Depresi merupakan gangguan psikologis
yang mempengaruhi emosi seseorang berupa suasana
hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Seseorang yang
mengalami depresi disebabkan oleh beberapa faktor. Hal
ini akan dijelaskan lebih rinci melalui pengertian depresi, ciri-ciri depresi,
jenis-jenis depresi faktor-faktor yang mempengaruhi, aspek-aspek depresi,
gejala depresi dan penanganan depresi.
1.
Pengertian Depresi
Menurut
Lux and Kendler (2010) depresi adalah suatu sindrom yang ditandai
oleh hilangnya minat yang mempengaruhi perubahan kepribadian dan karakter
seseorang.
Selanjutnya, menurut Kaplan (dalam Hayuningtyas, 2009)
pengertian depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tidak
berdaya, dan bunuh diri.
Menurut
Keliat
(dalam Zakiyah, 2014) depresi adalah gangguan
mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental
seseorang yang ditandai dengan pikiran negatif pada diri sendiri. Kondisi
emosional seseorang yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat,
perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur,
kehilangan selera makan,
hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan
(Davison, Neale,
& Kring, 2010).
Menurut WHO
(2012) Depresi adalah gangguan mental yang umum bahwa menyajikan dengan perasaan depresi, kehilangan minat atau kesenangan , penurunan energi, perasaan bersalah atau
rendah diri, susah tidur atau nafsu makan, dan miskin konsentrasi. Selain itu , depresi sering datang dengan gejala kecemasan. Selanjutnya, menurut Radloff (dalam
Putri, 2012) depresi merupakan perasaan atau suasana hati yang dirasakan
negatif seperti perasaan sedih, tertekan, kesepian, menangis, merasa terganggu,
berkurang atau bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam
melakukan sesuatu, kesulitan tidur, dan sulit memulai sesuatu.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa depresi adalah satu masa
terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang
mempengaruhi perubahan pada kepribadian dan karakter seseorang ditandai dengan
pikiran negatif seperti perasaan sedih, tertekan, kesepian, menangis, merasa
terganggu, berkurang atau bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha lebih
besar dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur dan sulit memulai sesuatu.
2.
Ciri-ciri
Kepribadian Penderita Depresi
Antara
orang yang normal dan orang yang mengalami depresi dapat dibedakan satu sama
lain melalui tingkah laku mereka atau ciri-ciri kepribadiannya. Ciri-ciri penderita
depresi (dalam Nurcholis dkk, 2013),
adalah sebagai berikut:
a. Mood dalam keadaan tertekan,
berbeban berat, meras sedih yang berkepanjangan, dan adanya perasaan kosong
atau hampa.
b. Minat untuk melakukan
aktivitas menjadi kurang dan tidak ada semangat dalam melakukan apapun. Padahal
biasanya minat beraktivitas sangat tinggi dan bersemangat.
c. Berat badan bertambah
atau menurun sebanyak 5% dari berat badan semula
d. Mengalami kesulitan
tidur atau insomnia bahkan mengalami kelebihan tidur
e. Kondisi tubuh jadi cepat
merasa lelah dan merasa tidak berenergi
f. Adanya perasaan menjadi
orang yang tidak berguna dan tidak berharga
g. Cenderung untuk
meremehkan diri sendiri dan putus asa
h. Sulit berkonsentrasi dan
menjadi lamban dalam berfikir
i. Muncul keinginan untuk
bunuh diri
Sedangkan, menurut Hawari (2011) mengungkapkan
bahwa seseorang yang sehat jiwanya bisa saja jatuh dalam depresi apabila yang
bersangkutan tidak mampu menanggulangi stressor psikososial yang dia alami. Seseorang
yang lebih rentan ini, biasanya mempunyai ciri-ciri kepribadian sebagai berikut
:
a.
Pemurung, sukar untuk
merasa senang, dan sukar untuk merasa bahagia
b.
Pesimis dalam menghadapi
masa depan
c.
Memandang dirinya rendah
d.
Mudah merasa bersalah
dan berdosa
e.
Mudah mengalah
f.
Enggan berbicara
g.
Mudah merasa haru,
sedih, dan mudah menangis
h.
Gerakan lamban, lemah,
lesu dan kurang berenergi
i.
Sering mengeluh sakit
j.
Mudah tegang, gelisah,
cemas, khawatir, mudah takut, dan mudah tersinggung
k.
Tidak ada rasa percaya
diri
l.
Merasa tidak mampu dan
merasa tidak berguna
m. Merasa
selalu gagal dalam berusaha, pekerjaan, dan pemberlajaran
n.
Suka menarik diri,
pemalu, dan pendiam
o.
Lebih suka membatasi
pergaulan social
p.
Lebih suka menjaga
jarak, menghindari keterlibatan dengan orang lain
q.
Suka mencela dan
mengkritik
Dari beberapa ciri-ciri
yang telah disebutkan di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa seseorang
yang mengalami gangguan depresi memiliki kebiasaan yang berbeda dengan
seseorang yang tidak mengalami depresi, diantaranya minat untuk melakukan
aktivitas menjadi kurang atau bahkan tidak ada semangat dalam melakukan apapun,
pola tidur berubah karena bisa juga menderita kesulitan tidur atau insomnia,
bahkan sebaliknya yaitu merasa kebanyakan tidur, sulit berkonsentrasi dan
menjadi lamban dalam berpikir, menjadi pemurung, sukar untuk merasa senang, dan
sukar untuk merasa bahagia dan selalu beranggapan atau memandang dirinya
rendah.
3.
Jenis-Jenis Depresi
Menurut Maslim (2003)
tingkatan depresi dibagi menjadi tiga tingkatan depresi yaitu:
a.
Depresi Ringan
b.
Depresi Sedang
c.
Depresi Berat
Menurut Kaplan dkk
(2010) depresi terbagi atas 2 jenis yaitu depresi ringan dan depresi berat. Masing-masing
depresi memiliki ciri-ciri seperti :
a.
Depresi Ringan
b.
Depresi Berat
Gangguan depresi berat
ditandai dengan adanya beberapa kriteria gangguan yaitu:
1) Mood
terdepresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukkan
oleh laporan subjektif (misalnya merasa sedih atau kosong).
2) Hilangnya minat dan
kesenangan secara jelas pada semua atau hampir semua aktivitas sepanjang hari
3) Penurunan
berat badan yang bermakna jika tidak melakukan diet atau penambahan berat badan
(misalnya, perubahan berat badan lebih dari 5% dalam satu bulan) atau penurunan
atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari.
4) Insomnia
atau hipersomnia setiap hari
5) Agitasi
atau retardasi psikomotor hampir setiap hari
6) Kelelahan
atau hilanganya energi hamper setiap hari
7) Perasaan
tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat.
8) Hilangnya
kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian, atau tidak
dapat mengambil keputusan
9)
Pikiran akan kematian yang rekuren (bukan hanya pikiran mati),
bunuh diri yang rekuren tanpa rencana spesifik, atau usaha bunuh diri atau
rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
Selain itu menurut Setiaji
(2012) jenis-jenis depresi dibagi menjadi 9 tingkatan dengan masing-masing
jenis depresi memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya :
a.
Depresi Unipolar
Depresi Unipolar ditandai dengan perubahan perasaan dari normal
(rata-rata), suatu alam perasaan dasar, ke alam perasaan depresi.
b.
Depresi Bipolar
Depresi Bipolar adalah keadaan suasana hati yang berubah-ubah
secara cepat. Acap kali perubahan suasana hati melampaui batas suasana hati (mood)
yang normal. Gangguan depresi bipolar, sering disebut
depresi manik menurut Sonne dan Brady (dalam Yuniastuti, 2013) adalah gangguan
yang melibatkan suasana hati yang ekstrim (berupa euphoria). Menurut Fisher (dalam Yuniastuti, 2013) gangguan
tersebut dapat dipicu oleh stess dan tekanan dari kehidupan sehari-hari,
peristiwa traumatis, trauma fisik atau cedera kepala. Menurut Sonne
dan Brady (dalam Yuniastuti, 2013) Gangguan bipolar merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang signifikan, yang sering kali tidak terdiagnosis dan tidak
diobati untuk jangka panjang. Berikut
ciri-ciri seorang individu yang mengalami depresi bipolar, diantaranya :
1) Ekstrem mania ringan, meliputi: kegembiraan yang berlebihan, tidak
kenal lelah, energi yang berlebihan, percaya diri yang berlebihan, tidak takut
bahaya, tidak memerlukan tidur banyak (cukup 2-3 jam sehari), berpindah-pindah
aktivitas, memiliki rencana besar, tidak meyukai detail, reaksi berlebihan
terhadap hal-hal kecil, perilaku impulsif, dan tidak memperhitungkan risiko
bahaya tindakannya
2) Ekstrem mania berat, meliputi: berteriak-teriak, berjalan
bolak-balik, memukul-mukul tembok, marah-marah, waham,
misalnya tentang pencapaian prestasi atau kekayaan
3) Depresi,
meliputi: mengalami kelesuan dan mengalami
kesedihan
Seseorang
yang mengalami depresi bipolar tidak konsisten dalam berperilaku, contoh
tiba-tiba seorang individu berbicara dengan sangat menyenangkan, penuh
semangat, gembira, optimis dan memiliki gagasan yang cemerlang, namun dalam
sekejap ia bisa berubah murung, putus asa, letih, lesu dan berbeban berat.
c.
Depresi
Endogen
Depresi Endogen adalah depresi yang datang dari dalam. Penyebabnya
diduga lebih banyak karena ketidakseimbangan neurokimia daripada disebabkan
oleh konflik psikologis atau stres lingkungan. Ketidakseimbangan Neurokimia
adalah Faktor Genetik.
d.
Depresi
Eksogen
Depresi Eksogen lebih dikenal dengan sebutan depresi reaktif atau
depresi situasional. Depresi Eksogen adalah depresi yang datang karena stress
lingkungan. Penyebabnya sering karena kehilangan sesuatu, misalnya kehilangan
orang yang dikasihi atau mengalami kesulitan dalam suatu pekerjaan
e.
Depresi
Spiritual
Faktor yang menyebabkan timbulnya depresi spiritual adalah karena
adanya rasa bersalah, kemarahan yang dipendam dan timbulnya perspektif yang
salah.
f.
Depresi
Psikologi
Depresi psikologi dapat terjadi pada
seseorang yang sejak kecil belajar pola-pola reaksi yang menyebabkan depresi
jika mengalami kesulitan atau sebagai anak kecil ia mendapatkan ganjaran yang
tidak sesuai. Depresi psikologi ini juga dapat terjadi jika ada gangguan pola
pikir, ketika kehilangan dan ketika rasa bersalah itu muncul.
g.
Depresi
Fisik
Depresi fisik terjadi apabila seseorang tidak dapat mengatasi rasa
bersalahnya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat namun lebih memilih untuk
menyakiti dirinya sendiri. Faktor timbulnya depresi fisik ini adalah adanya
ketidakseimbangan elektrolit, endokrin dan adanya faktor kelelahan.
h.
Depresi
Mayor
Depresi mayor (major depression), yakni
gangguan suasana hati (mood) atau gangguan mental yang terjadi karena situasi
atau peristiwa traumatis. Gangguan depresi mayor terjadi tanpa ada riwayat
episode manik atau hipomanik amami (Nevid dkk, 2003). Depresi mayor meliputi
serangkaian gejala ketidakmampuan atau
ketidakberdayaan. Depresi Mayor ditandai dengan ciri-ciri seperti berikut:
1) Adanya kesulitan berkonsentrasi
2) Adanya kesulitan dalam mengambil keputusan dan sering gelisah
3) Mengalami kekecewaan yang mendalam (dysphoric-mood)
4) Adanya fikiran tentang kematian atau ingin bunuh diri
5) Merasa tidak berharga (bernilai) sehingga membuat seseorang
menjadi murung dan bersedih
6) Kehilangan minat untuk mengerjakan aktivitas sekalipun aktivitas
tersebut menyenangkan
7) Mengalami gangguan psikomotorik, misalnya reaksi motorik menjadi
lamban, fisik terasa lemah dan terasa sakit
8) Mengalami gangguan tidur, misalnya sulit tidur (insomnia)
atau sebaliknya, lebih banyak tidur
9) Kehilangan tenaga, misalnya mengalami kelesuan, kelelahan,
keletihan dan mudah sekali kehilangan energi
i.
Depresi
Kronis (dysthymia).
Depresi Kronis (dysthymia) adalah gangguan suasana hati (mood
disorder) yang digolongkan sebagai depresi ringan yang terjadi selama
bertahun-tahun. Dysthymia berasal dari kata, dys = gangguan (disorder)
dan thymia = pikiran (mind). Seseorang yang mengalami depresi
kronis tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja,
bersosialisasi dan kegiatan lainnya meskipun dalam semangat yang rendah. Depresi
kronis sulit diidentifikasi karena seseorang yang mengalami depresi kronis
tidak tahu atau tidak merasa bahwa ia sedang mengalami depresi kronis. Adapun
ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami depresi kronis meliputi : kelelahan, pesimis, sulit berkonsentrasi, perasaan bersalah yang berlebihan, produktivitas menurun, mudah marah, mudah tersinggung, lebih
sensitif, dan mudah tersinggung.
Jika ditemukan sekurang-kurangnya tiga gejala dari ciri-ciri tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa orang tersebut tengah mengalami depresi kronis. Untuk
mengurangi depresi kronis, seorang individu dapat menjalankan konseling,
mengubah pola hidup dan melakukan pengaturan nutrisi dalam tubuh.
Dari beberapa jenis depresi yang telah diungkapkan di
atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada umumnya depresi terbagi menjadi
3 jenis yaitu depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat.
4.
Faktor yang mempengaruhi Depresi
Menurut Kaplan (dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013) bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi
7, diantaranya :
a. Faktor Biologi
Genetik,transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis
keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigot
dibandingkan dizigot walaupun diasuh secara terpisah. Neurotransmiter,
terjadinya penurunan katekolamin otak, peningkatan asetilkolin, dan penurunan
serotonin dapat merupakan faktor penyebab depresi. Endokrin, gangguan hormone
seperti hipotiroidisme atau hipertiroidisme, terapi estrogen, eksogen, dan
paskapartum, ada kaitannya dengan depresi.
b. Faktor Genetik
Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Resiko untuk
terjadinya depresi meningkat antara 20 –
40 % untuk keluarga keturunan pertama. Dapat dikatakan bahwa anak-anak dari
orangtua yang depresi psikotik dan depresi nonpsikotik terdapat insiden yang
tinggi dari gejala depresi ini. Memiliki satu orangtua yang mengalami depresi,
meningkatkan resiko dua kali pada keturunannya. Resiko itu meningkat menjadi
empat kali bila kedua orangtuanya sama-sama mengalami depresi.
c. Faktor Lingkungan
Menurut Harun (dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013 lingkungan
juga memainkan peran yang kuat dalam menyebabkan depresi. Faktor-faktor
lingkungan, seperti stress, kehilangan, atau mengubah sering memicu episode depresi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi yaitu mulai 9 faktor genetik
sampai dengan faktor nongenetik. Menurut Nurmiati (dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013) faktor
genetik meliputi ketidakseimbangan biogenik, gangguan neuroendokrin dan perubahan
neurofisiologi, serta faktor nongenetik atau psikologik seperti kehilangan
objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi kognitif, ketidakberdayaan
yang dipelajari dan faktor-faktor lain yang diduga berperan dalam terjadinya
depresi.
d. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian,
psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial
(Kaplan, 2010). Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan
yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood
dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan
memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa
kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor
lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah
kehilangan pasangan (Kaplan, 2010).
e. Faktor Kepribadian
Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu,
seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko
tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid
(kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko
yang rendah (Kaplan, 2010).
f. Faktor Psikodinamika
Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan
objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk
mengerti depresi, Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan
suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa
kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena
identifikasi dengan 10 objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi
mungkin merupakan cara satusatunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan
melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi
merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan
bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak
demikian.
g. Faktor Kognitif
Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan
distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang
negatif, pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut
menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010).
Dari
pemaparan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa depresi bisa terjadi
karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor biologi, faktor genetik,
faktor lingkungan, faktor psikososial, faktor kepribadian, faktor
psikodinamika, dan faktor kognitif.
5.
Aspek-Aspek
Depresi
Menurut
Beck (dalam Nurcholis dkk, 2013) mengungkapkan bahwa depresi di bagi menjadi 4
aspek, antara lain :
a.
Aspek yang
dimanifestasikan secara emosional
Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood);
perasaan ini menggambarkan keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami
individu. Keadaan ini bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang
terus-menerus.
b.
Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif
1) Rendahnya evaluasi diri:
hal ini tampak dari bagaimana penderita memandang
dirinya. Biasanya mereka menganggap rendah ciri-ciri yang sebenarnya penting,
seperti kemampuan prestasi, intelegensi, kesehatan, kekuatan, daya tarik,
popularitas, dan sumber keuangannya.
2) Citra tubuh yang terdistorsi: hal ini lebih sering terjadi pada wanita.
Mereka merasa dirinya jelek dan tidak menarik.
3) Harapan yang negatif: penderita
mengharapkan hal-hal yang terburuk dan menolak usaha terapi yang dilakukan.
4) Menyalahkan
dan mengkritik diri sendiri: hal ini muncul dalam bentuk anggapan
penderita bahwa dirinya sebagai penyebab segala kesalahan dan cenderung
mengkritik dirinya untuk segala kekurangannya.
5) Keragu-raguan
dalam mengambil keputusan: ini merupakan karakteristik depresi yang
biasanya menjengkelkan orang lain ataupun diri penderita. Penderita sulit untuk
mengambil keputusan, memilih alternatif yang ada, dan mengubah keputusan.
c.
Aspek yang
dimanifestasikan secara motivasional
Pengalaman yang disadari
penderita, yaitu tentang usaha,dorongan, dan keinginan. Ciri utamanya adalah
sifat regresif motivasi penderita,penderita tampaknya menarik diri dari
aktifitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak atau
adanya energi yang kuat.
d.
Aspek depresi yang
muncul sebagai gangguan fisik
Kehilangan nafsu makan,
gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang sangat. Individu
mengalami depresi jika individu mengalami gajala-gejala rasa, seperti sedih,
pesimis, membenci diri sendiri, kehilangan energi, kehilangan konsentrasi, dan
kehilangan motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu makan, berat
badan menurun, insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin menghindari orang
lain.
Sedangkan menurut Nevid dkk
(dalam Nurcholis dkk, 2013) depresi terdiri dari beberapa aspek, antara
lain:
a.
Perubahan pada kondisi emosional
Perubahan
kondisi emosional terjadi pada kondisi mood (periode terus menerus dari
perasaan terpuruk, depresi, sedih atau muram). Penuh dengan air mata atau
menangis serta meningkatnya iritabilitas (mudah tersinggung), dan kegelisahan
atau kehilangan kesadaran.
b.
Perubahan dalam motivasi.
Perasaan
tidak termotivasi atau memiliki kesulitan untuk memulai (kegiatan) di pagi hari
atau bahkan lebih sulit bangun dari tempat tidur. Menurunnya tingkat
partisipasi sosial atau minat pada aktivitas sosial. Kehilangan kenikmatan atau
minat dalam aktivitas yang menyenangkan. Menurunnya minat pada seks serta gagal
untuk merespon pujian atau reward.
c.
Perubahan dalam fungsi dan perilaku
motorik.
Gejala-gejala
motorik yang dominan dan penting dalam depresi adalah retardasi motor yakni
tingkah laku motorik yang berkurang atau lambat, bergerak atau berbicara dengan
lebih perlahan dari biasanya. Perubahan dalam kebiasaan tidur (tidur terlalu
banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya, dan merasa
kesulitan untuk tidur kembali). Perubahan dalam selera makan (makan terlalu
banyak atau sedikit). Perubahan dalam berat badan (bertambah atau kehilangan
berat badan). Beraktivitas kurang efektif atau energik dari pada biasanya,
orang-orang yang menderita depresi sering duduk dengan sikap yang terkulai dan
tatapan kosong tanpa ekspresi.
d.
Perubahan kognitif
Kesulitan
berkonsentrasi atau berfikir jernih. Berfikir negatif mengenai diri sendiri dan
masa depan. Perasaan bersalah atau menyesal mengenai kesalahan dimasa lalu.
Kurangnnya self-esteem atau merasa tidak kuat. Berpikir
kematian atau bunuh diri.
Dengan demikian, dapat
ditarik kesimpulan bahwa aspek depresi adalah gejala depresi yang dapat
dimanifestasikan secara emosional, kognitif, motivasional, fisik dan
pencernaan, raut wajah sedih, retardasi, dan agitasi. Gejala
yang dimanifestasikan secara emosional terdiri dari perasaan kesal atau patah
hati, perasaan negatif terhadap dirinya, hilangnya rasa puas, hilangnya
keterlibatan emosional,kecenderungan untuk menangis diluar kemauan, dan
hilangnya respon terhadap humor. Sedangkan gejala yang dimanifestasikan secara
kognitif meliputi sikap menyimpang penderita, baik terhadap diri, pengalaman,
dan masa depannya. Gejala yang dimanifestasikan secara motivasional meliputi
pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan
keinginan, sedangkan gejala yang muncul sebagai gangguan fisik apabila terjadi
gangguan saraf otonom dan hipotalamus.
6.
Gejala Depresi
Gangguan
depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman pada PPDGJ III (Pedoman Penggolongan
Diagnostik Gangguan Jiwa III) yang merujuk pada ICD 10 (International ClassificationDiagnostic
10). Menurut Maslim (dalam dalam Hayuningtyas, Supriyono &
Lestari 2013) gangguan depresi dibedakan dalam depresi
berat, sedang, dan ringan sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta
dampaknya terhadap fungsi kehidupan seseorang. Adapun gejala-gejala
depresi meliputi :
a. Gejala Utama
Seseorang yang
mengalami depresi memiliki gejala tertentu. Berikut adalah gejala utama
seseorang mengalami depresi meliputi: perasaan depresif, hilangnya minat dan semangat, mudah lelah
dan tenaga hilang. Adapula gejala lain yang mengindikasikan seseorang mengalami
depresi, antara lain: konsentrasi dan perhatian menurun, harga diri dan
kepercayaan diri menurun, perasaan bersalah dan tidak berguna, pesimis terhadap
masa depan, gagasan membahayakan diri atau bunuh diri, gangguan tidur, gangguan
nafsu makan, dan menurunnya libido
b. Gejala Fisiologis
Berikut gejala fisiologis yang kerap ditemui pada seseorang yang
mengalami gangguan depresi meliputi:
mengalami kesulitan menelan makanan, tidak ada selera makan atau
selera makan hilang (anorexia) menjadi kurus atau bisa menjadi bertambah
nafsu makan dan mengalami kegemukan, tidak ada keinginan mengurus diri, malas
mandi, bersolek diri, merias diri atau merapikan diri, agresivitas, gangguan
fisik yang tidak jelas penyebabnya, seperti sakit kepala atau sakit punggung.,
gangguan tidur, kelakuan aneh saat tidur, berpikir pelan, berbicara pelan dan
lemah.
c. Gejala Psikologis
Gejala depresi berbeda-beda pada berbagai orang.
Berikut ini adalah beberapa gejala psikologis yang muncul akibat depresi meliputi: iritabilitas, kehilangan rasa percaya
diri, sensitif, merasa diri tidak berguna, perasaan bersalah, perasaan
terbebani, ansietas, letargi, dan tindakan atau pemikiran bunuh diri
d. Gejala Sosial.
Masalah
depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan
dan pekerjaan atau aktivitas rutin lainnya. Lingkungan tentu akan bereaksi
terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif.
Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan
rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik,
namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di
antara kelompok, dan merasa tidak nyaman untuk
berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka
dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.
Dari beberapa gejala
depresi tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa gejala umum depresi
meliputi hilangnya
minat dan semangat dan mudah lelah atau tenaga hilang. Sedangkan gejala depresi
lainnya meliputi gejala fisiologis, psikologis, dan sosial.
7.
Pengobatan Depresi
Terapi
berasal dari kata yunani yang berarti treatment,
yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perawatan atau pengobatan atau
penanganan. Dalam dunia medis kata terapi dijabarkan sebagai tindakan remediasi
kesehatan yang mengacu pada diagnosis (pemeriksaan). Terapi juga diartikan
sebagai usaha untuk memulihkan kondisi tubuh seseorang yang sakit. Menurut Mosby (2001)
terapi didefinisikan sebagai tindakan perawatan pemulihan atas penyakit atau
cedera ataupun yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi tubuh yang terganggu
ke fungsi normalnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia terapi adalah usaha untuk
memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan
penyakit, pengobatan dan perawatan untuk mengurangi atau menghilangkan kelainan. Bila
seseorang menderita depresi, maka diperlukan seorang yang dekat dan yang
dipercayai untuk membantunya selama menjalani pemeriksaan dan pengobatan
depresi. Kadang seorang penderita depresi perlu mondok di rumah sakit, kadang
cukup dengan pengobatan rawat jalan. Beberapa pilihan pengobatan depresi dalam
Setiaji (2012) adalah sebagai berikut:
a. Obat-obatan
Saat ini
telah tersedia beberapa macam obat obatan yang efektif dipakai menyembuhkan
penderita depresi. Ada beberapa jenis obat anti depresi. Jenis obat
anti depresi biasanya dikelompokkan berdasar efeknya terhadap bahan kimia
didalam otak yang mengontrol perasaan (mood). Dalam DA’s Office
of Women’s Health (OWH) (n.d) mengklasifikasikan obat depresi menjadi :
1)
Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI)
Stefanatou,
Kouris, & Lekakis (2010) dan Lichtman dkk (2008) mengungkapkan bahwa
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) dan Venlafaksin adalah antidepresan yang
menjadi pilihan karena lebih banyak efek terapi yang diperoleh dibandingkan
dengan efek sampingnya. Secara spesifik SSRI berperan dalam peningkatan level serotonin pada
reseptor, reduksi aktivasi platelet, dan restorasi variabilitas denyut jantung.
Pemberian SSRI harus diperhatikan jika diberikan bersamaan dengan obat
antihipertensi, antilipidemia, maupun regulator denyut jantung yang
dimetabolisme oleh isoenzim CYP2D6,
CYP3A4, CYP1A, dan CYP2C. Penggunaan SSRI harus berdasarkan evaluasi gejala
psikiatri. SSRI juga bekerja pada tingkat platelet sehingga memiliki efek
antitrombotik dan profibrinolitik. Sampai saat ini penggunaan SSRI pada
populasi dengan penyakit kardiovaskular tanpa depresi belum diinvestigasi. Di
samping mekanisme bagaimana SSRI dapat meghasilkan efek positif pada penyakit
kardiovaskular juga belum dipeajari secara adekuat.
2)
Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOI)
Mono Amin Oxidase Inhibitor adalah suatu enzim komplek yang
terdistribusi didalam tubuh, yang digunakan dalam dekomposisi amin biogenik
(norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan serotonin) (Depkes, 2007).
MAOI bekerja memetabolisme NE dan serotonin untuk mengakhiri kerjanya
dan supaya mudah disekresikan. Dengan dihambatnya MAO, akan terjadi
peningkatan kadar NE dan serotonin di sinap, sehingga akan terjadi
perangsangan SSP (Prayitno, 2008). Menurut Benkert (dalam Yuniastuti 2013) MAOI memiliki efikasi yang mirip dengan antidepresan trisiklik. MAOI juga dipakai untuk pasien yang tidak merespon terhadap antidepresan trisiklik. Enzim pada MAOI memiliki dua tipe yaitu MAO-A dan MAO-B. Kedua obat hanya akan digunakan apabila obat-obat antidepresan yang lain sudah tidak bisa mengobati depresi (tidak manjur). Moclobomida merupakan suatu obat baru yang menginhibisi MAO – A secara ireversibel, tetapi apabila pada keadaan overdosis selektivitasnya akan hilang. Menurut Tjay & Rahardja (dalam Yuniastuti, 2013) Selegin secara selektif memblokir MAO – B dan dapat digunakan sebagai antidepresan pada dosis yang tinggi dan beresiko efek samping. MAO – B sekarang sudah tidak digunakan lagi sebagai antidepresan. Obat-obat yang tergolong dalam MAOI yaitu Phenelzine, Tranylcypromine, dan Selegiline. Efek samping yang sering muncul yaitu postural hipotensi (efek samping tersebut lebih sering muncul pada pengguna phenelzine dan Tranylcypromine), penambahan berat badan, gangguan sexual (penurunan libido, anorgasmia) (Teter et al., 2007). Menurut Reus (dalam Anwar, 2014) MAOIs sama efektifnya dengan Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial lebih berbahaya.
terdistribusi didalam tubuh, yang digunakan dalam dekomposisi amin biogenik
(norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan serotonin) (Depkes, 2007).
MAOI bekerja memetabolisme NE dan serotonin untuk mengakhiri kerjanya
dan supaya mudah disekresikan. Dengan dihambatnya MAO, akan terjadi
peningkatan kadar NE dan serotonin di sinap, sehingga akan terjadi
perangsangan SSP (Prayitno, 2008). Menurut Benkert (dalam Yuniastuti 2013) MAOI memiliki efikasi yang mirip dengan antidepresan trisiklik. MAOI juga dipakai untuk pasien yang tidak merespon terhadap antidepresan trisiklik. Enzim pada MAOI memiliki dua tipe yaitu MAO-A dan MAO-B. Kedua obat hanya akan digunakan apabila obat-obat antidepresan yang lain sudah tidak bisa mengobati depresi (tidak manjur). Moclobomida merupakan suatu obat baru yang menginhibisi MAO – A secara ireversibel, tetapi apabila pada keadaan overdosis selektivitasnya akan hilang. Menurut Tjay & Rahardja (dalam Yuniastuti, 2013) Selegin secara selektif memblokir MAO – B dan dapat digunakan sebagai antidepresan pada dosis yang tinggi dan beresiko efek samping. MAO – B sekarang sudah tidak digunakan lagi sebagai antidepresan. Obat-obat yang tergolong dalam MAOI yaitu Phenelzine, Tranylcypromine, dan Selegiline. Efek samping yang sering muncul yaitu postural hipotensi (efek samping tersebut lebih sering muncul pada pengguna phenelzine dan Tranylcypromine), penambahan berat badan, gangguan sexual (penurunan libido, anorgasmia) (Teter et al., 2007). Menurut Reus (dalam Anwar, 2014) MAOIs sama efektifnya dengan Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial lebih berbahaya.
3)
Tricyclic Antidepressants
Obat ini membantu mengurangi
gejala-gejala depresi dengan mekanisme mencegah reuptake dari
norephinefrin dan serotonin di sinaps atau dengan cara megubah
reseptor-reseptor dari neurotransmitter norephinefrin dan seroonin.
Antidepresan trisiklik (TCA) merupakan antidepresan yang mekanisme
kerjanya menghambat pengambilan kembali amin biogenik seperti norepinerin
(NE), Serotonin (5-HT) dan dopamin didalam otak, karena menghambat
ambilan kembali neurotransmitter yang tidak selektif,sehingga menyebabkan
efek samping yang besar (Prayitno, 2008). Antidperesan trisiklik efektif dalam
mengobati depresi tetapi tidak lagi digunakan sebagai obat lini pertama, karena
efek sampingnya dan efek kardiotoksik pada pasien yang overdosis TCA
(Unutzer, 2007). Efek samping yang sering ditimbulkan TCA yaitu efek kolinergik seperti mulut kering, sembelit, penglihatan kabur, pusing, takikardi,
ingatan menurun, dan retensi urin. Obat – obat yang termasuk golongan TCA
antara lain Amitripilin, Clomipramine, Doxepin, Imipramine, Desipiramine,
Nortriptyline (Teter et al., 2007).
kerjanya menghambat pengambilan kembali amin biogenik seperti norepinerin
(NE), Serotonin (5-HT) dan dopamin didalam otak, karena menghambat
ambilan kembali neurotransmitter yang tidak selektif,sehingga menyebabkan
efek samping yang besar (Prayitno, 2008). Antidperesan trisiklik efektif dalam
mengobati depresi tetapi tidak lagi digunakan sebagai obat lini pertama, karena
efek sampingnya dan efek kardiotoksik pada pasien yang overdosis TCA
(Unutzer, 2007). Efek samping yang sering ditimbulkan TCA yaitu efek kolinergik seperti mulut kering, sembelit, penglihatan kabur, pusing, takikardi,
ingatan menurun, dan retensi urin. Obat – obat yang termasuk golongan TCA
antara lain Amitripilin, Clomipramine, Doxepin, Imipramine, Desipiramine,
Nortriptyline (Teter et al., 2007).
4)
Selective Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRI)
Antidepresan golongan Serotonin / Norepinephrin
Reuptake Inhibitor
(SNRI) mekanisme kerjanya mengeblok monoamin dengan lebih selektif
daripada antidepresan trisiklik, serta tidak menimbulkan efek yang tidak
ditimbulkan antidepresan trisiklik ( Mann, 2005). Antidepresan golongan SNRI
memiliki aksi ganda dan efikasi yang lebih baik dibandingkan dengan SSRI dan TCA dalam mengatasi remisi pada depresi parah (Sathl, 2002).
Obat yang termasuk golongan SNRI yaitu Venlafaxine dan Duloxetine.
Efek samping yang biasa muncul pada obat Venlafaxine yaitu mual, disfungsi
sexual. Efek samping yang muncul dari Duloxetine yaitu mual, mulut kering,
konstipasi, dan insomnia (Teter et al., 2007).
(SNRI) mekanisme kerjanya mengeblok monoamin dengan lebih selektif
daripada antidepresan trisiklik, serta tidak menimbulkan efek yang tidak
ditimbulkan antidepresan trisiklik ( Mann, 2005). Antidepresan golongan SNRI
memiliki aksi ganda dan efikasi yang lebih baik dibandingkan dengan SSRI dan TCA dalam mengatasi remisi pada depresi parah (Sathl, 2002).
Obat yang termasuk golongan SNRI yaitu Venlafaxine dan Duloxetine.
Efek samping yang biasa muncul pada obat Venlafaxine yaitu mual, disfungsi
sexual. Efek samping yang muncul dari Duloxetine yaitu mual, mulut kering,
konstipasi, dan insomnia (Teter et al., 2007).
5)
Lithium
Menurut Setiaji
(2012) Lithium adalah obat yang digunakan untuk mengobati gangguan
bipolar. Terdapat dua jenis obat ini, yaitu lithium karbonat dan lithium
sitrat. Obat ini digunakan jika antidepresan tidak cukup kuat untuk
meredakan gejala depresi yang dirasakan. Lithium bisa berubah menjadi
racun jika kadarnya terlalu tinggi di dalam darah. Oleh karena itu, penderita
yang mengonsumsi lithium perlu melakukan tes secara teratur untuk
mengawasi tingkat lithium dalam darah. Konsumsi garam juga perlu
dikurangi karena dapat memicu efek keracunan akibat lithium.
b. Psikoterapi
Psikoterapi
adalah terapi pengembangan yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi
keluhan-keluhan
serta mencegah kambuhnya gangguan pola perilaku maladatif (Depkes, 2007).
Psikoterapi merupakan terapi pilihan utama utuk pasien dengan menderita depresi
ringan atau sedang (Teter et al., 2007). Clark,dkk (2013) menambahkan bahwa psikoterapi merupakan terapi yang
ditujukan untuk individu atau kelompok yang mengalami gejala depresi ringan.
Dalam psikoterapi diperlukan adanya obat antridepresan. Biasanya obat
antidepresan di gunakan untuk penderita depresi yang mengalami insomnia parah.
Psikoterapi tidak disarankan untuk mengobati depresi berat atau depresi
psikotik.
Dalam psikoterapi, penderita depresi diajak bicara sehingga yang
bersangkutan bisa lebih memahami penyakitnya, memahami pola pikir dan
kepercayaan yang salah yang menyebabkannya menderita depresi, dan mempelajari
teknik pemecahan masalah sehingga suatu masalah tidak akan membuatnya depresi.
c. Electroconvulsive therapy (ECT)
Electroconvulsive
Therapy adalah terapi dengan mengalirkan arus listrik ke otak (Depkes, 2007).
Terapi menggunakan ECT biasa digunakan untuk kasus depresi berat yang mempunyai
resiko untuk bunuh diri (Depkes, 2007). ECT juga diindikasikan untuk pasien
depresi yang tidak merespon terhadap obat antidepresan (Lisanby, 2007). Wisease (2011)
menambahkan bahwa terapi electroconvulsive
(ECT) direkomendasikan sebagai pengobatan pertama untuk depresi psikotik pada
lansia dengan tingkat pemulihan lebih dari 80% dengan respon lebih cepat dan
lebih lengkap dikupas untuk pengobatan. ECT juga dianggap sebagai pengobatan
alternatif untuk depresi berat, khususnya di kasus pasien yang telah gagal
menanggapi dua antidepresan dan memiliki keinginan untuk bunuh diri atau jika
pasien tidak mampu mengambil obat karena masalah medis. ECT merupakan terapi
yang relatif aman, ditoleransi dengan baik, dan pengobatan yang efektif untuk
depresi.
d. Di rawat di rumah sakit
Penderita depresi kadang perlu dirawat di rumah
sakit, utamanya bila si penderita tidak bisa merawat dirinya sendiri atau
membahayakan diri sendiri atau orang-orang dekatnya.
e. Terapi kognitif
Menghentikan
depresi, maka
orang tersebut perlu menghentikan pola pikir negatif dan
menggantikannya dengan pola pikir yang positif, yang lebih tepat atau benar.
Dengan melakukan hal tersebut, maka depresi bisa dicegah, bahkan sebelum
depresi itu mulai. Ada beberapa pola pikir yang sering kita temui pada
penderita depresi. Agar kesehatan jiwa mereka bisa pulih dengan baik, pola
pikir negatif tersebut secara pelan - pelan perlu dihilangkan dan diganti
dengan yang lebih sesuai dengan realita. Ada beberapa pola pikir negatif,
yaitu, all or nothing thinking (pola pikir: semua atau tidak sama
sekali), pola pikir over-generalization, pola pikir mental filter, pola
pikir disqualifying positive, pola pikir loncat ke kesimpulan, pola
pikir magnification dan minimization, pola pikit emotional reasoning,
pola pikir: harus dan tidak boleh, pola pikir: memberi cap atau label, dan pola
pikir: personalization.
f. Terapi aktivasi perilaku
Terapi aktivasi perilaku dapat didefinisikan sebagai proses
penyembuhan yang menekankan pada upaya yang tertata untuk meningkatkan perilaku
yang terlihat yang akan membuatnya kondisi perasaan, pikiran, dan keseluruhan
kualitas hidupnya meningkat. Terapi Aktivasi Perilaku meningkatkan perilaku
sehat melalui pengalaman positif dan perbaikan suasana hati serta pikiran untuk
mengurangi perilaku depresi. Dalam Scottish Intercollegiate Guidelines Network
(2010) Seorang terapis akan mencoba untuk membantu dalam menemukan aktivitas
yang akan dinikmati oleh pasien atau
mungkin telah berhenti melakukan. Mereka
akan membantu pasien untuk mencari tahu mengapa pasien berhenti melakukan hal-hal
yang sebelumnya pasien nikmati. Langkah-langkah yang digunakan dalam aktivitas
perilaku dengan memonitor suasana hati dan kegiatan harian
dengan membuat catatan kegiatan dan suasana hati selama seminggu, dan membuat rencana kegiatan
yang bertujuan untuk memutus rantai depresi.
g. Terapi kognitif perilaku
Pemikiran negatif sering menghasilkan kecemasan dan perasaan tidak
aman. Seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah terperangkap dalam pola
pikir yang salah. Terapi ini mengkombinasikan aspek kognitif dan aspek perilaku
untuk mengenali bahwa pola pikir tertentu yang sifatnya negatif dapat membuat
individu salah memaknai situasi dan memunculkan emosi atau perasaan yang
negatif pula, yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkah laku seseorang (Arjadi,
2012). Terapi ini membantu para lansia untuk dapat menerima keadaan yang sedang
mereka hadapi sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari dan harus
dihadapi secara positif oleh para lansia.
Penelitian yang dilakukan
di depok menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku dapat menurunkan tingkat
depresi pada lansia (Djaali & Sappaile, 2013). Dalam Medication
Guide for Treating Depression (n.d) menungkapkan bahwa kognitif perilaku mencoba untuk membantu pasien mengenali pikiran
negatif mereka dan membantu mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang
dapat mengurangi gejala mereka. Kognitif perilaku menggunakan teknik seperti
pemecahan masalah, mengelola emosi negatif, dan meningkatkan efektivitas
sosial.
h. Terapi humor
Sudah
lama professional medis mengakui bahwa pasien yang mempertahankan sikap mental
yang positif dan berbagai tawa, merespons lebih baik terhadap pengobatan.
Respons psikologis
dari tertawa termasuk meningkatkan pernapasan, sirkulasi, sekresi hormone
dan enzim pencernaan dan peningkatan tekanan darah.
i. Hidroterapi dan hidrotermal
Hidroterapi
adalah penggunaan air untuk pengobatan penyakit terapi. Hidrotermal adalah
penggunaan efek temperature air misalnya mandi air panas, sauna, dan
lain-lain. Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis dan atau termal
dari air. Tubuh bereaksi pada stimulus panas dan dingin. Saraf mengantarkan
rangsangan yang dirasakan kulit kedalam tubuh, dimana merangsang sistem
imun, memengaruhi hormon stres, meningkatkan aliran tubuh,
dan mengurangi
rasa sakit.
j. Metode lain
Beberapa metode pengobatan lain, namun jarang diterapkan adalah
stimulasi saraf vagus (nerve vagus stimulation). Sebuah alat pacu
listrik ditanam di leher sehingga bisa mengeluarkan aliran listrik yang memacu
saraf vagus. Pengobatan ini dilakukan pada penderita depresi kronis yang tidak
mempan dengan obat - obatan. Pendekatan lain yang juga jarang dilakukan adalah
dengan transcranial magnetic stimulation. Kabel - kabel dipasang di
kepala bagian depan untuk mengantarkan aliran magnetic ke otak.
Pengobatan ini juga hanya diberikan pada penderita depresi kronis yang tidak
mempan obat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar