebebasan kemandirian
dan sebagainya
c.
Kebutuhan sosial (social
needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan
manusia lain melalui paguyuban,organisasi profesi, kesenian, olah raga,
kesamaan hobi dan sebagainya.
d.
Kebutuhan harga diri (esteem
needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk diakui akan keberadaannya.
e.
Kebutuhan aktualisasi diri (self
actualization needs) adalah kebutuhan untuk mengungkapkan kemampuan fisik,
rohani maupun daya pikir berdasar pengalamannya masing-masing, bersemangat
untuk hidup, dan berperan dalam kehidupan.
Maslow
(dalam Mikhriani, 2008) yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia meliputi:
kebutuhan fisik (physiologica needs), kebutuhan ketentrman (safety
needs), kebutuhan sosial (social needs), kebutuhan harga diri (esteem
needs), kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).
a. Kebutuhan fisiologis (physiologica needs)
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang memiliki pengaruh
paling besar dari semua kebutuhan. Kebutuhan ini meliputi, makanan, air, oksigen,
mempertahankan suhu tubuh dan sebagainya. Kebutuhan ini berbeda dengan
kebutuhan yang lainnya dalam dua hal penting. Pertama, kebutuhan
fisiologis adalah satu-satunya kebutuhan kebutuhan yang dapat terpenuhi atau
bahkan selalu terpenuhi. Kedua, adalah memiliki kemampuan untuk muncul
kembali.
b. Kebutuhan akan keamanan (safety needs)
Kebutuhan akan rasa aman meliputi, keamanan fisik, stabilitas,
ketergantunga, perlindungan, dan kebebasan dari ketakutan-ketakutan yang
mengancam. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan kecemasan.
c. Kebutuhan cinta dan keberadaan (the belongingness and
love needs).
Kebutuhan
sosial adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia
lain melalui perkumpulan, organisasi profesi, kesenian, olah raga, kesamaan
hobi, dan sebagainya.
d. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs).
Suardiman
(2011) juga menyebutkan bahwa dengan bekerja seseorang dapat memenuhi kebutuhan
fisik seperti sandang, pangan, dan papan. Bekerja juga akan memenuhi kebutuhan
akan rasa aman, tentram, dan kepastian tentang hari-hari yang akan datang.
Dalam aktivitasnya bekerja juga memungkinkan berinteraksi dengan orang lain
yang dapat menimbulkan rasa senang dan tidak
kesepian. Keinginan untuk lebih dekat dengan Tuhan juga merupakan
kebutuhan dari lanjut usia.
Dalam pemenuhan setiap
kebutuhannya, lansia juga mengalami permsalahan-permasalahan yang mempengaruhi
aspek kehidupannya. Permasalahan lansia terjadi karena secara fisik mengalami
proses penuaan yang disertai dengan kemunduran fungsi pada sistem tubuh
sehingga secara otomatis akan menurunkan keadaan psikologis dan sosial dari
puncak pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Setiono (dalam Suryantoro, 2012)
permasalahan-permasalahan yang dialami oleh lansia, diantaranya:
a.
Kondisi mental
Kesehatan
mental secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi juga oleh faktor
biologis yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental diantaranya otak, system endokrin, genetik, sensorik. Kesehatan
mental merupakan suatu komponen mayor dari keberhasilan proses menua bersama
dengan kesehatan fisik pendapatan yang adekuat dan support system yang adekuat
(keluarga, teman, kegiatan agama dan tetangga) (Anette G.L., 1996). Menurut wahyudi nugroho,
dalam keperawatan gerontology, gangguan mental pada lansia meliputi: agresi, kemarahan, kecemasan, kekacauan mental, penolakan, ketergantungan, depresi, manipulasi, mengalami rasa sakit, dan kehilangan rasa sedih
dan kecewa.
b.
Keterasingan (loneliness), terjadi penurunan kemampuan pada individu dalam mendengar, melihat, dan
aktivitas lainnya sehingga merasa tersisih dari masyarakat.
c.
Masalah kesehatan meliputi
keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia. Keadaan fisik merupakan faktor
utama dari kegelisahan manusia. Menurut Prasetyo (dalam Wijayanti, 2008) mengungkapkan
bahwa kekuatan fisik, pancaindera, potensi dan kapasitas intelektual mulai
menurun pada tahap-tahap tertentu. Dengan demikian orang lanjut usia harus
menyesuaikan diri kembali dengan ketidak berdayaannya. Kemunduran fisik
ditandai dengan beberapa serangan penyakit seperti gangguan pada sirkulasi
darah, persendian, sistem pernafasan, neurologik, metabolik, neoplasma dan
mental. Sehingga keluhan yang sering terjadi adalah mudah letih, mudah lupa,
gangguan saluran pencernaan, saluran kencing, fungsi indra dan menurunnya
konsentrasi.
d.
Masalah pada fungsi kognitif
dan psikomotorik. Menurut Zainudin (2002) fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain yang
menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi semakin lambat. Fungsi
psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti
gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lanjut usia kurang cekatan.
e.
Post power syndrome: Kondisi ini terjadi pada seseorang yang
semula mempunyai jabatan pada masa aktif bekerja. Setelah berhenti bekerja,
orang tersebut merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
f.
Masalah penyakit: Selain karena proses
fisiologis yang menuju ke arah degeneratif, juga banyak ditemukan gangguan pada
usia lanjut, antara lain: infeksi, jantung dan pembulu darah, penyakit
metabolik, osteoporosis, kurang gizi, penggunaan obat dan alkohol, penyakit
syaraf (stroke), serta gangguan jiwa terutama depresi dan kecemasan.
Dari uraian di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa memasuki
usia lanjut akan mempengaruhi kebutuhan hidup lansia itu sendiri, diantaranya
kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan
dimiliki, serta akan rasa kasih sayang, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan
akan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dimaksudkan untuk
mengurangi permasalahan fungsi fisik, psikologis, kognitif, dan psikomotorik
pada lansia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar