Minggu, 09 Oktober 2016

DEPRESI

Depresi merupakan gangguan psikologis yang mempengaruhi emosi seseorang berupa suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Seseorang yang mengalami depresi disebabkan oleh beberapa faktor. Hal ini akan dijelaskan lebih rinci melalui pengertian depresi, ciri-ciri depresi, jenis-jenis depresi faktor-faktor yang mempengaruhi, aspek-aspek depresi, gejala depresi dan penanganan depresi.

1.   Pengertian Depresi

Menurut Lux and Kendler (2010) depresi adalah suatu sindrom yang ditandai oleh hilangnya minat yang mempengaruhi perubahan kepribadian dan karakter seseorang. Selanjutnya, menurut Kaplan (dalam Hayuningtyas, 2009) pengertian depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tidak berdaya, dan bunuh diri.
Menurut Keliat (dalam Zakiyah, 2014) depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental seseorang yang ditandai dengan pikiran negatif pada diri sendiri. Kondisi emosional seseorang yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur,

kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, Neale, & Kring, 2010).
Menurut WHO (2012) Depresi adalah gangguan mental yang umum bahwa menyajikan dengan perasaan depresi, kehilangan minat atau kesenangan , penurunan energi, perasaan bersalah atau rendah diri, susah tidur atau nafsu makan, dan  miskin  konsentrasi. Selain itu , depresi sering datang dengan gejala kecemasan. Selanjutnya, menurut Radloff (dalam Putri, 2012) depresi merupakan perasaan atau suasana hati yang dirasakan negatif seperti perasaan sedih, tertekan, kesepian, menangis, merasa terganggu, berkurang atau bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur, dan sulit memulai sesuatu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa depresi adalah satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang mempengaruhi perubahan pada kepribadian dan karakter seseorang ditandai dengan pikiran negatif seperti perasaan sedih, tertekan, kesepian, menangis, merasa terganggu, berkurang atau bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur dan sulit memulai sesuatu.

2.   Ciri-ciri Kepribadian Penderita Depresi

Antara orang yang normal dan orang yang mengalami depresi dapat dibedakan satu sama lain melalui tingkah laku mereka atau ciri-ciri kepribadiannya. Ciri-ciri penderita depresi (dalam Nurcholis dkk, 2013), adalah sebagai berikut:
a.    Mood dalam keadaan tertekan, berbeban berat, meras sedih yang berkepanjangan, dan adanya perasaan kosong atau hampa.
b.   Minat untuk melakukan aktivitas menjadi kurang dan tidak ada semangat dalam melakukan apapun. Padahal biasanya minat beraktivitas sangat tinggi dan bersemangat.
c.    Berat badan bertambah atau menurun sebanyak 5% dari berat badan semula
d.   Mengalami kesulitan tidur atau insomnia bahkan mengalami kelebihan tidur
e.    Kondisi tubuh jadi cepat merasa lelah dan merasa tidak berenergi
f.    Adanya perasaan menjadi orang yang tidak berguna dan tidak berharga
g.   Cenderung untuk meremehkan diri sendiri dan putus asa
h.   Sulit berkonsentrasi dan menjadi lamban dalam berfikir
i.     Muncul keinginan untuk bunuh diri
Sedangkan, menurut Hawari (2011) mengungkapkan bahwa seseorang yang sehat jiwanya bisa saja jatuh dalam depresi apabila yang bersangkutan tidak mampu menanggulangi stressor psikososial yang dia alami. Seseorang yang lebih rentan ini, biasanya mempunyai ciri-ciri kepribadian sebagai berikut :
a.    Pemurung, sukar untuk merasa senang, dan sukar untuk merasa bahagia
b.   Pesimis dalam menghadapi masa depan
c.    Memandang dirinya rendah
d.   Mudah merasa bersalah dan berdosa
e.    Mudah mengalah
f.    Enggan berbicara
g.   Mudah merasa haru, sedih, dan mudah menangis
h.   Gerakan lamban, lemah, lesu dan kurang berenergi
i.     Sering mengeluh sakit
j.     Mudah tegang, gelisah, cemas, khawatir, mudah takut, dan mudah tersinggung
k.   Tidak ada rasa percaya diri
l.     Merasa tidak mampu dan merasa tidak berguna
m. Merasa selalu gagal dalam berusaha, pekerjaan, dan pemberlajaran
n.   Suka menarik diri, pemalu, dan pendiam
o.   Lebih suka membatasi pergaulan social
p.   Lebih suka menjaga jarak, menghindari keterlibatan dengan orang lain
q.   Suka mencela dan mengkritik
Dari beberapa ciri-ciri yang telah disebutkan di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa seseorang yang mengalami gangguan depresi memiliki kebiasaan yang berbeda dengan seseorang yang tidak mengalami depresi, diantaranya minat untuk melakukan aktivitas menjadi kurang atau bahkan tidak ada semangat dalam melakukan apapun, pola tidur berubah karena bisa juga menderita kesulitan tidur atau insomnia, bahkan sebaliknya yaitu merasa kebanyakan tidur, sulit berkonsentrasi dan menjadi lamban dalam berpikir, menjadi pemurung, sukar untuk merasa senang, dan sukar untuk merasa bahagia dan selalu beranggapan atau memandang dirinya rendah.

3.   Jenis-Jenis Depresi

Menurut Maslim (2003) tingkatan depresi dibagi menjadi tiga tingkatan depresi yaitu:
a.    Depresi Ringan
b.   Depresi Sedang
c.    Depresi Berat
Menurut Kaplan dkk (2010) depresi terbagi atas 2 jenis yaitu depresi ringan dan depresi berat. Masing-masing depresi memiliki ciri-ciri seperti :
a.    Depresi Ringan
b.   Depresi Berat
Gangguan depresi berat ditandai dengan adanya beberapa kriteria gangguan yaitu:
1)  Mood terdepresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukkan oleh laporan subjektif (misalnya merasa sedih atau kosong).
2)  Hilangnya minat dan kesenangan secara jelas pada semua atau hampir semua aktivitas sepanjang hari
3)  Penurunan berat badan yang bermakna jika tidak melakukan diet atau penambahan berat badan (misalnya, perubahan berat badan lebih dari 5% dalam satu bulan) atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari.
4)  Insomnia atau hipersomnia setiap hari
5)  Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari
6)  Kelelahan atau hilanganya energi hamper setiap hari
7)  Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat.
8)  Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian, atau tidak dapat mengambil keputusan
9)  Pikiran akan kematian yang rekuren (bukan hanya pikiran mati), bunuh diri yang rekuren tanpa rencana spesifik, atau usaha bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
Selain itu menurut Setiaji (2012) jenis-jenis depresi dibagi menjadi 9 tingkatan dengan masing-masing jenis depresi memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya :
a.    Depresi Unipolar
Depresi Unipolar ditandai dengan perubahan perasaan dari normal (rata-rata), suatu alam perasaan dasar, ke alam perasaan depresi.
b.   Depresi Bipolar
Depresi Bipolar adalah keadaan suasana hati yang berubah-ubah secara cepat. Acap kali perubahan suasana hati melampaui batas suasana hati (mood) yang normal. Gangguan depresi bipolar, sering disebut depresi manik menurut Sonne dan Brady (dalam Yuniastuti, 2013) adalah gangguan yang melibatkan suasana hati yang ekstrim (berupa euphoria). Menurut Fisher (dalam Yuniastuti, 2013) gangguan tersebut dapat dipicu oleh stess dan tekanan dari kehidupan sehari-hari, peristiwa traumatis, trauma fisik atau cedera kepala. Menurut Sonne dan Brady (dalam Yuniastuti, 2013) Gangguan bipolar merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, yang sering kali tidak terdiagnosis dan tidak diobati untuk jangka panjang. Berikut ciri-ciri seorang individu yang mengalami depresi bipolar, diantaranya :
1)  Ekstrem mania ringan, meliputi: kegembiraan yang berlebihan, tidak kenal lelah, energi yang berlebihan, percaya diri yang berlebihan, tidak takut bahaya, tidak memerlukan tidur banyak (cukup 2-3 jam sehari), berpindah-pindah aktivitas, memiliki rencana besar, tidak meyukai detail, reaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil, perilaku impulsif, dan tidak memperhitungkan risiko bahaya tindakannya
2)  Ekstrem mania berat, meliputi: berteriak-teriak, berjalan bolak-balik, memukul-mukul tembok, marah-marah, waham, misalnya tentang pencapaian prestasi atau kekayaan
3)  Depresi, meliputi: mengalami kelesuan dan mengalami kesedihan
Seseorang yang mengalami depresi bipolar tidak konsisten dalam berperilaku, contoh tiba-tiba seorang individu berbicara dengan sangat menyenangkan, penuh semangat, gembira, optimis dan memiliki gagasan yang cemerlang, namun dalam sekejap ia bisa berubah murung, putus asa, letih, lesu dan berbeban berat.
c.    Depresi Endogen
Depresi Endogen adalah depresi yang datang dari dalam. Penyebabnya diduga lebih banyak karena ketidakseimbangan neurokimia daripada disebabkan oleh konflik psikologis atau stres lingkungan. Ketidakseimbangan Neurokimia adalah Faktor Genetik.
d.   Depresi Eksogen
Depresi Eksogen lebih dikenal dengan sebutan depresi reaktif atau depresi situasional. Depresi Eksogen adalah depresi yang datang karena stress lingkungan. Penyebabnya sering karena kehilangan sesuatu, misalnya kehilangan orang yang dikasihi atau mengalami kesulitan dalam suatu pekerjaan
e.    Depresi Spiritual
Faktor yang menyebabkan timbulnya depresi spiritual adalah karena adanya rasa bersalah, kemarahan yang dipendam dan timbulnya perspektif yang salah.
f.    Depresi Psikologi
Depresi psikologi dapat terjadi pada seseorang yang sejak kecil belajar pola-pola reaksi yang menyebabkan depresi jika mengalami kesulitan atau sebagai anak kecil ia mendapatkan ganjaran yang tidak sesuai. Depresi psikologi ini juga dapat terjadi jika ada gangguan pola pikir, ketika kehilangan dan ketika rasa bersalah itu muncul.
g.   Depresi Fisik
Depresi fisik terjadi apabila seseorang tidak dapat mengatasi rasa bersalahnya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat namun lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri. Faktor timbulnya depresi fisik ini adalah adanya ketidakseimbangan elektrolit, endokrin dan adanya faktor kelelahan.
h.   Depresi Mayor
Depresi mayor (major depression), yakni gangguan suasana hati (mood) atau gangguan mental yang terjadi karena situasi atau peristiwa traumatis. Gangguan depresi mayor terjadi tanpa ada riwayat episode manik atau hipomanik amami (Nevid dkk, 2003). Depresi mayor meliputi serangkaian gejala ketidakmampuan atau ketidakberdayaan. Depresi Mayor ditandai dengan ciri-ciri seperti berikut:
1)  Adanya kesulitan berkonsentrasi
2)  Adanya kesulitan dalam mengambil keputusan dan sering gelisah
3)  Mengalami kekecewaan yang mendalam (dysphoric-mood)
4)  Adanya fikiran tentang kematian atau ingin bunuh diri
5)  Merasa tidak berharga (bernilai) sehingga membuat seseorang menjadi murung dan bersedih
6)  Kehilangan minat untuk mengerjakan aktivitas sekalipun aktivitas tersebut menyenangkan
7)  Mengalami gangguan psikomotorik, misalnya reaksi motorik menjadi lamban, fisik terasa lemah dan terasa sakit
8)  Mengalami gangguan tidur, misalnya sulit tidur (insomnia) atau sebaliknya, lebih banyak tidur
9)  Kehilangan tenaga, misalnya mengalami kelesuan, kelelahan, keletihan dan mudah sekali kehilangan energi
i.     Depresi Kronis (dysthymia).
Depresi Kronis (dysthymia) adalah gangguan suasana hati (mood disorder) yang digolongkan sebagai depresi ringan yang terjadi selama bertahun-tahun. Dysthymia berasal dari kata, dys = gangguan (disorder) dan thymia = pikiran (mind). Seseorang yang mengalami depresi kronis tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja, bersosialisasi dan kegiatan lainnya meskipun dalam semangat yang rendah. Depresi kronis sulit diidentifikasi karena seseorang yang mengalami depresi kronis tidak tahu atau tidak merasa bahwa ia sedang mengalami depresi kronis. Adapun ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami depresi kronis meliputi : kelelahan, pesimis, sulit berkonsentrasi, perasaan bersalah yang berlebihan, produktivitas menurun, mudah marah, mudah tersinggung, lebih sensitif, dan mudah tersinggung. Jika ditemukan sekurang-kurangnya tiga gejala dari ciri-ciri tersebut maka dapat disimpulkan bahwa orang tersebut tengah mengalami depresi kronis. Untuk mengurangi depresi kronis, seorang individu dapat menjalankan konseling, mengubah pola hidup dan melakukan pengaturan nutrisi dalam tubuh.
Dari beberapa jenis depresi yang telah diungkapkan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada umumnya depresi terbagi menjadi 3 jenis yaitu depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat.

4.   Faktor yang mempengaruhi Depresi

Menurut Kaplan (dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013) bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi 7, diantaranya :
a.    Faktor Biologi
Genetik,transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigot dibandingkan dizigot walaupun diasuh secara terpisah. Neurotransmiter, terjadinya penurunan katekolamin otak, peningkatan asetilkolin, dan penurunan serotonin dapat merupakan faktor penyebab depresi. Endokrin, gangguan hormone seperti hipotiroidisme atau hipertiroidisme, terapi estrogen, eksogen, dan paskapartum, ada kaitannya dengan depresi.
b.   Faktor Genetik
Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Resiko untuk terjadinya depresi meningkat antara  20 – 40 % untuk keluarga keturunan pertama. Dapat dikatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi psikotik dan depresi nonpsikotik terdapat insiden yang tinggi dari gejala depresi ini. Memiliki satu orangtua yang mengalami depresi, meningkatkan resiko dua kali pada keturunannya. Resiko itu meningkat menjadi empat kali bila kedua orangtuanya sama-sama mengalami depresi.
c.    Faktor Lingkungan
Menurut Harun (dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013 lingkungan juga memainkan peran yang kuat dalam menyebabkan depresi. Faktor-faktor lingkungan, seperti stress, kehilangan, atau mengubah sering memicu episode depresi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi yaitu mulai 9 faktor genetik sampai dengan faktor nongenetik. Menurut Nurmiati (dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013) faktor genetik meliputi ketidakseimbangan biogenik, gangguan neuroendokrin dan perubahan neurofisiologi, serta faktor nongenetik atau psikologik seperti kehilangan objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi kognitif, ketidakberdayaan yang dipelajari dan faktor-faktor lain yang diduga berperan dalam terjadinya depresi.
d.   Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010).
e.    Faktor Kepribadian
Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan, 2010).
f.    Faktor Psikodinamika
Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan 10 objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satusatunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
g.   Faktor Kognitif
Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi (Kaplan, 2010).
Dari pemaparan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa depresi bisa terjadi karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor biologi, faktor genetik, faktor lingkungan, faktor psikososial, faktor kepribadian, faktor psikodinamika, dan  faktor kognitif.

5.   Aspek-Aspek Depresi

Menurut Beck (dalam Nurcholis dkk, 2013) mengungkapkan bahwa depresi di bagi menjadi 4 aspek, antara lain :
a.    Aspek yang dimanifestasikan secara emosional
Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood); perasaan ini menggambarkan keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu. Keadaan ini bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang terus-menerus.
b.   Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif
1)  Rendahnya evaluasi diri: hal ini tampak dari bagaimana penderita memandang dirinya. Biasanya mereka menganggap rendah ciri-ciri yang sebenarnya penting, seperti kemampuan prestasi, intelegensi, kesehatan, kekuatan, daya tarik, popularitas, dan sumber keuangannya.
2)  Citra tubuh yang terdistorsi: hal ini lebih sering terjadi pada wanita. Mereka merasa dirinya jelek dan tidak menarik.
3)  Harapan yang negatif: penderita mengharapkan hal-hal yang terburuk dan menolak usaha terapi yang dilakukan.
4)  Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri: hal ini muncul dalam bentuk anggapan penderita bahwa dirinya sebagai penyebab segala kesalahan dan cenderung mengkritik dirinya untuk segala kekurangannya.
5)  Keragu-raguan dalam mengambil keputusan: ini merupakan karakteristik depresi yang biasanya menjengkelkan orang lain ataupun diri penderita. Penderita sulit untuk mengambil keputusan, memilih alternatif yang ada, dan mengubah keputusan.
c.    Aspek yang dimanifestasikan secara motivasional
Pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha,dorongan, dan keinginan. Ciri utamanya adalah sifat regresif motivasi penderita,penderita tampaknya menarik diri dari aktifitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak atau adanya energi yang kuat.
d.   Aspek depresi yang muncul sebagai gangguan fisik
Kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang sangat. Individu mengalami depresi jika individu mengalami gajala-gejala rasa, seperti sedih, pesimis, membenci diri sendiri, kehilangan energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu makan, berat badan menurun, insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin menghindari orang lain.
Sedangkan menurut Nevid dkk (dalam Nurcholis dkk, 2013) depresi terdiri dari beberapa aspek, antara lain:        

                               
a.    Perubahan pada kondisi emosional
Perubahan kondisi emosional terjadi pada kondisi mood (periode terus menerus dari perasaan terpuruk, depresi, sedih atau muram). Penuh dengan air mata atau menangis serta meningkatnya iritabilitas (mudah tersinggung), dan kegelisahan atau kehilangan kesadaran.
b.   Perubahan dalam motivasi.
Perasaan tidak termotivasi atau memiliki kesulitan untuk memulai (kegiatan) di pagi hari atau bahkan lebih sulit bangun dari tempat tidur. Menurunnya tingkat partisipasi sosial atau minat pada aktivitas sosial. Kehilangan kenikmatan atau minat dalam aktivitas yang menyenangkan. Menurunnya minat pada seks serta gagal untuk merespon pujian atau reward.
c.    Perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik.
Gejala-gejala motorik yang dominan dan penting dalam depresi adalah retardasi motor yakni tingkah laku motorik yang berkurang atau lambat, bergerak atau berbicara dengan lebih perlahan dari biasanya. Perubahan dalam kebiasaan tidur (tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya, dan merasa kesulitan untuk tidur kembali). Perubahan dalam selera makan (makan terlalu banyak atau sedikit). Perubahan dalam berat badan (bertambah atau kehilangan berat badan). Beraktivitas kurang efektif atau energik dari pada biasanya, orang-orang yang menderita depresi sering duduk dengan sikap yang terkulai dan tatapan kosong tanpa ekspresi.


d.   Perubahan kognitif
Kesulitan berkonsentrasi atau berfikir jernih. Berfikir negatif mengenai diri sendiri dan masa depan. Perasaan bersalah atau menyesal mengenai kesalahan dimasa lalu. Kurangnnya self-esteem atau merasa tidak kuat. Berpikir kematian atau bunuh diri.
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek depresi adalah gejala depresi yang dapat dimanifestasikan secara emosional, kognitif, motivasional, fisik dan pencernaan, raut wajah sedih, retardasi, dan agitasi. Gejala yang dimanifestasikan secara emosional terdiri dari perasaan kesal atau patah hati, perasaan negatif terhadap dirinya, hilangnya rasa puas, hilangnya keterlibatan emosional,kecenderungan untuk menangis diluar kemauan, dan hilangnya respon terhadap humor. Sedangkan gejala yang dimanifestasikan secara kognitif meliputi sikap menyimpang penderita, baik terhadap diri, pengalaman, dan masa depannya. Gejala yang dimanifestasikan secara motivasional meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan keinginan, sedangkan gejala yang muncul sebagai gangguan fisik apabila terjadi gangguan saraf otonom dan hipotalamus.

6.   Gejala Depresi

Gangguan depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman pada PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) yang merujuk pada ICD 10 (International ClassificationDiagnostic 10). Menurut Maslim (dalam dalam Hayuningtyas, Supriyono & Lestari 2013) gangguan depresi dibedakan dalam depresi berat, sedang, dan ringan sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan seseorang. Adapun gejala-gejala depresi meliputi :
a.    Gejala Utama
Seseorang yang mengalami depresi memiliki gejala tertentu. Berikut adalah gejala utama seseorang mengalami depresi meliputi: perasaan depresif, hilangnya minat dan semangat, mudah lelah dan tenaga hilang. Adapula gejala lain yang mengindikasikan seseorang mengalami depresi, antara lain: konsentrasi dan perhatian menurun, harga diri dan kepercayaan diri menurun, perasaan bersalah dan tidak berguna, pesimis terhadap masa depan, gagasan membahayakan diri atau bunuh diri, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan menurunnya libido
b.   Gejala Fisiologis
Berikut gejala fisiologis yang kerap ditemui pada seseorang yang mengalami gangguan depresi meliputi: mengalami kesulitan menelan makanan, tidak ada selera makan atau selera makan hilang (anorexia) menjadi kurus atau bisa menjadi bertambah nafsu makan dan mengalami kegemukan, tidak ada keinginan mengurus diri, malas mandi, bersolek diri, merias diri atau merapikan diri, agresivitas, gangguan fisik yang tidak jelas penyebabnya, seperti sakit kepala atau sakit punggung., gangguan tidur, kelakuan aneh saat tidur, berpikir pelan, berbicara pelan dan lemah.
c.    Gejala Psikologis
Gejala depresi berbeda-beda pada berbagai orang. Berikut ini adalah beberapa gejala psikologis yang muncul akibat depresi meliputi: iritabilitas, kehilangan rasa percaya diri, sensitif, merasa diri tidak berguna, perasaan bersalah, perasaan terbebani, ansietas, letargi, dan tindakan atau pemikiran bunuh diri
d.   Gejala Sosial.
Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan atau aktivitas rutin lainnya. Lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif. Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok, dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.
Dari beberapa gejala depresi tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa gejala umum depresi meliputi hilangnya minat dan semangat dan mudah lelah atau tenaga hilang. Sedangkan gejala depresi lainnya meliputi gejala fisiologis, psikologis, dan sosial.

7.   Pengobatan Depresi

Terapi berasal dari kata yunani yang berarti treatment, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perawatan atau pengobatan atau penanganan. Dalam dunia medis kata terapi dijabarkan sebagai tindakan remediasi kesehatan yang mengacu pada diagnosis (pemeriksaan). Terapi juga diartikan sebagai usaha untuk memulihkan kondisi tubuh seseorang yang sakit. Menurut Mosby (2001) terapi didefinisikan sebagai tindakan perawatan pemulihan atas penyakit atau cedera ataupun yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi tubuh yang terganggu ke fungsi normalnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan penyakit, pengobatan dan perawatan untuk mengurangi atau menghilangkan kelainan. Bila seseorang menderita depresi, maka diperlukan seorang yang dekat dan yang dipercayai untuk membantunya selama menjalani pemeriksaan dan pengobatan depresi. Kadang seorang penderita depresi perlu mondok di rumah sakit, kadang cukup dengan pengobatan rawat jalan. Beberapa pilihan pengobatan depresi dalam Setiaji (2012) adalah sebagai berikut:
a.    Obat-obatan
Saat ini telah tersedia beberapa macam obat obatan yang efektif dipakai menyembuhkan penderita depresi. Ada beberapa jenis obat anti depresi. Jenis obat anti depresi biasanya dikelompokkan berdasar efeknya terhadap bahan kimia didalam otak yang mengontrol perasaan (mood). Dalam DA’s Office of Women’s Health (OWH) (n.d) mengklasifikasikan obat depresi menjadi :
1)  Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI)
Stefanatou, Kouris, & Lekakis (2010) dan Lichtman dkk (2008) mengungkapkan bahwa Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) dan Venlafaksin adalah antidepresan yang menjadi pilihan karena lebih banyak efek terapi yang diperoleh dibandingkan dengan efek sampingnya. Secara spesifik SSRI berperan dalam peningkatan level serotonin pada reseptor, reduksi aktivasi platelet, dan restorasi variabilitas denyut jantung. Pemberian SSRI harus diperhatikan jika diberikan bersamaan dengan obat antihipertensi, antilipidemia, maupun regulator denyut jantung yang dimetabolisme oleh isoenzim CYP2D6, CYP3A4, CYP1A, dan CYP2C. Penggunaan SSRI harus berdasarkan evaluasi gejala psikiatri. SSRI juga bekerja pada tingkat platelet sehingga memiliki efek antitrombotik dan profibrinolitik. Sampai saat ini penggunaan SSRI pada populasi dengan penyakit kardiovaskular tanpa depresi belum diinvestigasi. Di samping mekanisme bagaimana SSRI dapat meghasilkan efek positif pada penyakit kardiovaskular juga belum dipeajari secara adekuat.
2)  Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOI)
Mono Amin Oxidase Inhibitor adalah suatu enzim komplek yang
terdistribusi didalam tubuh, yang digunakan dalam dekomposisi amin biogenik
(norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan serotonin) (Depkes, 2007).
MAOI bekerja memetabolisme NE dan serotonin untuk mengakhiri kerjanya
dan supaya mudah disekresikan. Dengan dihambatnya MAO, akan terjadi
peningkatan kadar NE dan serotonin di sinap, sehingga akan terjadi
perangsangan SSP (Prayitno, 2008).
Menurut Benkert (dalam Yuniastuti 2013) MAOI memiliki efikasi yang mirip dengan antidepresan trisiklik. MAOI juga dipakai untuk pasien yang tidak merespon terhadap antidepresan trisiklik. Enzim pada MAOI memiliki dua tipe yaitu MAO-A dan MAO-B. Kedua obat hanya akan digunakan apabila obat-obat antidepresan yang lain sudah tidak bisa mengobati depresi (tidak manjur). Moclobomida merupakan suatu obat baru yang menginhibisi MAO – A secara ireversibel, tetapi apabila pada keadaan overdosis selektivitasnya akan hilang. Menurut Tjay & Rahardja (dalam Yuniastuti, 2013) Selegin secara selektif memblokir MAO – B dan dapat digunakan sebagai antidepresan pada dosis yang tinggi dan beresiko efek samping. MAO – B sekarang sudah tidak digunakan lagi sebagai antidepresan. Obat-obat yang tergolong dalam MAOI yaitu Phenelzine, Tranylcypromine, dan Selegiline. Efek samping yang sering muncul yaitu postural hipotensi (efek samping tersebut lebih sering muncul pada pengguna phenelzine dan Tranylcypromine), penambahan berat badan, gangguan sexual (penurunan libido, anorgasmia) (Teter et al., 2007). Menurut Reus (dalam Anwar, 2014) MAOIs sama efektifnya dengan Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial lebih berbahaya.
3)  Tricyclic Antidepressants
Obat ini membantu mengurangi gejala-gejala depresi dengan mekanisme mencegah reuptake dari norephinefrin dan serotonin di sinaps atau dengan cara megubah reseptor-reseptor dari neurotransmitter norephinefrin dan seroonin. Antidepresan trisiklik (TCA) merupakan antidepresan yang mekanisme
kerjanya menghambat pengambilan kembali amin biogenik seperti norepinerin
(NE), Serotonin (5-HT) dan dopamin didalam otak, karena menghambat
ambilan kembali neurotransmitter yang tidak selektif,sehingga menyebabkan
efek samping yang besar (Prayitno, 2008). Antidperesan trisiklik efektif dalam
mengobati depresi tetapi tidak lagi digunakan sebagai obat lini pertama, karena
efek sampingnya dan efek kardiotoksik pada pasien yang overdosis TCA
(Unutzer, 2007). Efek samping yang sering ditimbulkan TCA yaitu efek kolinergik seperti mulut kering, sembelit, penglihatan kabur, pusing, takikardi,
ingatan menurun, dan retensi urin. Obat – obat yang termasuk golongan TCA
antara lain Amitripilin, Clomipramine, Doxepin, Imipramine, Desipiramine,
Nortriptyline (Teter et al., 2007).
4)  Selective Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRI)
Antidepresan golongan Serotonin / Norepinephrin Reuptake Inhibitor
(SNRI) mekanisme kerjanya mengeblok monoamin dengan lebih selektif
daripada antidepresan trisiklik, serta tidak menimbulkan efek yang tidak
ditimbulkan antidepresan trisiklik ( Mann, 2005). Antidepresan golongan SNRI
memiliki aksi ganda dan efikasi yang lebih baik dibandingkan dengan SSRI dan TCA dalam mengatasi remisi pada depresi parah (S
athl, 2002).
Obat yang termasuk golongan SNRI yaitu Venlafaxine dan Duloxetine.
Efek samping yang biasa muncul pada obat Venlafaxine yaitu mual, disfungsi
sexual. Efek samping yang muncul dari Duloxetine yaitu mual, mulut kering,
konstipasi, dan insomnia (Teter et al., 2007).
5)       Lithium
Menurut Setiaji (2012) Lithium adalah obat yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar. Terdapat dua jenis obat ini, yaitu lithium karbonat dan lithium sitrat. Obat ini digunakan jika antidepresan tidak cukup kuat untuk meredakan gejala depresi yang dirasakan. Lithium bisa berubah menjadi racun jika kadarnya terlalu tinggi di dalam darah. Oleh karena itu, penderita yang mengonsumsi lithium perlu melakukan tes secara teratur untuk mengawasi tingkat lithium dalam darah. Konsumsi garam juga perlu dikurangi karena dapat memicu efek keracunan akibat lithium.

b. Psikoterapi
Psikoterapi adalah terapi pengembangan yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan-keluhan serta mencegah kambuhnya gangguan pola perilaku maladatif (Depkes, 2007). Psikoterapi merupakan terapi pilihan utama utuk pasien dengan menderita depresi ringan atau sedang (Teter et al., 2007). Clark,dkk (2013) menambahkan bahwa psikoterapi merupakan terapi yang ditujukan untuk individu atau kelompok yang mengalami gejala depresi ringan. Dalam psikoterapi diperlukan adanya obat antridepresan. Biasanya obat antidepresan di gunakan untuk penderita depresi yang mengalami insomnia parah. Psikoterapi tidak disarankan untuk mengobati depresi berat atau depresi psikotik.
Dalam psikoterapi, penderita depresi diajak bicara sehingga yang bersangkutan bisa lebih memahami penyakitnya, memahami pola pikir dan kepercayaan yang salah yang menyebabkannya menderita depresi, dan mempelajari teknik pemecahan masalah sehingga suatu masalah tidak akan membuatnya depresi.
c. Electroconvulsive therapy (ECT)
Electroconvulsive Therapy adalah terapi dengan mengalirkan arus listrik ke otak (Depkes, 2007). Terapi menggunakan ECT biasa digunakan untuk kasus depresi berat yang mempunyai resiko untuk bunuh diri (Depkes, 2007). ECT juga diindikasikan untuk pasien depresi yang tidak merespon terhadap obat antidepresan (Lisanby, 2007). Wisease (2011) menambahkan bahwa terapi electroconvulsive (ECT) direkomendasikan sebagai pengobatan pertama untuk depresi psikotik pada lansia dengan tingkat pemulihan lebih dari 80% dengan respon lebih cepat dan lebih lengkap dikupas untuk pengobatan. ECT juga dianggap sebagai pengobatan alternatif untuk depresi berat, khususnya di kasus pasien yang telah gagal menanggapi dua antidepresan dan memiliki keinginan untuk bunuh diri atau jika pasien tidak mampu mengambil obat karena masalah medis. ECT merupakan terapi yang relatif aman, ditoleransi dengan baik, dan pengobatan yang efektif untuk depresi. 
d. Di rawat di rumah sakit
Penderita depresi kadang perlu dirawat di rumah sakit, utamanya bila si penderita tidak bisa merawat dirinya sendiri atau membahayakan diri sendiri atau orang-orang dekatnya. 
e. Terapi kognitif
Menghentikan depresi, maka orang tersebut perlu menghentikan pola pikir negatif dan menggantikannya dengan pola pikir yang positif, yang lebih tepat atau benar. Dengan melakukan hal tersebut, maka depresi bisa dicegah, bahkan sebelum depresi itu mulai. Ada beberapa pola pikir yang sering kita temui pada penderita depresi. Agar kesehatan jiwa mereka bisa pulih dengan baik, pola pikir negatif tersebut secara pelan - pelan perlu dihilangkan dan diganti dengan yang lebih sesuai dengan realita. Ada beberapa pola pikir negatif, yaitu, all or nothing thinking (pola pikir: semua atau tidak sama sekali), pola pikir over-generalization, pola pikir mental filter, pola pikir disqualifying positive, pola pikir loncat ke kesimpulan, pola pikir magnification dan minimization, pola pikit emotional reasoning, pola pikir: harus dan tidak boleh, pola pikir: memberi cap atau label, dan pola pikir: personalization.
f.  Terapi aktivasi perilaku
Terapi aktivasi perilaku dapat didefinisikan sebagai proses penyembuhan yang menekankan pada upaya yang tertata untuk meningkatkan perilaku yang terlihat yang akan membuatnya kondisi perasaan, pikiran, dan keseluruhan kualitas hidupnya meningkat. Terapi Aktivasi Perilaku meningkatkan perilaku sehat melalui pengalaman positif dan perbaikan suasana hati serta pikiran untuk mengurangi perilaku depresi. Dalam Scottish Intercollegiate Guidelines Network (2010) Seorang terapis akan mencoba untuk membantu dalam menemukan aktivitas yang akan  dinikmati oleh pasien atau mungkin telah berhenti melakukan.  Mereka akan membantu pasien untuk mencari tahu mengapa pasien berhenti melakukan hal-hal yang sebelumnya pasien nikmati. Langkah-langkah yang digunakan dalam aktivitas perilaku dengan memonitor suasana hati dan kegiatan harian dengan membuat catatan kegiatan dan suasana hati  selama seminggu, dan membuat rencana kegiatan yang bertujuan untuk memutus rantai depresi. 
g. Terapi kognitif perilaku
Pemikiran negatif sering menghasilkan kecemasan dan perasaan tidak aman. Seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah terperangkap dalam pola pikir yang salah. Terapi ini mengkombinasikan aspek kognitif dan aspek perilaku untuk mengenali bahwa pola pikir tertentu yang sifatnya negatif dapat membuat individu salah memaknai situasi dan memunculkan emosi atau perasaan yang negatif pula, yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkah laku seseorang (Arjadi, 2012). Terapi ini membantu para lansia untuk dapat menerima keadaan yang sedang mereka hadapi sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari dan harus dihadapi secara positif oleh para lansia. Penelitian yang dilakukan di depok menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia (Djaali & Sappaile, 2013). Dalam Medication Guide for Treating Depression (n.d) menungkapkan bahwa kognitif perilaku mencoba untuk membantu pasien mengenali pikiran negatif mereka dan membantu mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat mengurangi gejala mereka. Kognitif perilaku menggunakan teknik seperti pemecahan masalah, mengelola emosi negatif, dan meningkatkan efektivitas sosial.
h. Terapi humor
Sudah lama professional medis mengakui bahwa pasien yang mempertahankan sikap mental yang positif dan berbagai tawa, merespons lebih baik terhadap pengobatan. Respons psikologis dari tertawa termasuk meningkatkan pernapasan, sirkulasi, sekresi hormone dan enzim pencernaan dan peningkatan tekanan darah.
i. Hidroterapi dan hidrotermal
Hidroterapi adalah penggunaan air untuk pengobatan penyakit terapi. Hidrotermal adalah penggunaan efek temperature air misalnya mandi air panas, sauna, dan lain-lain. Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis dan atau termal dari air. Tubuh bereaksi pada stimulus panas dan dingin. Saraf mengantarkan rangsangan yang dirasakan kulit kedalam tubuh, dimana merangsang sistem imun, memengaruhi hormon stres, meningkatkan aliran tubuh, dan mengurangi rasa sakit.
j. Metode lain
Beberapa metode pengobatan lain, namun jarang diterapkan adalah stimulasi saraf vagus (nerve vagus stimulation). Sebuah alat pacu listrik ditanam di leher sehingga bisa mengeluarkan aliran listrik yang memacu saraf vagus. Pengobatan ini dilakukan pada penderita depresi kronis yang tidak mempan dengan obat - obatan. Pendekatan lain yang juga jarang dilakukan adalah dengan transcranial magnetic stimulation. Kabel - kabel dipasang di kepala bagian depan untuk mengantarkan aliran magnetic ke otak. Pengobatan ini juga hanya diberikan pada penderita depresi kronis yang tidak mempan obat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar